Selasa, 25 Januari 2011

BERWUDHU DI DANAU TOBA

Diposting oleh re di 19.43
Judul tulisan ini memang menohok. Wudhu adalah sebuah langkah persiapan untuk menunaikan shalat dalam agama Islam. Sementara Toba adalah sebuah kawasan di sekitar salah satu danau terbesar di dunia yang hampir semua penduduknya memeluk agama Kristen. Toba kerap digunakan sebagai istilah yang merujuk kepada Batak Kristen. Maksudnya, bila seseorang mengaku dirinya sebagai anggota komunitas Batak Toba, serentak dengan itu sang lawan bicara mengambil kesimpulan instan: temanku ini pasti beragama Kristen.
Tapi, kerinduan untuk berwudhu dengan menggunakan air danau Toba sungguh-sungguh hidup dalam diri seorang Muslimin bernama Saparudin Situmorang, tokoh utama dalam cerpen Pulang yang ditulis Suhunan Situmorang dalam buku kumpulan cerpen Dari Sebuah Guci. Sang penulis beragama Kristen, warga jemaat HKBP Jatiwaringin. Suhunan pernah bercerita kepada saya rintihannya tentang beberapa kerabat bermarga Situmorang yang tiba-tiba menarik diri dari kumpulan marga karena berpindah keyakinan, memeluk agama Islam. Tidak ada yang salah dengan berpindah keyakinan, tak ada pula yang keliru dengan berdiam setia kepada agama yang dianut, tetapi kenapa keberbedaan agama membuat kami jadi terpisah seolah jika seseorang beragama Islam dia lantas kehilangan haknya di dalam kumpulan marga Situmorang, tanya Suhunan dengan wajah pilu. Tak ada yang bisa mencabut marga seseorang; tidak pendeta, tak juga seorang mubaligh.
Sudah berbulan-bulan Saparudin menanggung rindu untuk pulang kampung ke Desa Urat di Pulo Samosir. Dia tahu, hampir semua orang-orang di kampung halamannya memeluk agama Kristen. Itu membuatnya mengira bahwa menjadi Situmorang yang Islam adalah sebuah penyimpangan. Jika sampai di bona pasogit, setelah melacak silsilah, pastilah pertanyaan yang kemudian teraju adalah tentang agama yang dianut, pikirnya. Kuatir dengan bayangan penolakan semacam itu, kerinduan Saparudin menguap. Sebab, bahkan Ayahnya pun dahulu tak punya nyali menuntaskan damba menghirup uap air danau biru itu dan hanya bisa menangis berminggu-minggu sebelum ajal menjemput.
Ibu dan ayah Saparudin keluar dari Desa Urat puluhan tahun lalu. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya menetap di Labuhan Ruku, sebuah kawasan yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Pergaulan, kebersamaan, kekerabatan baru membuat mereka memutuskan untuk beralih keyakinan: menjadi mualaf. Selepas itu, mereka tak lagi bersambung dengan dunia Batak Toba. Jiwa dan tubuh Saparudin sejak lahir telah tercebur ke dalam dunia Maya-maya, dunia puak Melayu Asahan.
Uniknya, meski tak lagi hidup sebagai orang Batak, apalagi Batak Toba, orang-orang seperti Saparudin mempertahankan dengan ketat pencantuman marga di belakang namanya dan bersikukuh tak menjalani pernikahan semarga, apa pun alasannya. Mereka berjumlah puluhan ribu. Kaum Batak Toba menyebut mereka sebagai Dalle: Batak yang tak lagi Batak, orang yang sekadar punya marga.
Menurut tuturan ayahnya, mereka yang kemudian dijuluki Dalle itu adalah kumpulan manusia Batak Toba yang dahulu kala meninggalkan bumi Samosir, Toba, Uluan, Humbang, Silindung dan wilayah tano Batak lainnya bersebab getirnya kehidupan. Lahan Tano Toba yang kerap dipuja para penggubah lagu ternyata amat terbatas untuk dijadikan penghasil pangan, sementara jumlah perut yang menuntut makanan terus bertambah.
(Pulang, Suhunan Situmorang, Dari Sebuah Guci, hal. 30)
Namun, kendati pun keberpisahan itu begitu jelas, ada sesuatu yang tak bisa dielakkan manusia Batak Toba, apa pun agama yang dianutnya: sebuah danau nan elok, danau yang menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya kidung, tembang, cerita, novel di seputar puak Batak. Danau itu begitu kuat memanggil semua penghuni dan keturunan mereka untuk pulang menengok dan berbaring di haribaannya. Entah apa yang merasuk sanubari banyak orang. Keluasannyakah, keteduhannyakah, keheningan tak terperi, uap airnya yang berkesan magis?
Entahlah. Tapi kerinduan yang sama mencengkeram dada Saparudin. Tutur cerita sang Ayah tentang danau biru itu begitu kuat membekas. Dia bertekad untuk pulang. Setelah menabung bebulan-bulan, Saparudin melangkahkan kaki. Dan perjalanannya betul-betul sebuah drama. Dia sibuk membayangkan losmen mana yang akan dipilih untuk disinggahi. Pemiliknya yang beragama Kristen, makanan yang tidak halal, serta syak wasangka yang mungkin tumbuh berhadapan dengan pendatang yang tak becus berbahasa Batak adalah beberapa dari banyak kekuatiran yang merambat nadinya.

Saparudin menyeka cairan bening dari bola matanya yang meluncur tanpa ia sadari. Kembali dia menatap Danau Toba yang sudah terbentang di hadapan. Kendati degup jantungnya masih berpacu liar karena bus yang ditumpangi begitu garang melewati jalan berliku di atas jurang Sibaganding, ia tak kuasa menahan takjub melihat danau yang dari kejauhan nampak bagai hamparan kaca raksasa. “Tak kusangka seluas ini,” desisnya dengan pandangan kagum.
Perasaannya mengharu biru tatkala turun dari bus lalu menjejak pasir pantai Tigaraja-Parapat. Ia buru-buru melangkah menuju bibir danau, meletakkan tas jinjing dan peci hitamnya di atas bebatuan, kemudian menarik celananya sampai ke batas lutut. Berkali-kali ia membasuh wajah. “Alhamdulillah. Allahu Akbar,” gumamnya seraya menengadah ke langit.
(Pulang, Suhunan Situmorang, Dari Sebuah Guci, hal. 26)
Saya tak bosan mengulang dan membaca halaman tersebut. Takbir yang dikumandangkan Saparudin menggetarkan seluruh sendi dan tulang, menerbitkan kebebasan sejati, dan membuat saya kian percaya bahwa bumi yang kita diami ini adalah planet untuk semua agama. Takbir Saparudin memecah kebuntuan dan mengingatkan saya untuk mencari saudara-saudara bermarga Panggabean yang selama ini terasing, kehilangan rasa percaya diri hanya karena mereka menganut agama Islam, agama yang bukan menjadi arus utama di kalangan Panggabean.
Maka saya pun terkenang kepada sebuah masa saat Papa, Partogi Panggabean masih hidup. Siang itu kami kedatangan tamu, seorang lelaki Panggabean beragama Islam yang berusaha mencari kerabatnya. Dia tinggal di Kalimantan dan bertahun-tahun tak lelah menyusur silsilah untuk menemukan pucuk. Kesimpulan akhir, keluarga kami adalah Panggabean terdekat, meski sebetulnya tak cukup dekat. Berangkatlah lelaki ini ke Jakarta dengan membawa istri, adik dan kakak, juga anak-anaknya. Mereka tiba di rumah kami dengan kegembiraan yang tak berhasil ditutupi. Para perempuan mengenakan jilbab tapi tak merasa asing. Saya ingat persis betapa bersemangatnya Papa menyambut. Percakapan beberapa jam pada hari itu sudah cukup bagi kami untuk masing-masing menabalkan atribut kudus: kami bersaudara. Tahun berlalu, setiap kali berkunjung ke Jakarta, mereka tak pernah alpa singgah di rumah kami.
Ada beberapa hal, memang, dari keberagamaan yang menghadirkan sekat-sekat pemisah. Setidaknya, saya mencatat satu: makanan. Ini perkara pelik. Di banyak jamuan pesta adat Batak, daging babi kerap jadi menu utama. Meski beberapa keluarga sudah menggantinya dengan sapi atau kerbau, harganya tak terjangkau oleh orang Batak kebanyakan. Dengan santun para Batak Kristen menyediakan sebuah meja yang berisi makanan-makanan halal untuk disantap mereka yang beragama Islam. Tapi, justru di sana keberpisahan itu menjadi jelas: kita tidak duduk semeja perjamuan. Padahal acara makan bersama adalah petanda paling tegas bagi sebuah kesadaran suci: kita berinduk pada satu moyang. Meja par subang, demikian istilah bagi meja yang diperuntukkan kepada non Batak dan non pemakan babi, adalah, sesungguhnya, meja pengasingan.
Belum lagi ketika jambar dibagikan. Ada beberapa hak yang dimiliki lelaki Batak dalam acara adat: hak berbicara dan hak mendapat organ tubuh binatang yang dijadikan santapan pesta. Para Batak Kristen dengan bersukacita dan lapang membawa haknya pulang, apa pun jenis daging yang dibagikan. Tidak demikian dengan lelaki Batak Muslim. Mereka, mau tak mau, menyingkir dan bersikap seolah tak hirau akan hak tersebut. Namun, akibat yang kemudian terjumpa mungkin saja adalah biang masalah: karena merasa tak berhak atas jambar daging, tentu saja lambat laun mereka pun tak merasa perlu berseturut dengan segala kewajiban. Maksud saya, secara psikologik, rasa memiliki itu perlahan memudar.
Ini sekat yang harus segera dirubuhkan. Orang-orang Batak Toba Kristen selayaknya bercermin kepada banyak teman-teman muslimin dan muslimah di negeri ini yang tak putus-putusnya berjuang menegakkan Indonesia bagi semua. Saya mengerti, itu bukan perkara mudah. Selain pilihan-pilihannya terbatas, harganya pun –sekali lagi- tak cukup terjangkau.
Nah, sambil terus berupaya meraih kesempatan untuk duduk semeja dalam jamuan pesta dengan rasa lapang dan nir wasangka, cerpen Pulang Suhunan Situmorang mengajak kita kembali pada sesuatu yang bisa dijadikan pemersatu kuat keberadaan puak Batak Toba: sang danau biru. Suhunan bukan seorang presiden sehingga dia tak biasa berwacana; bersama dengan beberapa teman dia mendirikan kelompok peduli Danau Toba dengan nama Save Lake Toba Community yang berjuang tak henti menjaga kelestarian alam dan lingkungan di sekitarnya.
Danau Toba memanggil saya, memanggil Saparudin Situmorang, memanggil bapauda saya, Munir Panggabean, memanggil Zulaikha Pardosi, memanggil Paulus Simangunsong dan banyak kaum Batak lainnya untuk pulang serta menemukan kembali keIndonesiaan di dalam Batak saat kita menceburkan diri di airnya yang biru. Itu sebabnya dada saya bergelora ketika menulis ode buat Toba dalam sebuah lagu berjudul Darimana Rinduku Bermula, sebagai lagu tema untuk cerpen Pulang yang dibawakan dengan romantik dan jenaka oleh Paruhum Aritonang.
darimana rinduku bermula, kasih
hingga tak sempat ‘ku bernapas lega
dan mengapa panahmu menghujam masih
perih dan ngilu di batas senja
darimana swaramu memancar merdu
hingga jantungku lompat menyambutmu
apa pula yang menjangkitiku s’lalu
membuat mataku tak mau pejam
mungkin biru airmu,
mungkin teduh parasmu,
mungkin jugalah luasmu yang mencengk’ram
memanggilku pulang
namun satu yang pasti
kan kukenang abadi
persaudaraan yang rukun hidup di sekitarmu

www.darisebuahguci.com
 
Ini lagu indah sepanjang 5 menit 27 detik. Jika ingin mendengar sepenggal darinya, silahkan unduh melalui tautan berikut ini: http://www.fileden.com/files/2010/11/28/3026304//DMRB.mp3

KARYAWAN STRESS STRIKES BACK!!

Diposting oleh re di 10.20
mungkin ente semua bete sering dimarahin bos ente kalo di kantor, entah karena kerjaan salah, si bos keki sm ente atau bahkan bos ente musuh ente.
Mau tau cara bales dendam ke bos ente ?

mungkin ini cara yg cocok buat bales dendam. yaitu dengan cara nambahin benda terkotor ke dalam minuman bos ente pd saat bos ente lg meleng atau lg genit sm sekretarisnya


Beginilah kelakuan para bos

Spoiler for BOS




Merasa jeles atau risih sm bos ? isengin aja minumannya
Spoiler for iseng




kalo udah diisengin minumannya pasti si bos bakal ngerasa aneh sm minumannya

Spoiler for aneh


eits tp hati-hati gan, jangan sampe ketauan ya isengnya.

Spoiler for awas


kalo ketauan ya beginilah nasib ente
Spoiler for pecat


Silahkan tuangkan dendam juragan-juragan semua disni

Spoiler for Receptionist's revenge


Silahkan ke tekape kalo udah ga sabar
Receptionist's Revenge

WE LAUGH AT INSULT?

Diposting oleh re di 09.34
Tadi malam nih aku nonton acara lepas malam di tipi. Jujur aja ya, sekarang-sekarang ini aku benci banget sama hampir semua acara tv, terutama yang lokal. kerana aku ngerasa nggak dapet apa-apa dari sana. Terhibur nggak, Dapat Informasi juga nggak. Tapi apa mau dikata, dulu aku pernah baca bukunya Robert T Kiyosaki (Aku baca ini karena aku suka baca buku, bukannya aku penganut “sekte” MLM tertentu loh ya) yang bilang bahwa “tv adalah sumber informasi bagi orang bodoh dan orang miskin”. Kayaknya bener juga nih. Karena sahabat terdekat kita yang selalu disamping kita saat dibutuhkan di rumah adalah tv. huh? menyebalkan, tapi mau gimana lagi. Apa mau dibuang tvnya? wo…

Eh balik lagi ya ke lepas malam. Kebetulan waktu pas aku nonton temanya tentang pelestarian lingkungan. Ada beberapa penerima penghargaan Kalpataru yang hadir.. tapi bukan itu yang menarik perhatianku tadi malam.. cuma seceplos joke saja dari artis tamu Sarah Azhari yang aku nggak ngeh! Waktu itu dia ditanya Kalo para pengusaha penjarah perusak lingkungan itu ditangkap enaknya dihukum apa? Dan seperti biasa artis-artis macem gini menjawab dengan segala kejeniusan-nya “Mungkin dihukum jadi tukang sampah aja ya suruh bersihin jalan..” Dan begitulah acara pun mengalir kembali. Mungkin terdengar biasa atau lucu kalau didengar… tapi lain halnya kalau kau ADALAH seorang tukang sampah! Apa salahku hingga keadaanku dianggap sebagai hukuman? Apa dosaku hingga para perusak lingkungan yang merugikan orang banyak harus itu dikutuk menjadi aku. Apakah aku ini semacam kutukan? Aku cuma berusaha sekuat tenagaku ini, sekuat otakku yang miskin pendidikan ini untuk menjaga perutku dan perut istri dan anak-anakku tetap terisi nasi… itu saja! Aku tidak merugikan orang lain, apalagi merusak lingkungan!

Lebih jauh lagi aku berpikir tentang lelucon-lelucon yang menjadi tren di masyarakat ini. Mengapa semuanya mencela keadaan orang lain? Apa tidak ada sumber humor yang lain? Contoh? Lihat saja para pembawa acara dan tim pencela API-nya TPI. Sesuai namanya mereka saling mencela satu sama lain. dan para penonton tertawa terbahak-bahak… aku bener-bener nggak ngerti keadaan ini. Celaan dan ejekan mereka begitu dalam dan berulang-ulang. Komeng, Omas, Ulfa, Narji dan sebagainya. Ya ampun mereka saling mencela kondisi fisik sampai habis tak bersisa, mulai dari muka, mulut, kulit, gigi, hidung, keturunan dan banyak lagi. Mungkin menurut pendapatku Komeng lebih tepat disebut sebagai “pencari dan pencela keburukan orang” daripada seorang pelawak.

Masih soal acara API itu, salah satu celaan mereka seperti ini kira-kira ” Ya pantes aja dia begitu dia ini kan lulusan SLB!” Lucu? tentu saja, penonton pada tertawa.. tapi sekali lagi lain halnya kalau kau pernah sekolah di SLB atau anak atau saudaramu yang di SLB. Tahu apa mereka tentang anak-anak SLB? Tentang perjuangan mereka untuk menjalani hidup? Tentang perjuangan keluarga mereka untuk memasukkan anak-anak terbelakang ini ke masyarakat? Bayangkan betapa sedih hati mereka ini, toh mereka tidak memilih untuk terlahir sebagai seorang tuna grahita.

Kenapa ya model lelcucon ini yang populer di masyarakat? mungkin banyak beribu alasan dan hipotesis sosial yang bisa dikemukakan. Aku bukan sosiolog atau psikolog (dan tidak pernah memerankan mereka di televisi :-)), namun aku rasa cukup orang biasa saja yang dibutuhkan untuk meyadari bahwa “something is wrong here..”Namun lepas dari ini sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kita tertawa tanpa menghina kekurangan orang lain, untuk tertawa tanpa menyakiti. Begitu banyak hal didunia ini yang mampu menyentuh hati kita untuk tersenyum dan tertawa. Ah.

HAK ABSOLUT UNTUK MARAH

Diposting oleh re di 09.29
demo ps3
Aku ini bukan orang yang terlalu concern dengan masalah2 sosial. Bukannya tidak memperhatikan, tentu saja memperhatikan, tapi ya sebatas itu. Selanjutnya hanya berupa pergulatan-pergulatan opini, atau pencernaan yang tanggung dalam pikiranku. Atau, kalo memang topiknya sedemikian membara, maka jadilah bahan bicaraan (dan guyonan) di kala ngobrol ngalor ngidul bersama teman2.
Tapi bagi sebagian banyak orang, demonstrasi, mungkin adalah salah satu wujud perpanjangan dari opini-opini tadi. Opini yang berbenturan dengan opini dari otoritas yang ada, opini yang tidak menemukan jalan untuk disalurkan, sehingga tumpah. Tumpah dari pikiran, meluber ke jalan-jalan, ke gedung-gedung pemerintahan dan ke halaman pabrik-pabrik. Satu2nya pengalamanku ikut berdemo adalah waktu kelas 1 SMA dulu, tahun 1998, masa ketika “reformasi” adalah kata yang paling populer di Indonesia. Demo yang aku ikutipun adalah berupa demo resmi, serentak dari berbagai instansi di Semarang waktu itu, di mana seluruh murid memang dilibatkan. Aku waktu itu turut membuat spanduk unik ala rakyat, yang memakai koran bekas, dan tanah liat untuk menuliskan kata2nya… ah masa-masa itu :)

Coba lihat, sudah beberpa tahun terakhir ini TV kita tak pernah sepi dari berita Demonstrasi. Orang yang demo karena tempat tinggalnya digusur karena menempati lahan terlarang yang bukan miliknya, tentunya dalam hati kecilnya sudah tahu bahwa hari itu pasti akan datang. Opiniku? Daripada demo.. mending mulai cari tempat tinggal lain, atau pulang ke kampung halaman kalau masih punya. Orang demo karena diberhentikan dari pekerjaannya, alasannya karena perusahannya menjelang bangkrut. Opiniku? Daripada demo bahkan mengikutkan istri dan anak2, mending mulai cari pekerjaan lain. Tapi kadang memang tak sesederhana itu, kadang memang ada yang tidak beres sehingga ucapan2 saja tidak cukup dan dibutuhkan teriakan2 dengan megaphone untuk mengungkapkannya.
Demonstasi adalah perbedaan pendapat dan kepentingan. Benar dan salah menjadi suatu yang blur kalo ditilik dari sudut pandang orang luar (atau setidaknya sudut pandangku). Kadang yang lemah juga belum tentu yang benar. Tapi ada suatu kasus akhir-akhir ini yang jelas-jelas suatu kesalahan, jelas-jelas perampasan hak, jelas-jelas suatu ketidakadilan, yang bahkan membuat aku (yang tidak concern ini) bagaimanapun juga ingin ikut bersuara. Yaitu : Lumpur Panas Lapindo di Porong. Baru saja aku lihat di TV, demonstasi warganya yang menuntut kejelasan nasib mereka. Sangat menyedihkan. Bayangkan saja, beberapa desa tenggelam, rumah-rumah, sekolah, tempat usaha bahkan perusahaan kecil tenggelam. Mereka salah apa? Hidup mereka baik-baik saja sebelumnya. Tiba2 dalam waktu sekejab saja, apa yang mereka punya, yang mereka kenal dan yang mereka tahu, semuanya terendam lumpur. Hidup mereka terendam lumpur. Bagaimana, sudah selesai dibayangkannya?
Maka wajarlah segala amarah itu, normalah semua emosi itu dan manusiawilah segala isak tangis itu. Warga Porong, kebenaran kalian dalam hal ini adalah mutlak! Hak kalian dalam hal ini adalah absolut! Teruslah berjuang. Rakyat Indonesia, dukunglah mereka, dalam hal apa saja. Pemerintah… masih bisakah tidur nyenyak ya melihat mereka? Malah DPR-nya minta naik gaji. Wadoooh! Coba itu uang hasil pengembalian hasil pembatalan PP No. 37 dialihkan saja untuk merelokasi warga Porong. Atau apalah, kalian kan berkuasa, harusnya penderitaan mereka tak perlu berlangsung selama ini. :(

Berhubung tidak punya gambar tentang lumpur Porong, maka gambarnya itu saja, sekalian numpang demo, menyampaikan protesku saat ini :d

EIEN NO AI

Diposting oleh re di 09.28
Adalah judul lagu yang dinyanyikan oleh Ten2Five, sesuai judulnya tentu saja ini lagu jepang. Namun karya Indonesia. Jangan salah, yang basbang bukan saya. Lagu ini sudah aku banyak aku dengarkan beberapa bulan yang lalu dan udah lama ngendon di hape. Cuma pengen nulis sekarang karena si DKazuma jagoan basbang pedopil biadab itu dengan tak berdosa mengangkat topik lagu ini ke milis id-anime. Dan suer walau aku suka lagunya, tapi belom pernah liat video clipnya, dan entah kenapa nggak kepikiran juga untuk nengok ke yutub. Baru kali ini (5 menit yang lalu aku nonton di Global tipi) toh aku nonton tipi sekedar peneman sepi, dan pas tipi dengan ketebalan debu 2cm diatasnya itu sedang tuned in di Global.
Bersyukur video clip ini ini nongol karena prasaan dari tadi aku nengok ke situ yang tayang cuma muka-muka perserta vjhunt ato apa gitu dengan pendapat-pendapat dongo dan sama sekali nggak intelek (bahkan tingkah lakunya saja menunjukkan sikap kontradiktif) terhadap global warming. Malah ada yang ngaku BITCH.. “Beautiful-Intelegent-Talented bla bla bla.. my wildest fantasy is to take off my clothess in the middle of a mall.. and my worst experience is i’m trying to help my friend waktu dia kesurupan..”
OMAIGOTDAMMITFUCKINGJERKCINCHALAWRAWANNABEGOFUCKYOURSELFBITCH!!!

Balik lagi ke lagu Eien no Ai (Forever Love). Pertama aku suka Lagunya! Lagunya sederhana, seperti kebanyakan lagu Ten2Five, seperti Don’t Say Goodbye. Dan mungkin ini adalah lagu berlyric jepang yang langsung aku bisa mengerti dan tahu artinya dari awal sampai akhir. Seperti kebanyakan lagu Ten2Five, memang banyak repetisi yang terjadi, tapi menurutku itu nggak membosankan kok. aku cuma kompalin sedikit tiap penyanyinya mengucapkan partikel “o” yang terlalu lugas, harusnya bisa lebih fluid. misal contoh “kono yume o“, harusnya bisa diucapkan seolah “kono yumewo..” tapi itu bisa dimaafkan karena lagunya tetep bagus kok. Nah yang aku mau komplain itu… VIDEO CLIP-nya.

Oke, mungkin saya terlalu banyak terkena dampak radiasi racun acara lomba lagu yang di indosiar itu.. mamamia, supermamamia show, soulmate show dll.. dll.. you name it. yang dengan terpaksa atas kekuasaan Ibu, dengan sukses menguasai ruang tengah keluarga saya. menginvasi kedamamaian rumah tangga dengan joke yang WTF super duper repetitip dan sesuai dengan selera rakyat indonesia, masih mengandalkan pada ejekan-ejekan. Dan setiap saya lewat.. mo ke wc kek, mo ambil makan kek, mo apa kek, pasti mau tak mau pasti aku liat, shouganai wa, helpless, sebenarnya mau merem pas liwat situ tapi takut nabrak meja. Jadi dengan pengaruh ilmu mamamia tadi yang mungkin berhasil sedikit merembes ke otak ini, izinkanlah saya menaruh sediki verdict terhadap PV Eien no Ai :

pertama : penyanyinya
Lagu Eien no Ai (Forever Love / Cinta Abadi) adalah bercerita tentang keindahan cinta, meskipun lagunya sendu, tapi ini bukan lagu sedih. Mengapa ekpresi penyanyinya seakan-akan mau mewek gitu? oke, cukup segitu saja, soalnya saya tutup mata saja pada yang cowoknya, selain nggak hobi merhatiin cowok, toh kebanyakan band Indonesia selain vokalis (si cewe), yang laennya adalah nothing, figuran.

kedua : dandanan
alaaaamak jaaangg!!! itu bedak di muka berapa KG dihabiskan? dan akan dimaafkan kalo bedak 5KG itu berhasil menyamarkan bintik, bisul, panu, jerawat dan noda sehingga terlihat mulus di kamera. Lha ini nggak fungsi!!! siapa periasnya? selain jadi tukang rias pasti dia juga part-time tukang kebun!! profesional dong!! Trus baju.. Jepang ya jepang aja… jepang juga bisa casual.. gak usah pakaian karnaval. Kalo disepadankan orang jepang nyanyi lagu indonesia, maka diibaratkan orang jepang tadi make kostum reog ponorogo instead of baju kebaya. siapa pengarah kostumnya?? pasti dia juga part-time jadi pengumpul telur di peternakan ayam (iya nggak ada hubungannya sih)

ketiga : setting
itu apartemen apa rumah susuuuunnn. Tinggal kasih scene ibu-ibu njemur daster di rail pagar jendela.. maka jadilah. Maap, bagi orang kampung macam saya, segala macam yang berhubungan dengan keartisan, maka otomatis saya anggap mereka kaya. Cari dong apartemen yang bagusan dikit. Trus sesuai lyric.. “Yoru no. PURU SAIDO de..” (di malam hari di tepi kolam..) WHERE THE FUCK is seting malam hari di tepi kolamnya?? plus kalo boleh saya minta yang sedikit muluk… cahaya bulan yang temaram menimpa rambut kanojo yang lurus sehingga bercahaya dan ikut membiaskan senyumnya yang menawan… mengapa saya malah melihat rumah susun???

keempat : model
Maap kalo saya sedikit rasis. Tapi dear tukang casting video clipnya Ten2Five, dengan hormat saya ingin menginformasikan bahwa : CINA DAN JEPANG ITU BEDA! walau sama-sama putih dan sipit. Lagian kenapa harus maksa sih? kurang cakep model indonesia? tuuuhhh Gita Gutawa sedang ngganggur… lagian nggak mesti harus couple gitu kan?

Eien no Ai
lyric translation by me, maap kalo salah
Yoru no puuru saido de : malam ini di tepi kolam [puuru saido =pool side]
Hitori kiri suwatteiru : duduk sendirian
Hoshi no moto de anato o omotteiru : dibawah bintang memikirkanmu
Omotteiru oh.. : memikirkanmu oh..
Reff:
Isshoni anata to futari : berdua bersamamu
Eien no ai o : forever love
Isshoni anata to futari : berdua bersamamu
Eien no ai o : forever love
Futari wa onaji janai kedo : walaupun kita berdua berbeda
Ai de hitotsu ni naneru : tapi kita bersatu dalam cinta
Shiawase ni naru kono yume o : menjadi bahagia dalam mimpi
Shiawase ni naru kono yume o : menjadi bahagia dalam mimpi
Jinsei wa subarashii date : kehidupan ini indah
Anata to de aeta kara : karena aku bisa bertemu kamu
Isshoni anata to futari : berdua bersamamu
Eien no ai o : forever love
Eien no, eien no, eien no ai o
Oo nananananananana
Eien no, eien no, eien no ai o
P.S :
Sekarang saya ingin D’Cinnamons nyanyi lagu jepang!!!

SELF BLINDED AND PROUD OF IT

Diposting oleh re di 09.16
gin one piece
Gin itu orang kedua di armada bajak laut Don Krieg. Gin sangat kuat dengan kedua bilah senjata tonfanya. Gin bahkan bisa menghancurkan armor Pearl (anak buah Don Krieg yang lain) dalam sekali pukul. Gin sangat setia pada Kapten-nya Don-Krieg. Entah bagaimanapun sosok kaptennya itu. Apapaun kehendak kaptennya akan dia turuti. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Sanji, orang yang menyelamatkannya dari kelaparan. Perintah untuk membunuh Sanjil dan mengambil alih kapal restauran terapung Barratie adalah satu-satunya yang tidak bisa Gin turuti. Namun bukan berarti ia tak lagi patuh pada Kapten-nya. Bahkan sampai akhirnya ia disuruh untuk membuang nyawa dengan menghirup gas beracun karena dianggap melawan perintah Kapten.
Membaca One Piece di episode-episode awal memang selalu banjir air mata. Bukan air mata termehek-mehek, namun air mata haru. Semangat, cita-cita, kesetiaan, dan romantika pria yang lain. Awal membaca saga tentang bajak laut topi jerami melawan bajak laut Don Krieg ini kalau tidak salah ketika awal kuliah. Dulu aku tidak mengerti sikap seperti Gin ini. Aneh saja rasanya, bodoh dan tak masuk akal. Setelah beberapa tahun, sekarang aku baru mengerti. Lama juga ya.

BECK WEATHER'S INTERVIEW : WHAT PRICE IS PAID?

Diposting oleh re di 03.17 0 komentar
He is the man who was left for dead.
Beck weathers, an american pathologist from texas. He is best known for his role in the 1996 EVEREST DISASTER that has been the subject of many books and films, most notably Into Thin Air and Everest.


MountainZone.com: Almost everybody involved in the tragedy on Everest in 1996 has written a book, a magazine article, or something. How come it took you four years?  

Weathers: Well, you can imagine, when we got back from Everest, everybody and their cousin is going to get contacted to write something about this and pretty much all before the bodies get cold. But, the problem I had with that is: one, I had no idea how the story ended, because, for me at least, the stuff on the mountain, while it was interesting, is just sort of the beginning of what was going to happen; and, and I didn't know whether this was going to turn out, ultimately, to be a tragedy or whether it was going to turn out to be a story with a happy ending. And frankly, I just had a few things in my life that needed to be addressed. And if a story is worth telling, it's going to be worth telling four years or 10 years after the fact. If you got to do it right then, probably you can go ahead and skip it. I really had not decided. I decided I probably would not write a book because I thought that the story of what occurred on the mountain had pretty much been gone through ad nauseum. And there had been a couple of very good books written, Jon Krakauer's Into Thin Air and David Breashears' High Exposure, that documented the who, what, when, where, how, 'slowly I turn step by step' events up there, and thrashing through that one more time really wasn't going to serve any purpose. But what I ultimately wound up being interested in was really the story of those individuals who wind up remaining. That's the part that rarely gets told, although it's certainly is on the minds of individuals who go up there.

In essence, what is it that drives people to put themselves at high risk? What price is paid by themselves and by their family? And then when you get back and your body is destroyed and your relationships are destroyed, and you don't know that you'll ever work again, or if you'll be in custodial care for the rest of your life. How do you manage to put yourself back together? How do you get through that and ultimately get to be a functioning person again?

MountainZone.com: That's interesting because you've been through so much and sort of proverbially "come out on the other side" with a fairly different perspective on life, wouldn't you say?

Weathers: Well, I think always you sort of know what you ought to be doing, you know what your priorities ought to be, but the problem is it's the difference being in a theoretical world and being in the one you act upon. And I always sort of thought I could go ahead and pursue these things and maybe get that monkey off my back, and at that point you could come back and sort of go 'Ta-da, I'm home.'

But, the fact is that if you're not there for individuals, then you force them to make a life for themselves. And it's certainly an issue that occurs in climbing pretty commonly. A lot of guys' relationships and marriages wind up being destroyed by their passion for climbing but its also true in life in general. So much of our society is driven to succeed and to have that kind of single-minded focus that brings success. You think, from the business side, I'm doing it for my family, it's a great rationalization, I've used it myself many times, but the fact is that's how you live life, that's your pattern of behavior and it's very difficult to slow down long enough to examine that. A two by four across the face is helpful and that sort of got my attention.

MountainZone.com: And you actually do a fair amount of public speaking now?

Weathers: At some level, I was always a storyteller, and I didn't really have a story. And then, one of the good byproducts of an experience like this is that I wind up with a really good story, and I enjoy doing it. And it also satisfies what I would call probably 'survivor's obligation.'

I never had any grand sense of survival's guilt, because frankly I was so beat up that the likelihood that I could do a whole heck of a lot for somebody was not real. But when you come back, both in my personal case and I've seen it in a bunch of folks that have gone through experiences like this, you really have a strong sense that you want to do something that somehow mitigates or makes better what otherwise is just a horrible experience. And so by speaking to folks, and trying to maybe a good example of a bad example, if nothing else, then you can provide people an opportunity to maybe do a little better. They always tell you that you're supposed to learn from your mistakes? No, you're supposed to learn from somebody else's mistakes. It's a whole lot less painful.

MountainZone.com: Now Everest has sort of become a phenomenon in popular culture, especially from 1996. What do you think about that, good or bad, the way it has become such a recognized media event?.

Weathers: Obviously to me, it was surprising because anybody that's been around climbing, even for a little bit of time, with some perspective would know that people get their fannies kicked in mountains all the time and usually it's buried on page 26, and a small paragraph at the end that just sort of does a body count.

And for whatever reason, and some of it was the Internet, frankly, because they could take people to a place like this for the first time and actually have them there sort of in real time so they could participate and go into a place like Everest. And then, after that, it was such an odd congruence of things. You have the IMAX film crew there during this time. And of course millions of people have seen the rather extraordinary work that David Breashears and that group did on the mountain. And Jon Krakauer wrote a book that really brought people into that world for the first time. Most climbers can't write and most writers can't climb, and so that trying to meld those two together and come up with something that can be read by somebody who's not a climber actually took a lot of skill.

And so that really exposed this world and dusted off, if you will, an old gal whose maybe lost a little bit of her luster and because this was such a dramatic event and there were so many good stories in it; people making real choices with real consequences, a few cases of bad behavior and cowardice, but an awful lot of cases of people showing an enormous amount of courage and character. That's appealing. It is a fascinating moment and I can understand why people who will not have a chance to go to a place like that enjoy being taken there either in the visual sense or the IMAX, or in words as Jon has done.

MountainZone.com: Everyone has been asking you a lot questions in the past four weeks. Is there a question that no one has asked that you wished they would ask?

Weathers: There was one that I got asked early on and it is still one that I found intriguing then and it's only with the passage of time that I now know the answer. When I first got back, one of the questions was always, 'If you knew what was going to happen to you, would you do it again?' I thought initially, 'What a dumb question!' I mean, take a look at me, I'm a train wreck!

But with the passage of some time, I actually came to know the answer to that, which was that if I knew exactly what was going to happen to me on that mountain, every horrific moment and the aftermath of trying to claw your way back out of that hole once you get back, I'd do it again in a heartbeat. Because I gained so much more than I lost. I mean it really wound up, ultimately, because having to come through some horrible moments, it managed to salvage relationships that were pretty much destroyed. And really for the first time in my entire life, I'm at peace. I don't have to climb, I don't have to have that monkey on my back anymore. That's a very nice thing. I like that question.

MountainZone.com: You are probably familiar with your fellow Texan Lance Armstrong. I just got done reading his biography and he says the exact same thing as you. Not so much from the perspective of that having cancer enabled him to win the Tour de France or something like that, but that given that choice, he would have had it just because of the way it got him to stand back and re-evaluate and look at the priorities in his life.

Weathers: Well you don't learn anything from success. If you want to learn something about yourself, you undergo hard times or you fail because that teaches you something. And maybe you don't want to find out what you're going to discover. You hope that if you're placed in a moment that is very difficult like that, that what you're going to find is that you will be an honorable person, and you'll do the right thing and you'll have some measure of grace and courage, but you don't know the answer to that.

I can understand why someone like Lance Armstrong, who is obviously a superb athlete, the success just keeps rolling. But understanding how to balance that success and have a more real experience in life, not just as a persona, requires some work. And it's not easy. And you have to be able to step back and reevaluate and change your priorities. And that's hard to do, but it can be done.


 

BIG BLOG OF HOAX Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez