Rabu, 26 Januari 2011

AKU TAK MAU MENIDURINYA! TUHAN TAK MUNGKIN MENGAMPUNIKU!!

Diposting oleh re di 07.12
Pintu kamar hotel itu terbuka, “malam om!” sapa seorang wanita cantik, usian 20-an, bertubuh semampai, mukanya oval, berkulit putih dan bulu matanya lentik -saya tahu itu bulu mata tambahan alias palsu. Senyumnya menghiasi bibirnya yang tipis berwarna merah muda, nampak mengkilap dengan sapuan lips gloss-nya. Ah ada apa gerangan?
“Malam” jawabku. Malam itu aku menginap di hotel sebagai bagian dari jamuan dari kolega bisnisku.
“kita langsung aja ya om!” ucap wanita itu sambil membuka bajunya, telihat bra berwarna krem membungkus keindahan si “buah’ perhatian kaum lelaki.
“Oh tidak usah mbak! pakai lagi bajunya!” larangku sambil arus darahku seperti listrik kurang spanning.
“Silakan keluar kamar, mari…” ajaku sambil membuka pintu. Wajahnya sontak merengut menunjukkan ketidaksenangan. Ia ngeloyor ke arah lobby, nampak seperti mau meninggalkan hotel. Aku tak peduli.
Aku langsung menuju lobby hotel. Di kursi itu masih ada kolegaku sedang ngobrol ngalor ngidul bersama stafnya yang mengantar saya ke hotel.
“Malam, pak! Mengapa cepat sekali? mugkin bapak terlalu lelah ya?” sapa kolega saya sambil memberondong dengan dua pertanyaan. Maksud hati mau “nyemprot” dia, malah aku jadi mikir kenapa dia bertanya seperti itu. ‘Mengapa cepat sekali? mungkin bapak telalu lelah’ Ah kurang ajar dia, dia pikir aku ini kena EDI alias Ejakulasi Dini. Sontoloyo! gumamku dalam hati.
“Ah cewek itu gak bagus!” akhirnya itulah kata-kata yang terucap. Begitu saja terlintas dalam otak.
“Pak, tolong sini pak!” panggil kolega saya pada seseorang. Lelaki itu berpakaian necis, tetapi tidak nampak seperti karyawan hotel. Sepintas mereka berbisik. Kemudian, lelaki berpakaian necis itu pergi ke arah wanita yang tadi masuk ke kamarku. Ternyata wanita itu berada dekat lorong penghubung antar hotel. Hotel itu memiliki dua bangunan indah yang terhubung melalui lorong koridor antar-gedung.
PLAK PLAK tiba-tiba lelaki itu menampar wanita itu tanpa warning terlebih dahulu.
Astagfirullah aladziim” aku nyebut nama Gusti Allah. Apa yang terjadi.
“Tenang pak, ini akan segera teratasi” kata kolegaku memastikan.
Astagfirullah aladziim, ternyata kata-kataku yang menganggap wanita itu tidak bagus ternyata salah. Aku hanya tak ingin diledek karena ucapan kolegaku tadi . AKu juga tidak bisa mengatakan tidak ingin ditemani wanita di kamar, karena dia -kolegaku itu, akan mencap-ku sebagai orang munafik.
“Begini saja pak, silakan bapak pilih yang mana?” tanya lelaki necis itu yang diamini dengan anggukan kolegaku. Lima buah foto wanita ditunjukkan padaku.
Sontoloyo, masih juga ditawarkan!’ makian ku tak terbendung, tetapi… tetap dalam hati.
“Baiklah pak, maaf bukan saya mempermainkan. Saya minta yang tadi saja!” jawabku. Aku ingin minta maaf padanya.
“Bapak tidak ingin yang lainnya saja?” tanyanya lagi meyakinkan. “Benar, pak. Saya ingin yang tadi saja!”
****
Akhirnya aku masuk terlebih dahulu ke dalam kamar. Wanita yang tadi kuminta kembali pun memasuki kamar sekira 1 menit kemudian. Kini ia tidak lagi tersenyum.
Seperti awal dia masuk tadi, ia langsung akan membuka baju. “Ooops… nggak usah mbak!” larangku.
“Terus mau ngapain!?” tanyanya dengan nada tinggi. “Saya mohon maaf, atas kejadian tadi. sekali lagi saya mohon maaf” pintaku dengan suasana hati yang nggak menentu. Ini salahku..ini salahku. Aku terus meyakinkan tamparan yang ia terima dari lelaki necis yang ternyata germo itu, karena salahku.
“Terus ngapain?” tanyanya lagi tanpa menghiraukan permohonan maafku.
“Begini saja, kita ngobrol-ngobrol saja di kamar ini , ya. barang satu atau dua jam gitu
“Oke, masih pakai baju?”
“Oh tentu mbak, silakan mbak duduk di kursi itu saya dikursi ini”
Ia pun duduk, obrolan dimulai dengan saling bertanya tentang nama masing-masing. Aku jawab saja namaku sejujurnya, entahlah kalau dia. Sampai obrolan ngalor-ngidul yang penting suasana “perang’ berakhir. Akhirnya, aku mulai berani memasuki arah pembicaraan seputar moral dan agama.
“Maaf mbak, sudah berapa lama kerja seperti ini” tanyaku mulai agak sok menjunjung moral.
“baru dua bulan” jawabnya disusul dengan air matanya berlinang. Ia menjelaskan mengapa sampai melakukan hal itu. Pacarnya lah yang ia tuding penyebab segala perbuatan yang dinilai nista oleh masyarakat. Kini pacarnya itu pergi entah kemana, sementara ia ditinggalkan dalam keadaan hamil. Ah ternyata alasan klasik, pikirku.
“Ini demi anak saya yang baru empat bulan, dari mana saya bisa memberikan susu dan makanan bayi dan juga bagaimana makan saya sehari-hari sementara ibuku sudah renta..” linangan air mata berurai menjadi tangisan tersedu-sedu.
“Memangnya mbak tidak bisa keluar dari kondisi ini?” tanyaku…
Ia tidak langsung menjawab. Diraihnya tisu yang disediakan hotel di atas meja. Air matanya diusap. Riasan make-up yang tipis ia kenakan pada wajahnya itu tak banyak berpengaruh. Ia tetap cantik alami. “Bisa pak, karen si Bapak tidak memaksa dan melarang saya kalau ingin berhenti” jawabnya sambil menunduk. “Tapi nggak mungkin Gusti Allah akan mengampuni saya” tambahnya putus asa.
Lho tidak begitu mbak. Gusti Allah itu maha pengampun. Luasnya lautan tidak seluas ampunan Tuhan” aku mencoba meyakinkan.
“Tetapi bagaimana caranya?”
“Lihatlah mbak, itu kan mesjid. Datanglah ke sana, duduk-duduk saja di sana, yakinkan dalam hati untuk kembali kepada masyarakat seperti seharusnya mbak berada.” Aku menunjuk arah mesjid dekat hotel yang terlewati ketika menuju hotal. Aku hanya mengira-ngira arahnya dari kamar itu dengan menunjuk kea arah kiriku.
“Saya harus mengaku dosa kepada siapa?” tanyanya, mulai tertarik.
“Mbak tidak perlu mengakui dosa pada manusia siapapun di mesjid itu, bahkan mbak kembali saja ke rumah dan shalatlah di rumah, akui dosa hanya kepada Tuhan. Mohonkanlah ampunannya.”
“Mas, bolehkah saya panggil mas bukan Bapak!” pintanya.
“Baiklah, panggil saja mas” ucapku senang, rupanya is mulai tertarik arahanku.
“Akankah ada lelaki sebaik mas, kita sudah berdua di kamar ini, malah mas hanya mengajak mengobrol sama saya. Mas saya akan berubah. Saya akan kembali bermasyarakat seperti dulu, jikalau mas mau menjadi suami saya” pintanya sambil matanya menatap tajam mataku.
Wea alakadalaaah. Kipiye iki, kok jadi aku yang kena ya?
“Terima kasih mbak, pujian mbak yang baik. Saya telah beristri dan punya anak. Yakinlah bahwa lelaki baik itu banyak. Apalah saya ini, yang lebih baik dari saya masih banyak di luar sana. Bukanya saya nggak mau menikahi mbak yang bekerja seperti ini, tetapi saya tidak ingin menghianati istri saya.” Begitu penjelasanku panjang lebar.
“Baiklah Mas, 2 jamnya sudah habis ya!” jawabnya sambil meraih tas diatas kursi sofa, tanpa menunggu jawabanku ia ngeloyor menuju pintu kamar.
“Selamat malam!” ucapnya sambil menutup pintu dari arah luar kamar.
Aku hanya terbengong-bengong. Waduh, apa aku salah ngomong lagi ya….?????
 

BIG BLOG OF HOAX Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez