Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

MARATHON, PERANG DUNIA PERTAMA

Diposting oleh re di 21.21
Kapan perang dunia terjadi untuk pertama kali? Sampai saat ini orang mengenal bahwa PD I terjadi antara tahun 1914-1918. Padahal sebenarnya ini bukan perang dunia yang benar-benar pertama. Sejarawan militer klasik, Herodotus, mengatakan bahwa perang besar yang bisa dikategorikan sebagai PD I terjadi sebelum manusia mengenal peradaban. PD I yang dikenal orang sekarang, antara Kekaisaran Jerman yang berhadapan dengan Inggris dan Perancis (1914-1918), adalah perang besar pertama di era modern, abad ke-20. 

Tahukah anda tentang Marathon? Dan apa hubungan PD I dengan Marathon? Sebelumnya marilah kita melihat letak dan kondisi geografinya. Marathon sebenarnya adalah sebuah lembah di pantai timur Attica – Yunani, berjarak 22 mil ( 1 mil setara dengan 1,85 km) dari Athena. Lembah ini berbentuk bulan sabit, dibatasi pegunungan dan pantai. Pegunungan membentuk setengah lingkaran dan berkelok 6 mil, yang kedua tebingnya menjulur ke pantai sekaligus mengurung lembah Marathon. Sedang jarak terjauh pegunungan dari pantai adalah 2 mil. 

Kalau hanya sekedar nama lembah, mengapa Marathon ramai-ramai diabadikan dalam bentuk olahraga lari 22 mil? Tentunya orang akan bertanya demikian. Marathon, yang menurut legenda Yunani adalah tempat yang dihadiahkan kepada Hercules, merupakan saksi pertempuran 12.000 prajurit Persia dan 10.000 prajurit Yunani. Marathon adalah tempat terjadinya PD I yang sesungguhnya, sekaligus tanda lahirnya clash of civilization antara bangsa Asia dan Eropa, dalam rentang 2492 tahun yang lalu (490 SM).
Ekspansi Bangsa Persia

Prajurit Persia mulai berdatangan di Marathon pada musim panas 490 SM. Mereka menggunakan 600 kapal, dengan panglima Datis, didampingi keponakan Raja Persia, Artaphernes. Menyikapi hal ini, para pejabat militer Yunani dan pasukannya segera berkumpul di lereng pegunungan Marathon. Mereka segera menyusun strategi perang, menghadapi prajurit Persia yang telah berlabuh dan membuat perkemahan di Lembah Marathon.
Hadir di sana, sebelas anggota dewan perang Yunani. Kesebelas orang itu dipilih setiap tahun dari sepuluh suku terbesar. Kesemuanya berpangkat Jenderal dan satu orang ditunjuk sebagai panglima gabungan (Polemarch). Tiap-tiap Jenderal menguasai pasukan dari suku masing-masing dan memiliki kedudukan yang sama. Sedangkan Polemarch mendapatkan hak istimewa untuk memimpin penyusunan strategi dan dalam perang berhak memimpin pasukan sayap kanan.

Panglima gabungan, salah satu bangsawan Yunani bernama Callimachus, memimpin pertemuan di pegunungan Marathon itu. Masih ada kegamangan dari bangsa Yunani untuk menghadapi lawan yang jauh lebih kuat. Apalagi, para prajurit Persia – anak buah Raja Darius, sekarang telah mendarat di Yunani. Rakyat Yunani sudah melihat keganasan prajurit Persia di masa sebelumnya, yang telah berhasil membakar kerajaan-kerajaan lain dengan mudah. 

Persia adalah negara adikuasa di masa itu. Dengan jumlah penduduk laki-laki dewasa yang tak lebih dari 30.000 orang, dan belum terlatih untuk perang, Yunani akan kesulitan menghadapi lebih dari 10.000 prajurit terlatih Persia. Namun perang ataupun tidak, rasanya pilihan yang sama beresikonya. Andaikan prajurit Persia menguasai Yunani tanpa perang pun, maka penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan juga akan terjadi. Sehingga dengan menjunjung tinggi kebesaran sejarah Yunani, para jenderal itu memutuskan untuk memerangi Persia. Jumlah pasukan Yunani yang ada di puncak pegunungan Marathon ada 12.000 orang. Jumlah ini sudah termasuk milisi yang tidak terlatih.

Sebelum perang dimulai, Yunani menentukan panglima mandala Marathon. Yang kemudian diserahkan kepada Miltiades. Ia adalah seorang ksatria kerajaan yang sudah kenyang dengan peperangan. Miltiades muda pernah ikut berperang untuk Persia, namun memboikot dan pulang ke tanah airnya, Yunani. Sehingga ia tahu kelemahan-kelemahan prajurit Persia. Konon, nenek moyang Miltiades adalah semut-semut yang diubah menjadi manusia oleh Dewa Zeus, bernama Myrmidon. Selain Miltiades dan Callimachus, Jendral Yunani yang nantinya punya andil besar di Marathon, yaitu Themistocles dan Aristides. Themistocles nantinya menjadi pendiri angkatan laut Yunani.

Genderang Perang Ditabuh
Suatu sore, September 490 SM, Miltiades memberi instruksi kepada para prajurit untuk mempersiapkan diri. Sesuai dengan kebiasaan Yunani, prajurit dikelompokkan dalam suku masing-masing. Karena saat itu belum ada seragam, cara ini digunakan agar mereka lebih mudah dikenali dan dikomando. Urutan pasukan juga disesuaikan dengan kedekatan wilayah antar suku, untuk mempermudah bahasa, kekompakan dan koordinasi.
Prajurit Yunani pun segera siaga. Sesuai dengan perundingan, mereka dibagi menjadi tiga sayap. Callimachus memimpin sayap kanan, serta Themistocles dan Aristides memimpin di tengah. Di sayap kiri, ada ribuan pasukan suku Platæan yang terkenal gagah berani. Miltiades berdiri di depan dan berteriak, “Saudaraku putra Yunani yang agung! Mari berperang untuk negaramu. Mari berperang untuk anak dan istrimu – yang begitu membanggakan ayahnya. Mari bertempur demi kejayaan negeri ini. Semuanya……serbu!” Yang diikuti dengan raungan suara terompet perang.
Themistocles dan Aristides, memimpin prajuritnya yang ada di tengah berlari menuruni pegunungan. Sedangkan pasukan sayap masih bersembunyi. Ini adalah taktik untuk mengelabui dan menjepit musuh. Jumlah prajurit tengah pun dibuat lebih kecil daripada yang ada di sayap. Namun para prajurit ini adalah prajurit berani mati yang sudah mendapat pelatihan di sekolah wrestling, Athena. Mereka adalah ahli pertempuran jarak dekat. Miltiades menginstruksikan agar mereka berlari sekencang mungkin, sehingga prajurit Persia terpojok di pantai.

Melihat prajurit Yunani dalam jumlah kecil berlari menuruni gunung tanpa kuda dan pelindung badan, prajurit Persia malah mengira ada prajurit gila yang akan bunuh diri. Apalagi kekuatan utama prajurit Persia adalah tentara berkuda (kavaleri). Dengan pongah mereka menyambut serangan Yunani. Miltiades, yang terkenal jenius, masih menunggu saat yang tepat untuk menggerakkan pasukan sayapnya. Ia masih berada di balik gelapnya pegunungan Marathon saat pasukan tengah bergerak turun.

Pertempuran berat sebelah tidak terhindarkan. Pasukan tengah yang diumpankan terlihat kuwalahan dan bergerak mundur. Saat inilah terompet perang berbunyi untuk kedua kali. Miltiades memimpin pasukan sayap bergerak turun dan mengejutkan prajurit Persia. Pasukan sayap Yunani yang datang tanpa disangka-sangka telah menurunkan mental prajurit Persia. Prajurit sayap Yunani langsung menusuk pusat pertahanan. Ini membuat prajurit Persia kacau balau, karena menghadapi musuh dari kiri – kanan dan depan.

Di malam gelap itu, pertumpahan darah terbesar pertama dalam sejarah perang tak bisa dihindarkan. Namun pertempuran ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa jam kemudian, prajurit Persia mulai kehilangan percaya diri. Datis memerintahkan anak buahnya mundur ke kapal untuk melarikan diri. Prajurit Yunani pun berusaha membakar kapal-kapal Persia. Pertempuran berkecamuk di sepanjang pantai dan berubah menjadi ajang pembantaian prajurit Persia yang mencoba meloloskan diri.

Di saat kritis menjelang kemenangan, dua Jenderal Yunani gugur, yaitu panglima gabungan Callimachus dan Jenderal Stesilaus. Kapal-kapal prajurit Persia bisa meninggalkan pantai Marathon. Namun Miltiades segera memutar otaknya. Ia mencurigai bahwa kapal-kapal prajurit Persia akan menuju Athena yang lengang, karena semua prajurit berada di Marathon. Ini juga berarti sepertiga penduduk laki-laki dewasa Yunani tidak ada di rumahnya. Bila Datis menyerang Athena, akan mudah sekali untuk menghancurkan ibukota negara itu. Maka Miltiades pun membawa sebagian pasukan berbaris (sebagian sejarawan menyebutkan dengan kata “berlari”) ke Athena, meninggalkan Aristides dan pasukannya di Marathon. Dan betul adanya, pagi-pagi kapal-kapal prajurit Persia sudah mulai merapat di pantai Athena. Namun Datis begitu kecewa, karena ia melihat ribuan pasukan Miltiades sudah menunggu di pantai. Kapal-kapal itupun berbalik arah dan pulang ke Persia yang ada di seberang lautan.

Yunani berhasil menangkap tujuh kapal dan membunuh 6400 prajurit Persia. Korban di pihak Yunani adalah 192 prajurit. Prajurit Yunani yang gugur dimakamkan di Marathon. Ini sebenarnya tidak sesuai dengan tradisi Yunani, yang memakamkan pahlawannya di sebuah makam kehormatan di tepian kota Athena, bernama Cerameicus. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati jasa para prajurit sekaligus lembah Marathon, yang telah ikut menjadi saksi peristiwa besar di malam itu. Di Marathon dibangun sepuluh tugu untuk penghormatan kepada sepuluh suku Yunani yang ikut bertempur di Marathon.
Demokrasi Sejak Zaman Batu

Kilas balik ke belakang, Persia adalah icon keunggulan Asia terhadap Eropa. Asia juga menjadi kiblat budaya dan kehidupan sosial lainnya. Negara-negara Asia begitu disegani saat itu. Namun demikian perkembangan peri kehidupan sosial dan demokrasi tidak seperti apa yang terjadi di Eropa. Saat pertempuran Marathon terjadi, Yunani sudah berbentuk republik dan mengembangkan pemerintahan demokratis. Sedangkan Persia walaupun sudah menjadi negara kaya masih diperintah oleh Raja yang memilih dirinya sendiri. Asia dipenuhi dengan praktek poligami, korupsi, dan berbagai macam tindakan barbarian. Hingga saat inipun, Asia masih belum meninggalkan 

Lari Marathon yang sering digelar di berbagai negara sebenarnya adalah peringatan kemenangan bangsa Eropa atas Asia. Zaman dulu, ini adalah momen penghinaan kepada Asia. Namun kita tidak perlu risau dengan itu, karena merencanakan apa yang akan kita kerjakan ke depan lebih berguna dibanding membanggakan masa lalu.

Minggu, 27 Maret 2011

KHOMEINI PULANG, REVOLUSI IRAN DIMULAI

Diposting oleh re di 07.14
Pada 32 tahun lalu, Ayatullah Khomeini kembali ke Iran tetelah lebih dari 14 tahun hidup di pengasingan. Pulangnya pemimpin kharismatik Syiah ini menjadi simbol dimulainya Revolusi Islam di Iran untuk menggulingkan kekuasaan monarki.
Stasiun berita BBC saat itu melaporkan, lebih dari lima juta warga berbaris di jalanan Teheran saat pemimpin Syiah Iran tersebut tiba di bandara Teheran dari Paris, Prancis
Khomeini diasingkan ke Irak pada tahun 1964 setahun setelah ia dipenjarakan oleh Shah Iran. Pada tahun 1978, Khomeini pindah ke Paris dan mulai menyusun gerakan revolusi Islamnya di ibukota Prancis tersebut.
Pada Januari 1979, gerakan revolusi yang dirancang Khomeini berhasil menggusur pemerintahan Shah Iran.
Setibanya di Iran, Khomeini terus melanjutkan gerakan revolusinya dan mulai mendukung milisi Islam yang pro kepadanya.  Dua minggu kemudian, PM Shahpur Bakhtiar yang pro Shah mengundurkan diri dan Khomeini menunjuk Mehdi Bazargan sebagai perdana menteri yang baru.
Dua bulan kemudian, pada April 1979, Khomeini mengumumkan berdirinya Republik Islam Iran. Di dalam pemerintahan Iran yang baru ini, Ayatullah Khomeini berperan sebagai pemimpin tertinggi sekaligus pemimpin spiritual Iran. Khomeini meninggal pada bulan Juni 1989, sepuluh tahun sejak kepulangannya ke Iran.

PEMBEBASAN NELSON MANDELA

Diposting oleh re di 07.11
Tepat 21 tahun lalu, pejuang anti diskriminasi di Afrika Selatan (Afsel), Nelson Mandela, bebas dari penjara. Dia sebelumnya ditahan selama hampir 26 tahun oleh rezim Apartheid, yang menerapkan kebijakan supremasi warga kulit putih di Afsel.


Menurut stasiun History Channel, pembebasan Mandela berkat peran dari presiden Afsel saat itu, F. W. de Klerk. Pembebasan Mandela merupakan bagian kebijakan de Klerk untuk menghapus politik apartheid secara bertahap.
Seminggu sebelum pembebasan bersejarah itu, de Klerk mencabut undang-undang apartheid yang melarang aktivitas organisasi kulit hitam, seperti Kongres Nasional Afrika (ANC) dan sejumlah organisasi anti apartheid lainnya.

Mandela ditahan oleh rezim Apartheid pada Juni 1964 karena dituduh melakukan makar dan sabotase. Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan menghabiskan sebagian besar masa tahanannya di Pulau Robben, tidak jauh dari Cape Town.
Pada tahun 1980-an, pemerintah Afsel berkali-kali menawarkan pembebasan bersyarat kepada Mandela namun dia menolaknya.

Sekeluar dari penjara, Mandela kembali memimpin ANC dan bersama partainya berhasil memenangkan pemilu multi rasial pertama di Afrika Selatan. Berkat kemenangannya tersebut, Mandela terpilih sebagai presiden Afsel menggantikan de Klerk.
Pada tahun 1997, Mandela mundur dari kepemimipinan ANC, digantikan oleh Thabo Mbeki. Dua tahun kemudian, Mandela menolak memperpanjang masa jabatannya sehingga memberi jalan bagi Mbeki untuk menjadi presiden kulit hitam kedua Afrika Selatan.
Berkat perjuangannya membela hak-hak warga kulit hitam Afsel, pada tahun 1993 Mandela dianugerahi Nobel Perdamaian bersama-sama dengan de Klerk.

PEMBUNUHAN MALCOLM X

Diposting oleh re di 07.08
Pada 46 tahun yang lalu, pemimpin kelompok Muslim kulit hitam di AS,  Malcolm X,  tewas ditembak. Dia dibunuh dari jarak dekat oleh tiga pria bersenjata.

 
Menurut stasiun berita BBC, Malcolm ditembak saat tengah berpidato di hadapan ratusan pendukungnya di distrik Harlem, New York. Pria yang memiliki empat orang anak tersebut tewas dengan lima belas luka tembakan sesaat setelah tiba di rumah sakit.

Malcolm X, yang bernama asli Malcolm Little, merupakan mantan pemimpin organisasi Nation of Islam (NoI). Ia keluar dari organisasi kulit hitam tersebut pada tahun 1964 setelah berseteru dengan pendirinya, Elijah Muhammad.

Malcolm kemudian mendirikan organisasi keagamaan baru bagi warga Muslim kulit hitam bernama Muslim Mosque, Inc. Organisasi baru ini lebih bersifat moderat dan menganut ajaran Islam orthodoks, bukan yang telah dimodifikasi seperti yang dilakukan Nation of Islam.

Perubahan sikap Malcolm X yang telah berganti nama menjadi El Hajj Malik El Shabazz sepulangnya dari Mekkah tersebut, tidak disenangi para pemimpin Nation of Islam. Berkali-kali anggota kelompok tersebut melakukan percobaan pembunuhan terhadap Malcolm dan keluarganya.

Seminggu sebelum peristiwa penembakan, rumah Malcolm di New York dibom oleh orang tidak dikenal. Puncaknya, pada 21 Februari 1965, tiga pria bersenjata menerobos ruangan tempat Malcolm berpidato di Manhattan dan langsung menyarangkan lima belas peluru ke tubuhnya.
Pada bulan Maret 1966, tiga orang pembunuh Malcolm dijatuhi hukuman seumur hidup. Dua di antara mereka merupakan anggota Nation of Islam.

Dua puluh enam tahun kemudian, kisah hidup El Shabazz diangkat ke layar perak dengan judul Malcolm X. Film yang diperani oleh Denzel Washington tersebut berhasil meraih nominasi Oscar untuk kategori Aktor Terbaik dan Kostum Terbaik.

PEMBUNUHAN PM SWEDIA

Diposting oleh re di 07.06
 Pada 25 tahun lalu, seorang pria menembak Perdana Menteri (PM) Swedia, Olof Palme. Dia tewas dengan dua luka di perut, sementara isterinya selamat meski mendapat luka tembak di punggung. 

Menurut stasiun berita BBC, Olof bersama isterinya, Lisbeth, baru saja keluar dari gedung bioskop di pusat kota Stockholm saat orang tidak dikenal tiba-tiba menembak pasangan tersebut.

Olof Palme menjabat perdana menteri Swedia mewakili Partai Sosial Demokrat. Semasa hidupnya, Palme mendukung keterbukaan dan kesetaraan di kalangan masyarakat.

Kebijakan Palme yang mendukung kelas pekerja, negara berkembang, dan anti imperialisme membuatnya dituding sebagai pro komunis. Uniknya, meski berstatus pejabat tinggi, Palme menolak dikawal di luar acara resmi, dan kerap berjalan seorang diri di dalam maupun di luar kota Stockholm.

Motif serta pelaku pembunuhan Palme tidak pernah terungkap dengan jelas. Seorang warga Swedia bernama Christer Petterson pernah ditangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh sebagai pembunuh Palme, namun kemudian dibebaskan karena dipandang tidak bersalah.

Petterson sendiri meninggal dunia pada bulan September 2004. Namun, sebelum meninggal, ia sempat mengaku jika dirinyalah yang membunuh perdana menteri Swedia itu.

PM WANITA ISRAEL PERTAMA

Diposting oleh re di 07.04
Pada 42 tahun lalu, Golda Meir berhasil menjadi perdana menteri Israel. Dia merupakan perempuan pertama yang memimpin Negara Zionis itu.


Menurut stasiun berita The History Channel, Meir berhasil meraih dukungan 287 anggota komite pusat Partai Buruh, yang saat itu tengah berkuasa. Mantan menteri luar negeri berusia 70 tahun tersebut diangkat sebagai perdana menteri baru menggantikan Levi Eshkol, yang meninggal akibat serangan jantung.
Jalan Meir menuju kursi perdana menteri terbuka lebar setelah dua pesaing terdekatnya, Pejabat PM Yigal Allon dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan, mengundurkan diri dari pencalonan.
Setelah menjabat selama tujuh bulan, pada Oktober 1969 Meir kembali terpilih sebagai perdana menteri setelah memenangkan pemilu Israel.

 

Sayangnya, masa jabatan kedua Meir dinodai insiden perang Arab-Israel tahun 1973 yang membuatnya banyak dikritik oleh warga Israel.
Meskipun perang tersebut akhirnya dimenangi Israel, namun citra Meir di negara Zionis tersebut tidak pernah pulih seperti sedia kala. Alhasil, pada tahun 1974, perdana menteri wanita pertama Israel tersebut mengundurkan diri.

PEMBUNUHAN PM SERBIA

Diposting oleh re di 07.02
Delapan tahun lalu, Perdana Menteri (PM) Serbia, Zoran Djindjic, tewas ditembak seorang penembak gelap saat tengah berjalan menuju gedung pemerintah di Beograd. Sebelumnya, dia beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan.


Menurut stasiun berita BBC, Djindjic tewas dengan satu luka tembakan di jantungnya. Salah seorang pengawalnya juga terluka akibat terkena tembakan di perut namun berhasil selamat.
Sejak menjabat perdana menteri Serbia pada 25 Januari 2001, Zoran Djindjic banyak dihujat kelompok garis keras Serbia akibat kebijakannya yang pro-Barat.

Alhasil, banyak warga Serbia, terutama simpatisan sayap kanan, yang memandang Djindjic sebagai pengkhianat.Penyandang gelar doktor dalam bidang filsafat tersebut dianggap terlalu tunduk terhadap kepentingan Barat. Hal ini terbukti dengan diserahkannya mantan presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic, ke Mahkamah Internasional di Den Haag pada tahun 2001.

Kebijakan dalam negeri Djindjic yang reformis dan terbuka juga tidak disukai tokoh-tokoh Serbia, terutama kalangan mafia. Djindjic dipandang mengancam keberadaan organisasi mafia di Serbia, yang sejak pecahnya perang Balkan pada awal tahun 1990-an, mendominasi kehidupan politik dan ekonomi di negara tersebut.
Akibatnya, berkali-kali organisasi mafia dan lawan politik Djindjic di Serbia berusaha membunuh mantan aktivis mahasiswa tersebut. Usaha mereka baru berhasil pada 12 Maret 2001 setelah Zvezdan Jovanovic, seorang anggota mafia, menembak mati Djindjic saat akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swedia, Anna Lindh.

Menurut hasil investigasi polisi, Jovanovic menembak Djindjic atas perintah Milorad Ulemek, tokoh mafia paling terkenal di Serbia. Ulemek adalah mantan komandan polisi khusus Yugoslavia di bawah Presiden Milosevic.
Atas kejahatannya tersebut, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 40 tahun kepada Milorad Ulemek. Sebelas anak buah Ulemek, termasuk Jovanovic juga diganjar hukuman oleh pengadilan Serbia.

Kamis, 03 Maret 2011

GIE

Diposting oleh re di 10.30
Soe Hok Gie terlahir dari keluarga Tionghoa dengan strata ekonomi menengah di Jakarta. Gie adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah. Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius, yang merupakan salah satu sekolah dengan populasi siswa Tionghoa yang cukup besar. Ia adalah seorang anak yang berpendirian teguh dalam memegang prinsip dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya. Sejak usia 15 tahun, Gie yang duduk di bangku SMP sudah mulai menuliskan kesehariannya dalam sebuah buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran dan film ini terinspirasi dari karya tersebut.
Sejak di bangku sekolah, Gie telah memiliki pemikiran yang kritis. Jika terdapat hal yang tidak berkenan dan salah menurut pandangannya, ia akan mengkritiknya. Ia berani mengoreksi gurunya yang menyatakan bahwa Chairil Anwar adalah pengarang prosa “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”. Gie yakin pengarangnya adalah Andre Gide, seorang sastrawan yang bukunya telah dibacanya dan Chairil adalah penerjemah. Gurunya tetap bersikeras akan pendapatnya. Tidak ada yang mengalah dan Gie dipaksa mengulang kelas tersebut. Dan hal itu kembali diprotesnya.

Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia yang ditandai dengan konflik antara militer dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Gie dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan mana pun. Gie mengetahui tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi di bawah pemerintahan Soekarno dan dengan tegas bersuara melalui kritikan-kritikan tajam di media. Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka dengan mendaki gunung dan menikmati alam Indonesia dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, serta menikmati kesenian tradisional.
Situasi politik saat itu membuat mahasiswa terbagi atas berbagai kelompok yang saling bentrok. Pada bulan September 1965, terjadi peristiwa G-30 S sebagai puncak pertentangan antara pihak militer dan PKI. Peristiwa ini ditandai dengan demonstrasi besar-besaran, jatuhnya rezim Soekarno, dan pembubaran PKI yang diikuti pembantaian massal yang menimbulkan korban hingga lebih dari satu juta orang.
Tan Tjin Han, teman kecil Gie, sangat mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Saat keduanya dipertemukan kembali, Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat dalam PKI. Dia pun mendesak Tan untuk meninggalkan segala ikatan dengan PKI, tetapi Tan menolaknya.

Gie semakin kritis kepada pemerintah yang mulai bertindak sewenang-wenang menaikkan harga. Hatinya miris melihat rakyat yang mengantre demi mendapatkan kebutuhan pokok. Opininya yang mengkritisi kebijakan pemerintah dimuat di koran-koran terkemuka. Gie pun melihat teman seperjuangannya mulai melupakan idealismenya. Mereka menduduki bangku parlemen dan menikmati fasilitas yang sangat bertolak belakang dengan keadaan masyarakat kecil yang memprihatinkan. Gie pun mulai menarik diri dari teman-temannya.

Gie sangat kecewa karena ia merasa teman-temannya telah mengkhianati idealismenya. Dia adalah satu di antara mahasiswa yang turut berdemonstrasi menuntut pengunduran diri Soekarno, tetapi setelah Soekarno tidak lagi berkuasa dan digantikan Soeharto, teman-temannya justru ikut bergabung dalam perpolitikan nasional. Akan tetapi, Gie tetap kritis dan menyampaikannya melalui tulisannya di media massa. Pada tanggal 16 Desember 1969, Gie menghirup gas beracun di puncak Semeru. Sehari menjelang usianya ke 27 tahun, Soe Hok Gie meninggal dunia.

Jumat, 24 Desember 2010

MELETUSNYA GUNUNG TAMBORA

Diposting oleh re di 20.11
Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.

Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m dpl.
Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.

Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km.

Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia.

Sangat Mencekam

Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 10 April 1815, pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.

Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.

Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.

Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.

Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api.

Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.

Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.

Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsat empat kali lipatnya.

Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.

Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.

Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora. Menurut ahli botani Swis, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang.
Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas

Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.

Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa alasan. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api.
Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen.
Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.

Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.

Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain-lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan.
Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.

Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata; ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang.
Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.

NAPOLEON, RAFFLES, dan TAMBORA


Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.

Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.

Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.

Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah. Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.

Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.

Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.

Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh.

SEJARAH PERJUANGAN MESIR

Diposting oleh re di 20.07
Mesir dikuasai oleh Turki Osmani tahun 1517 di masa pemerintahan Sultan Salim I. Tahun 1769 Mesir berhasil lepas dari Turki Osmani selama beberapa periode.
Di bulan Juni 1797, Perancis masuk ke Mesir pertama kali melalui Alexandria yang dipimpin oleh Napoleon. Setelah bentrok berkali-kali antara orang-orang Osmani dengan Perancis, akhirnya Perancis bisa diusir berkat persekutuan antara Osmani, Inggris dan Mamalik. Dan Mesir kembali jatuh ke tangan Turki Osmani pada bulan Oktober 1801.

Berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Osmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya kekuasaan di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.

Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Alexandria bulan Maret 1807. Tapi berkat kelihaian Muhammad Ali Pasha dalam diplomasi, di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Alexandria pada bulan Agustus 1807.

Di masa Muhammad Ali Pasha - dianggap pendiri Mesir modern- inilah kekuasaan Mesir meluas sampai ke Sudan, Syria, bahkan para tentaranya turut berperang bersama Turki di kapulauan Yunani, Asia Kecil, hingga Eropa Timur. Malangnya Muhammad Ali Pasha diasingkan oleh Sultan Osmani atas tekanan Inggris pada tahun 1840.

Sesudah Muhammad Ali Pasya, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854) dan Said Pasha (1854-1863). Namun di masa mereka Mesir mengalami kemerosotan, sampai muncul seorang pemimpin besar yang bernama Khedive Ismail (1863-1879) yang memeperbaiki kembali kehidupan sosial politik di Mesir.

Sementara itu, Terusan Suez mulai direncanakan oleh Ferdinand de Lesseps saat masa Sultan Said Pasha tahun 1857, dan baru mulai digali pada 25 April 1859. Terusan ini dibuka pertama kali tanggal 17 November 1869, kala Khedive Ismail masih memimpin. Berhubung Mesir mengalami kemerosotan ekonomi dengan pembukaan Terusan Suez, ditambah pula campur tangan asing yang berlebihan, akhirnya Sultan Ottoman menurunkan Khedive Ismail dari jabatannya tahun 1879, lalu digantikan oleh anaknya, Taufiq. Sewaktu pemerintahan Taufiq (yang dekat dengan Inggris) inilah terjadi beberapa peristiwa politik penting, diantaranya revolusi yang dipimpin oleh Ahmad Orabi. Menghadapi saat-saat genting seperti itu, Inggris kembali melakukan agresi militer ke Mesir. Setelah pertempuran beberapa kali di kawasan Delta, mereka terus bergerak dan berhasil menguasai Cairo pata 14 Desember 1882.
Inggris baru melepaskan Mesir dan Turki Osmani pada tahun 1914, karena Mesir membantu Turki dalam perang Dunia I yang m,elawan Sekutu (termasuk diantaranya Inggris).

REVOLUSI 1919
Seusai Perang Dunia I pada November 1918, di Mesir muncul pemimpin yang bernama Saad Zaghlul. Ia berusaha dan berjuang menuntut kemerdekaan Mesir dari Inggris. Lalu Inggris menangkap Saad Zaghlul serta mengasingkannya, sehingga membangkitkan kemarahan rakyat Mesir. Maka pada 9 MAret 1919 terjadilah revolusi besar menentang Inggris di Cairo dan seluruh penjuru Mesir yang mennyebabkan Inggris terpaksa merubah kebijakan politiknya terhadap Mesir serta memebebaskan Saad Zaghlul. Pahlawan besar ini akhirnya wafat pada 23 Agustus 1927.
Disela-sela lintasan sejarah itu, Mesir sempat masuk organisasi Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) pada bulan Mei 1937, dan sekaligus menjadi salah satu negara pemrakarsa berdirinya PBB.

REVOLUSI JULI 1952
Penjajahan Inggris dan campur tangan asing yang merajalela serta perang Palestina 1948, ditambah sistem kerajaan yang menindas rakyat dan tidak adanya demokrasi yang mengakibatkan merosotnya ekonomi serta rusaknya kehidupan sosial, seluruh faktor tersebut memaksa rakyat Mesir meneriakkan satu kata; "revolusi".

Kondisi ini mendorong sebagian perwira -yang menamakan diri Dhubbath Al-Ahrar (Dewan Jendral) dibawah pimpinan Gamal Abdel Naser- untuk merubah dan memperbaiki situasi di Mesir.
Tanggal 23 Juli 1952 pasukan Dhubbath Al-Ahrar bergerak menguasai pusat-pusat pemerintahan dan sarana-sarana vital lainnya, serta mengepung istana Abdeen. Lalu mereka mengeluarkan siaran di radio yang mengumumkan pengambilalihan kekuasaan di Mesir. Ketika itu Mesir masih diperintah oleh Raja Farouk yang naik tahta sejak 1936. Oleh Dhubbath Al-Ahrar, Raja Farouk dipaksa menyerahkan jabatan kepada anaknya, Fouad II. Berhubung Fouad II belum cukup dewasa, maka kekuasaan dipegang junta (dewan pemerintahan), dibentuk oleh Dubbath Al-Ahrar. Tapi mereka melihat bahwa sistem kerajaan tidak cocok lagi dengan kehidupan rakyat Mesir. Akhirnya mereka mengumumkan berdirinya sistem negara Republik pada 18 Juni 1953, dan Jenderal Muhammad Naguib terpilih sebagai presiden pertama sampai tahun 1954.

Diilhami oleh revolusi ini, Sudan, yang sebelumnya masuk wilayah otoritas Mesir, menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1956. Uniknya, Mesir lah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Sudan. Selanjutnya, Sudan diterima sebagai anggota Liga Arab.
Kembali kepada penjajahan Inggris, setelah melewati perjuangan nan panjang, akhirnya tentara Inggris berhasil dipaksa keluar dari Mesir. Penarikan terakhir tentara Inggris keluar dari Mesir dilakukan pada tanggal 18 Juni 1956. Dan hari 18 Juni ini termasuk hari besar yang diperingati tiap tahun sebagai 'Iedul Galaa (Evacuation Day).

PERSEKONGKOLAN TERHADAP MESIR
Israel (dibantu oleh Inggris dan Perancis) menyerang Mesir pada tahun 1956. Salah satu sebab langsungnya adalah nasionalisasi Terusan Suez sejak 26 Juli 1956 yang sahamnya banyak dimiliki oleh Inggris maupun Perancis. Namun, dengan menerapkan perang habis-habisan, persekongkolan yang dikenal sebagai al-'Udwan al-Tsulatsi (Tripartote Agression) ini berhasil dilumpuhkan. Lalu Inggris dan Perancis mengudnrukan diri dari koa-kota sepanjang Terusan Suez.

PERANG 1967
Tentara Israel yang bergerak keperbatasan Syiria membuat Mesir gusar dan mengirim tentaranya ke Sinai serta menutup Teluk 'Aqabah yang membawa kerugian besar terhadap Israel. Maka pada 5 Juni 1967 Israel mendadak menyerang Mesir habis-habisan lewat udara, darat dan laut, sehingga mereka berhasil menduduki tepi timur Terusan Suez. Sedangkan di front Suriah, Israel berhasil menguasai dataran Tinggi Golan, bahkan PAlestina dan sebagian Jordan. Hal ini membuat seluruh negara Arab berdiri di belakang Mesir dan bahu-membahu menyerang tantara Israel yang berada di kota-kota Terusan Suez. Dalam saat-saat genting in ipemimpin Gamal Abdel Naser meninggal dunia taun 1970, setelah sebelumnya menggantikan posisi Jenderal Muhammad Baguib sebagai presiden (tanggal 23 Juni 1954).
Tentara Mesir yang dipimpin oleh presiden baru, Anwar Sadat, berhasl menyeberangi Terusan Suez dan menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadlan, tanggal 6 Oktober 1973 -pemandangan perang ini dapat anda saksikan secara 'live' di gedung Panorama Oktober, Jl. Salah Salim, Cairo. Rakyat Mesir mengenagnya sebagai peristiwa Ubour. Setelah kemenangan Oktober ini, Israel menyadari kekuatan Mesir, sehingga mereka mau berdamai dan menyerahkan kembali seluruh kawasan Sinai yang direbut ke pangkuan Mesir.

Di kemudian hari, presiden Anwar Sadat mengunjungi Israel pada bulan November 1977 yang dianggap penghianatan oleh bangsa Arab lain. Atas prakarsa Jimmy Carter, presiden AS ketika itu, Anwar sadat dan Menahem Begin menandatangani suatu perjanjian perdamaian di Camp David pada bulan September 1978 yang lantas dikenal dengan Perjanjian Camp David. Hal ini mengakibatkan Mesir dikeluarkan dari Liga Arab (dan markasnya dipindahkan dari Cairo ke Tunis). Tapi akhirnya Liga Arab kembali memasukkan Mesir sebagai anggota (bulan Juli 1990), dan markasnya kembali ke Cairo.
Pada peringatan hari kemenangan 6 Oktober, presiden Anwar Sadat ditembak dalam sebuah parade militer yang diadakan di daerah Nasr City, tahun 1981. Lalu Mohamed Husni Mubarak sebagai wakil presiden menggantikan posisi Anwar Sadat. sejak saat itu diumumkan undang-undang darurat militer yang diberlakukan sampai saat ini.

Pada tanggal 25 April 1982 Israel keluar dari seluruh Jazirah Sinai, berikutnya daerah Thaba pada tahun 1989.

Asal Nama Mesir
Seluruh bangsa Semit yang mengitari Mesir menyebut negeri ini dengan nama Misr, begitu pula dengan bangsa Asyiria. Sedangkan bangsa Aram menyebutnya Misrayin, dan bangsa Ibrani menyebut negeri ini dengan nama Misrayem.
Misr dalam bahasa Semit berarti batas. Bangsa-bangsa Semit yang terdiri dari bangsa-bangsa Asyiria, Aram, Ibrani, dan Arab menyebut daerah yang berada di perbatasan mereka sebagai Misr, dan menyebut orang-orangnya Misriyiin (orang-orang Mesir). Sebagaimana kata Finish dalam bahasa Latin yang berarti juga batas.

Sedangkan orang-orang Qibti menyebut negeri ini di zaman dahulu dengan istilah Kemy, yang berarti hitam atau tanah yang hitam.
Adapun orang-orang Asyiria dalam peninggalan-peninggalan prasasti Venekia menyebut negeri ini sebagai Hecobtah -yang diambil dari sebutan orang-orang Mesir sendiri buat ibukota kerajaan mereka dulu, yaitu Menaf (Memphis) -yang berarti "Bait (persemayaman) Roh Bietah". Bietah adalah Tuhan Mesir yang menangani serta melindungi perindustrian di masa dahulu.

Sementara orang-orang Yunani menyebut Mesir dengan nama Egyptus yang mereka dengar dan ambil dari orang-orang sebelumnya sejak masa dahulu. Dan nama Egyptus ini disebut berulang kali dalam syair-syair pujangga besar Yunani, Homerus.
Adapun kata Qibty berasal dari dibuangnya tanda rafa' dari Egyptus yaitu huruf "u-s (waw dan sin)" dan huruf pertama "E (alif): yang dianggap bangsa Arab sebagai huruf istihlak

Kamis, 23 Desember 2010

MARATHON, PERANG DUNIA PERTAMA

Diposting oleh re di 07.20 0 komentar
Kapan perang dunia terjadi untuk pertama kali? Sampai saat ini orang mengenal bahwa PD I terjadi antara tahun 1914-1918.   Padahal sebenarnya ini bukan perang dunia yang benar-benar pertama. Sejarawan militer klasik, Herodotus, mengatakan bahwa perang besar yang bisa dikategorikan sebagai PD I terjadi sebelum manusia mengenal peradaban.  PD I yang dikenal orang sekarang, antara Kekaisaran Jerman yang berhadapan dengan Inggris dan Perancis (1914-1918), adalah perang besar pertama di era modern, abad ke-20.     

Tahukah anda tentang Marathon? Dan apa hubungan PD I dengan Marathon?   Sebelumnya marilah kita melihat letak dan kondisi geografinya. Marathon sebenarnya adalah sebuah lembah di pantai timur Attica – Yunani, berjarak 22 mil ( 1 mil setara dengan 1,85 km) dari Athena.  Lembah ini berbentuk bulan sabit, dibatasi pegunungan dan pantai.  Pegunungan membentuk setengah lingkaran dan berkelok 6 mil, yang kedua tebingnya menjulur ke pantai sekaligus mengurung lembah Marathon.  Sedang jarak terjauh pegunungan dari pantai adalah 2 mil. 

Kalau hanya sekedar nama lembah, mengapa Marathon ramai-ramai diabadikan dalam bentuk olahraga lari 22 mil?  Tentunya orang akan bertanya demikian. Marathon, yang menurut legenda Yunani adalah tempat yang dihadiahkan kepada Hercules, merupakan saksi pertempuran 12.000 prajurit Persia dan 10.000 prajurit Yunani. Marathon adalah tempat terjadinya PD I yang sesungguhnya, sekaligus tanda lahirnya clash of civilization antara bangsa Asia dan Eropa, dalam rentang 2492 tahun yang lalu (490 SM).
 Ekspansi Bangsa Persia

Prajurit Persia mulai berdatangan di Marathon pada musim panas 490 SM.  Mereka menggunakan 600 kapal, dengan panglima Datis, didampingi keponakan Raja Persia, Artaphernes.  Menyikapi hal ini, para pejabat militer Yunani dan pasukannya segera berkumpul di lereng pegunungan Marathon.  Mereka segera menyusun strategi perang, menghadapi prajurit Persia yang telah berlabuh dan membuat perkemahan di Lembah Marathon.
Hadir di sana, sebelas anggota dewan perang Yunani.  Kesebelas orang itu dipilih setiap tahun dari sepuluh suku terbesar.  Kesemuanya berpangkat Jenderal dan satu orang ditunjuk sebagai panglima gabungan (Polemarch).   Tiap-tiap Jenderal menguasai pasukan  dari suku masing-masing dan memiliki kedudukan yang sama.   Sedangkan Polemarch mendapatkan hak istimewa untuk memimpin penyusunan strategi dan dalam perang berhak memimpin pasukan sayap kanan.

Panglima gabungan, salah satu bangsawan Yunani bernama Callimachus, memimpin pertemuan di pegunungan Marathon itu. Masih ada kegamangan dari bangsa Yunani untuk menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.  Apalagi, para prajurit Persia – anak buah Raja Darius, sekarang telah mendarat di Yunani.   Rakyat Yunani sudah melihat keganasan prajurit Persia di masa sebelumnya, yang telah berhasil membakar kerajaan-kerajaan lain dengan mudah. 

Persia adalah negara adikuasa di masa itu.   Dengan jumlah penduduk laki-laki dewasa yang tak lebih dari 30.000 orang, dan belum terlatih untuk perang, Yunani akan kesulitan menghadapi lebih dari 10.000 prajurit terlatih Persia. Namun perang ataupun tidak, rasanya pilihan yang sama beresikonya.  Andaikan prajurit Persia menguasai Yunani tanpa perang pun, maka penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan juga akan terjadi.  Sehingga dengan menjunjung tinggi kebesaran sejarah Yunani, para jenderal itu memutuskan untuk memerangi Persia. Jumlah pasukan Yunani yang ada di puncak pegunungan Marathon ada 12.000 orang.  Jumlah ini sudah termasuk milisi yang tidak terlatih.

Sebelum perang dimulai, Yunani menentukan panglima mandala Marathon. Yang kemudian diserahkan kepada Miltiades.   Ia adalah seorang ksatria kerajaan yang sudah kenyang dengan peperangan.  Miltiades muda pernah ikut berperang untuk Persia, namun memboikot dan pulang ke tanah airnya, Yunani. Sehingga ia tahu kelemahan-kelemahan prajurit Persia. Konon, nenek moyang Miltiades adalah semut-semut yang diubah menjadi manusia oleh Dewa Zeus, bernama Myrmidon.  Selain Miltiades dan Callimachus, Jendral Yunani yang nantinya punya andil besar di Marathon, yaitu Themistocles dan Aristides.  Themistocles nantinya menjadi pendiri angkatan laut Yunani.
 Genderang Perang Ditabuh
 Suatu sore, September 490 SM, Miltiades memberi instruksi kepada para prajurit untuk mempersiapkan diri.   Sesuai dengan kebiasaan Yunani, prajurit dikelompokkan dalam suku masing-masing.   Karena saat itu belum ada seragam, cara ini digunakan agar mereka lebih mudah dikenali dan dikomando.  Urutan pasukan juga disesuaikan dengan kedekatan wilayah antar suku, untuk mempermudah bahasa, kekompakan dan koordinasi.
Prajurit Yunani pun segera siaga.  Sesuai dengan perundingan, mereka dibagi menjadi tiga sayap.  Callimachus memimpin sayap kanan, serta Themistocles dan Aristides memimpin di tengah.   Di sayap kiri, ada ribuan pasukan suku Platæan yang terkenal gagah berani.   Miltiades berdiri di depan dan berteriak, “Saudaraku putra Yunani yang agung!   Mari berperang untuk negaramu.   Mari berperang untuk anak dan istrimu – yang begitu membanggakan ayahnya.   Mari bertempur demi kejayaan negeri ini.  Semuanya……serbu!”  Yang diikuti dengan raungan suara terompet perang.
Themistocles dan Aristides, memimpin prajuritnya yang ada di tengah berlari menuruni pegunungan.  Sedangkan pasukan sayap masih bersembunyi.  Ini adalah taktik untuk mengelabui dan menjepit musuh.  Jumlah prajurit tengah pun dibuat lebih kecil daripada yang ada di sayap.   Namun para prajurit ini adalah prajurit berani mati yang sudah mendapat pelatihan di sekolah wrestling, Athena.  Mereka adalah ahli pertempuran jarak dekat.    Miltiades menginstruksikan agar mereka berlari sekencang mungkin, sehingga prajurit Persia terpojok di pantai.

Melihat prajurit Yunani dalam jumlah kecil berlari menuruni gunung tanpa kuda dan pelindung badan, prajurit Persia malah mengira ada prajurit gila yang akan bunuh diri.  Apalagi kekuatan utama prajurit Persia adalah tentara berkuda (kavaleri).   Dengan pongah mereka menyambut serangan Yunani.  Miltiades, yang terkenal jenius, masih menunggu saat yang tepat untuk menggerakkan pasukan sayapnya.  Ia masih berada di balik gelapnya pegunungan Marathon saat pasukan tengah bergerak turun.

Pertempuran berat sebelah tidak terhindarkan.   Pasukan tengah yang diumpankan terlihat  kuwalahan dan bergerak mundur.  Saat inilah terompet perang berbunyi untuk kedua kali.   Miltiades memimpin pasukan sayap bergerak turun dan mengejutkan prajurit Persia.   Pasukan sayap Yunani yang datang tanpa disangka-sangka telah menurunkan mental prajurit Persia.  Prajurit sayap Yunani langsung menusuk pusat pertahanan.  Ini membuat prajurit Persia kacau balau, karena menghadapi musuh dari kiri – kanan dan depan.
Di malam gelap itu, pertumpahan darah terbesar pertama dalam sejarah perang tak bisa dihindarkan.  Namun pertempuran ternyata tidak berlangsung lama.  Beberapa jam kemudian, prajurit Persia mulai kehilangan percaya diri.   Datis memerintahkan anak buahnya mundur ke kapal untuk melarikan diri.   Prajurit Yunani pun berusaha membakar kapal-kapal Persia.   Pertempuran berkecamuk di sepanjang pantai dan berubah menjadi ajang pembantaian prajurit Persia yang mencoba meloloskan diri.
Di saat kritis menjelang kemenangan, dua Jenderal Yunani gugur, yaitu panglima gabungan Callimachus dan  Jenderal Stesilaus.  Kapal-kapal prajurit Persia bisa meninggalkan pantai Marathon.   Namun Miltiades segera memutar otaknya.  Ia mencurigai bahwa kapal-kapal prajurit Persia akan menuju Athena yang lengang, karena semua prajurit berada di Marathon. Ini juga berarti sepertiga penduduk laki-laki dewasa Yunani tidak ada di rumahnya.  Bila Datis menyerang Athena, akan mudah sekali untuk menghancurkan ibukota negara itu. Maka Miltiades pun membawa sebagian pasukan berbaris (sebagian  sejarawan menyebutkan dengan kata “berlari”) ke Athena, meninggalkan Aristides dan pasukannya di Marathon.   Dan betul adanya, pagi-pagi kapal-kapal prajurit Persia sudah mulai merapat di pantai Athena.   Namun Datis begitu kecewa, karena ia melihat ribuan pasukan Miltiades sudah menunggu di pantai.   Kapal-kapal itupun berbalik arah dan pulang ke Persia yang ada di seberang lautan.

Yunani berhasil menangkap tujuh kapal dan membunuh 6400 prajurit Persia.  Korban di pihak Yunani adalah 192 prajurit.  Prajurit Yunani yang gugur dimakamkan di Marathon.   Ini sebenarnya tidak sesuai dengan tradisi Yunani, yang memakamkan pahlawannya di sebuah makam kehormatan di tepian kota Athena, bernama Cerameicus.  Hal ini dimaksudkan untuk menghormati jasa para prajurit sekaligus lembah Marathon, yang telah ikut menjadi saksi peristiwa besar di malam itu.  Di Marathon dibangun sepuluh tugu untuk penghormatan kepada sepuluh suku Yunani yang ikut bertempur di Marathon.
Demokrasi Sejak Zaman Batu
Kilas balik ke belakang, Persia adalah icon keunggulan Asia terhadap Eropa.  Asia juga menjadi kiblat budaya dan kehidupan sosial lainnya.  Negara-negara Asia begitu disegani saat itu. Namun demikian perkembangan peri kehidupan sosial dan demokrasi tidak seperti apa yang terjadi di Eropa.   Saat pertempuran Marathon terjadi, Yunani sudah berbentuk republik dan mengembangkan pemerintahan demokratis.   Sedangkan Persia walaupun sudah menjadi negara kaya masih diperintah oleh Raja yang memilih dirinya sendiri.   Asia dipenuhi dengan praktek poligami, korupsi, dan berbagai macam tindakan barbarian.   Hingga saat inipun, Asia masih belum meninggalkan praktek-praktek era zaman batu tersebut.
Lihatlah bagaimana Yunani menyusun kekuatan perangnya di Marathon.  Praktek-praktek demokrasi pun sudah digunakan dalam kehidupan militer.   Setiap suku diperlakukan secara adil dan memiliki kedudukan sederajat.   Bahkan Panglima Gabungan pun dipilih setiap tahun dan dirotasi antar suku. Kita yang sudah hidup ribuan tahun setelah perang Marathon, belum tentu bisa melakukan hal ini.   Melaksanakan kaidah-kaidah demokrasi di negeri Indonesia yang katanya kaya akan nilai luhur dan budaya agung, bagaikan menegakkan benang basah.   Setiap ada pergantian pemimpin diikuti dengan saling sikut dan keributan.
Sekarang ini kita mewarisi tradisi negara-negara Asia zaman dulu.  Kita mewarisi tradisi  Raja-Raja Asia yang  memiliki kekuasaan tak terbatas dan memerintah negara dengan seenaknya sendiri.  Namun demikian,  seorang Raja adalah panutan dan idola rakyat walau perilakunya tidak pantas untuk dicontoh. Kebiasaan nenek moyang ini mengakar pada diri kita bahwa hidup yang enak akan didapatkan bila berkuasa. Kekuasaan diberikan untuk dinikmati, bukan untuk berbuat kebaikan.  Tak heran bila di negeri kita yang miskin ini, semua orang dari yang berstatus pejabat pemerintah sampai pemulung, mewarisi sifat-sifat Raja.  Mengapa? Raja itu kalau tidak tercapai keinginannya pasti marah, membuat huru-hara dan membunuh. Pernahkah anda mengenal dua aturan dasar seseorang berhati Raja?  Pertama, Raja tidak pernah salah.  Kedua, bila Raja akhirnya melakukan kesalahan maka kembali ke aturan pertama.
Lari Marathon yang sering digelar di berbagai negara sebenarnya adalah peringatan kemenangan bangsa Eropa atas Asia.  Zaman dulu, ini adalah momen penghinaan kepada Asia. Namun kita tidak perlu risau dengan itu, karena merencanakan apa yang akan kita kerjakan ke depan lebih berguna dibanding membanggakan masa lalu.
(Pernah dimuat di Majalah Intisari)

PERANG 6 HARI

Diposting oleh re di 07.18 0 komentar
Mesir menyimpan luka sejarah yang teramat dalam sejak kekalahan telak pada perang yang berlangsung hanya 6 hari melawan Israel pada bulan Juni 1967.     Mesir pada saat itu adalah lambang keberhasilan bangsa Arab.   Dengan kekalahan tersebut, wajah bangsa Mesir telah tercoreng moreng dihadapan negara Arab lainnya dan terhadap semua negara di dunia.

Kepedihan bangsa Mesir semakin runyam, saat Gemal Abdul Nasser wafat.   Tokoh ini adalah idola dan inspirator perjuangan bangsa Arab.   Gemal Abdul Nasser telah menjadi tokoh muda patriotis yang membawa Mesir pada sistem nasionalisme baru yang lebih demokratis.

Mesir benar-benar tidak menyangka akan dibuat tidak berkutik dalam waktu sesingkat itu.   Beruntung kemudian muncul seorang tokoh bernama Anwar Sadat yang kharismanya mampu menggantikan figur Gemal Abdul Nasser, Presiden Mesir sebelumnya.   Anwar sadat adalah rekan satu angkatan di Akademi Militer, dan rekan seperjuangan Gemal Abdul Nasser.
Bangsa Mesir terus menunggu sebuah waktu yang tepat untuk membalas kekalahan tahun 1967.   Dengan persiapan yang baik, akhirnya Mesir berhasil membalas kekalahan tersebut pada bulan Oktober 1973, dalam suatu perang yang dinamakan Perang Yom Kippur.   Perang ini bukan saja sebuah konfrontasi senjata semata, namun sebuah usaha untuk mengangkat derajat dan martabat bangsa Mesir.

Sampai sekarang tidak ada dokumen resmi yang bisa digunakan untuk mengklarifikasi semua kejadian perang udara, sepanjang perang Yom Kippur yang berlangsung 18 hari.   Apalagi, menganalisa sebuah pertempuran udara adalah sebuah tugas yang penuh tuntutan dan membuat orang frustasi walaupun sudah dilengkapi dengan dokumen resmi.   Hanya orang yang mempunyai latar belakang dan pengalaman di dunia kedirgantaraan dengan kualitas baik yang mampu melakukan analisa pertempuran udara.   Contoh klasik yang bisa kita ambil adalah pada Perang 18 hari antara Mesir dan Israel 26 tahun lalu, yang terkenal dengan nama Perang Oktober atau Perang Yom Kippur sebagai sebutan lainnya.  Karena data sering dipalsukan untuk tujuan kemenangan perang.  Data statistik Israel mengumumkan ada 52 kejadian perang udara melawan Mesir selama perang.    Israel juga mengkonfirmasikan telah berhasil menembak jatuh 157 pesawat musuh, sedangkan Mesir belum pernah mengumumkan keberhasilan mereka karena berbagai alasan. 
Perang yang dikobarkan oleh Mesir dan Suriah mulai tanggal 6 Oktober 1973 dengan nama Perang Yom Kippur adalah usaha Bangsa Arab untuk membalas kekalahan mereka sebelumnya, baik melalui perang maupun diplomasi melawan Israel. 

Untuk menghadapi supremasi Israel yang didukung Blok Barat, Mesir dan Suriah bergantung kepada Angkatan ke-4, Air defence Force (ADF), yang mengoperasikan beberapa baterai Surface to Air Missile (SAM) statis dan bergerak, dengan kualitas  yang sama baiknya seperti Anti Aircraft Artollery (AAA) yang mereka miliki.   SAM dan AAA yang dimiliki Mesir dan Suriah mampu meng-cover semua wilayah udara yang mereka miliki, bahkan banyak terjadi overlapping coverage. 

Mesir sendiri menyiapkan perang ini dengan sangat hati-hati.   Egyptian Air Force (EAF) diberikan sebuah misi terbatas pada seluruh rencana operasi yang akan dilaksanakan. Sebuah serangan udara kejutan akan dilakukan untuk membuka serbuan ke Israel.   Pesawat-pesawat EAF akan melaksanakan serangan jarak dekat melewati area yang aman dengan perlindungan rudal ADF.   Helikopter juga dikerahkan untuk menyusupkan pasukan komando ke wilayah Israel.   SAM dan AAA yang jangkauannya bisa melewati perbatasan, akan menghadang rudal dan pesawat Israel yang mengarah ke Mesir atau Suriah. 
Pada tahun 1973, EAF yang telah dilatih dengan baik mempunyai kekuatan yang sangat besar.   Berdasarkan laporan intelijen blok barat, kekuatan mereka terdiri dari 210 pesawat Mig-21, 100 pesawat Mig-17, 80 pesawat Su-7, 20 pesawat Su-20 dan 25 pesawat bomber jarak jauh Tu-16.   Pangkalan udara mereka menjadi semakin tangguh dengan perlindungan AAA dan SAM.   Rudal-rudal ini digelar berdasarkan pengalaman yang didapat dari Pertempuran 6 Hari pada bulan Juni 1967. 

Kekuatan ini didukung 4 Angkatan Udara di garis depan.   Algerian Air Force (AAF) mengirimkan 3 Skadron yang dilengkapi dengan pesawat Mig-21, Mig-17, dan Su-7.   2 Skadron Mirage III AU Libya juga dikirimkan ke Mesir bersama-sama dengan 2 Skadron  Hawker Hunter Irak.  Pada bulan Juni 1973, penerbang-penerbang Mig-21 Korea Utara jugat telah datang untuk membantu sistem pertahanan udara dengan pesawat Mig-21 di Pangkalan Udara Bir Arida.   Janji bangsa Maroko untuk mengirim 1 Skadron F-5 tidak bisa dilakukan, karena penerbang-penerbang dari Skadron tersebut terlibat pemberontakan yang gagal.   Pada tanggal 15 Oktober 1973, Saudi Arabia mengirimkan 9 helikopter Bell 205 ke Mesir sebagai tanggapan atas permintaan pemerintah mesir sebelumnya. 

Helikopter mesir sudah banyak yang rusak akibat perang sebelumnya.   Kekuatan Israel Air Force (IAF) adalah 4 Skadron pesawat F-4E Phantom sebagai kekuatan multirole, 4 Skadron Mirage IIIC dan Mirage V (produksi lokal) untuk Air To Air Combat.   Sedangkan 5 Skadron A-4 Skyhawk dan Dassault Super Mystere B-2 digunakan untuk tugas-tugas serangan udara ke darat.   Kekuatan ini harus bertempur 310 mil di arena pertempuran melawan kekuatan Mesir yang dibantu Suriah, Aljazair, Irak, dan Libya.   Perbandingan kekuatan antara Israel dan negara Arab tersebut adalah 1 : 3.   Perbandingan ini tentunya belum termasuk bantuan terselubung negara Barat, yang bisa meningkatkan kemampuan alutsista Israel berlipat-lipat ganda.
Pada tanggal 6 Oktober 1973 pukul 14.00, serangan besar benar-benar dihunjamkan pada setiap urat nadi pertahanan Israel.   Mengapa dipilih pukul 14.00 untuk memulai serangan tersebut   ?   Dengan memulai serangan pada sore tersebut, Mesir akan punya waktu penyerangan di siang hari yang cukup.   Israel sendiri tidak akan punya cukup waktu untuk membalas serangan pada siang hari.   Bila kegelapan malam sudah datang, pesawat-pesawat Israel akan kesulitan untuk malaksanakan serangan balik ke Mesir. 
EAF mengerahkan 200 pesawat tempur untuk menyerang posisi IAF di Sinai pada serangan gelombang pertama.   Aksi kedua berupa pendaratan pasukan komando dengan lusinan helikopter Mi-8, sementara Tu-16 digunakan untuk meluncurkan rudal AS-5, rudal dari udara ke darat buatan Rusia.   3 serangan ini berhasil mengejutkan pasukan Israel yang menderita banyak kerugian.

Lima belas menit setelah serangan udara tersebut, 8000 prajurit menggunakan 1000 perahu karet menyeberangi Terusan Suez dan dalam waktu 30 menit mampu menyusup ke berbagai tempat di Israel.   Serangan ini diikuti serangan artileri dan senjata dari darat ke darat lainnya.
Namun bukan Israel bila menyerah dalam sebuah serangan seperti itu.   Hari-hari berikutnya, Israel yang sempat terkesiap oleh serangan Mesir, berhasil melakukan serangan balasan dan menghadang laju armada koalisi Arab.   Apalagi Israel didukung dana dan dukungan internasional yang berlimpah.   Pertempuran udara semakin sering terjadi pada konfrontasi tersebut.   Serangan udara Mesir sering dilaksanakan dengan formasi 3 pesawat, sedangkan interceptor Israel menggunakan formasi 4 pesawat F-4. 
 Mengapa begitu sulit untuk membuat sebuah dokumentasi dan analisa pertempuran udara secara terbuka  ?   Karena masing-masing negara akan merahasiakan detail-detail pertempuran tersebut untuk keamanan strategi mereka masing-masing.  Sedangkan orang lain akan mustahil untuk mengikuti jalannya pertempuran yang terjadi jauh di atas awan.     Israel sendiri selalu mengumumkan jumlah pesawat yang berhasil ditembak oleh penerbang mereka, tanpa pernah memberikan keterangan yang benar berapa jumlah kerugian yang mereka derita. 

Israel memang sangat handal dalam bidang intelijen.   Israel bahkan mampu memonitor frekuensi radio pesawat-pesawat EAF, sehingga selalu mengetahui berapa banyak pesawat tempur Mesir yang lepas landas dan kembali ke pangkalannya setiap hari.   Sehingga mereka mampu menyiapkan kekuatan yang akan menghadang serbuan musuh tersebut. 

Perang akhirnya diakhiri dengan gencatan senjata pada tanggal 22 Oktober 1973.    Namun dengan perang ini, bangsa Arab bisa belajar bagaimana untuk menghadapi Israel.   Saat sebelumnya, semua yang berbau israel bahkan dianggap tabu buat rakyat Arab.  Hal ini membuat bangsa Arab buta terhadap kemajuan Israel.   Arab benar-benar tidak menguasai metode untuk menghancurkan kekuatan Israel yang mulai menjadi superior di Timur Tengah.   Di lain sisi, rakyat Arab terus saling bertengkar satu sama lain.   Lalu,  kapan mereka mau belajar bersatu   ?

KAPTEN ALBERT BALL, KEBESARAN TIADA TANDING.

Diposting oleh re di 07.09 0 komentar
GEREJA LENTON, Nottingham memiliki peninggalan Lenton Priory berupa prasasti batu abad ke-12 dari seni pahat Perancis yang merupakan salah satu prasasti terbaik di Inggris. Di Lenton pada tanggal 21 Agustus 1896, Albert Ball dilahirkan. Hidupnya sangat singkat, namun namanya diukir dalam sejarah Inggris sebagaimana prasasti Lenton.

Ayahnya, Mr. A. Ball, adalah seorang pemilik perkebunan sukses yang tertarik dengan industri mesin, dan menjadi anggota dewan kota sekaligus Mayor of Nottingham yang diberi gelar ksatria. Putra tertuanya adalah salah satu dari ketiga anaknya. Pada usia lima tahun ia menunjukkan inisiatifnya dengan menyalakan korek api yang diambilnya dengan bantuan sebuah kursi. Namun ketika sekolah di Grantham Grammar School, Nottingham High School, dan Trent College ia hanya memenangkan sekali saja penghargaan sekolah — sebuah medali perak untuk kemenangan lomba halang rintang.

Saat di sekolah, mata pelajaran favoritnya adalah kimia, mekanika, fotografi dan berkebun. Ia membuat sebuah kapal kecil di Trent College dan berlayar pulang dari Long Eaton. Di Skegness (sebuah tempat wisata di Laut Utara) ia membuat sebuah rakit, dan ketika rakit tersebut terlepas dari tambatannya karena gelombang besar ia mati-matian berenang berusaha menyelamatkannya. Kimia telah mengajarkannya cara membuat bubuk mesiu — hingga suatu kali ayahnya menemukan sebuah kota di kamar Albert bertuliskan “bubuk mesiu 117 pon.” Saat menjadi siswa di korps kadet ia menunjukkan bakatnya sebagai penembak ulung dengan revolver. Ia kemudian membeli sebuah mesin rusak, dan di rumah ayahnya di Sedgley House ia dan teman-temannya merombaknya hingga mesin kembali normal. Disana pula ia menciptakan peralatan wireless yang pada saat merupakan sebuah prestasi. Di sela-sela semua itu ia masih sempat menjadi komandan patroli kompi. Ia selalu sibuk dan tak pernah diam.

Ia bercita-cita untuk bergabung dengan industri mesin listrik, dan ketika masih sekolah ia telah memikirkan pengembangan sebuah pembangkit listrik rumah sederhana. Pada usia 17 tahun ia membeli saham di perusahaan mesin Nottingham. Ia tidak ingin meniru bisnis ayahnya namun menggali sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Namun, ia belum genap berusia 18 tahun ketika Perang Dunia I meletus dan melibatkan Inggris.

Rekrutmen militer sukarela dilakukan secara besar-besaran pada minggu-minggu pertama peperangan. Ball menghadiri sebuah pertemuan perekrutan bersama pamannya, kemudian Mayor of Nottingham, sebagai ketua. Duke of Portland berpidato. Albert merupakan sukarelawan pertama yang mendaftarkan diri sebagai prajurit tamtama anggota batalyon Teritorial kota di Sherwood Foresters, Nottinghamshire dan Derbyshire Regiment. Sekitar dua minggu kemudian ia dipromosikan sebagai sersan. Ia bertemu dengan seorang sersan senior yang mengenakan lencana penghargaan. Ball mengatakan kepada orang itu: “Suatu hari, saya juga akan mengenakan medali kehormatan.” Apakah ini menunjukkan ambisi militer ataukah hanya sekedar ramalan?
Ia pun mendaftar sebagai anggota komisi dan pada bulan Oktober 1914 ia diangkat menjadi letnan dua di resimennya sendiri. Saat mengikuti pelatihan di Inggris, sambil menunggu perintah pengiriman di garis depan, Ball melanjutkan hobi usahanya. Ia melakukan jual-beli motor dan mengirimkan uangnya ke rumah untuk investasi nantinya. Usaha yang telah didirikannya pun berkembang pesat karena bayaknya permintaan peralatan perang mekanis. Ia menanamkan uangnya di kantin kantor militer yang hampir bangkrut, dan setelah ia kelola menghasilkan keuntungan £ 20. Ia kemudian ditugaskan di Korps Motor North-Midland, dan ia percaya ini akan membawanya ke front pertempuran segera.

Apa yang membuatnya tertarik dengan dunia penerbangan tidak diketahui. Suatu kali ia bangun pukul tiga dini hari dan menaiki sepeda motornya dari Luton ke pangkalan udara Hendon, yang berjarak sekitar 30 mil. Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk belajar terbang. Pagi hari setelahnya ia mengikuti kursus penerbangan dengan pesawat Caudron sayap ganda di sekolah penerbangan Ruffi Bauman, dengan membayar £ 75 untuk instrukturnya.

Ball selalu berpenampilan rapi, namun ia adalah seorang pekerja keras. Seringkali ia harus menangani peralatan mekanis seperti mesin sepeda motor, sehingga tubuhnya belepotan oli, dan sekarang ia harus menangani mesin pesawat terbang. Suatu hari salah seorang perwira komandannya, yang akan memberinya tugas lain terharu melihat penampilannya. Dengan sedih Ball menulis surat ke rumah : “Mungkin saya harus berhenti bekerja dan pergi seperti orang gila.”

Sertifikat pilot Royal Aero Club No. 1898 yang dimilikinya dikeluarkan pada tanggal 15 Oktober 1915. Sehari sebelumnya ia dipanggil ke kantor Urusan Perang Inggris dan diberitahu bahwa ia telah diterima di Korps Terbang Kerajaan. Sekitar dua minggu kemudian ia ditugaskan di pangkalan udara di dekat Norwich. Di sana ia diberi kesempatan untuk pergi ke Perancis bersama dengan skadron No. 18 sebagai pendamping pilot; namun setelah dibayar untuk instruksi terbangnya, ia memutuskan untuk tetap tinggal di tempatnya sampai ia menjadi pilot militer yang memenuhi syarat.

Ball beberapa kali mengalami kecelakaan selama masa pelatihannya. Setelah memberitahu keluarganya lewat surat, ia mendapat balasan dari saudara perempuannya Lois yang khawatir terhadap keselamatannya. Ball pun membalasnya dan meminta saudaranya untuk tidak mengatakan itu karena akan membawa nasib buruk.  (Dan kenyataannya bisa mempengaruhi pikiran). Untuk meyakinkan saudara perempuannya ia mengirim salah satu bagian pesawat yang hancur karena kecelakaan ke rumah — suatu penjelasan logis yang jitu.
Ia bertemu dengan beragam orang selama masa pelatihannya. Suatu kali, saat diminta menerbangkan pesawat Maurice Farman Shorthorn setelah instruksi singkat selama lima belas menit, ia melakukan pendaratan yang buruk dan merusakkan pesawat. Instrukturnya yang marah menyuruh ia keluar dan mencari sekolah lain untuk wanita dan ia tidak akan diijinkan untuk menerbangkan pesawat lagi. Ball menjawab dengan kalem kalau ia tidak diperbolehkan terbang lagi maka ia akan kembali bergabung dengan Korps Motor karena ia tak punya waktu untuk melihat siswa lain terbang. Jawaban ini seperti mengejek instrukturnya yang sedang marah agar lebih realistis. Ia lalu menggunakan pesawat Shorthorn lainnya, dan membiarkan Ball terbang dengan hasil lima pendaratan yang mulus.

Setiap malam Ball berlatih biola. Alat musik yang telah lama ia mainkan. Setiap Minggu malam saat bebas tugas ia pergi ke gereja terdekat untuk mencari ketenangan. Ia menganggap sia-sia kebiasaan teman-temannya untuk menghabiskan liburan ke London di klub-klub malam.

Saat Natal 1915 ia dipindahkan ke Central Flying School di Upavon. Disana ia sempat mengalami kecelakaan terburuknya. Saat hendak mendarat angin bertiup kencang dan menghempaskan pesawatnya hingga hancur. Ball pingsan, namun ia tidak terluka.

Meskipun saat itu perang sedang berlangsung, namun di hari Minggu tidak ada kegiatan terbang. Para siswa diijinkan keluar kamp Upavon sejak Sabtu siang jika hari itu tidak ada penerbangan karena cuaca buruk atau hal-hal lain. Suatu ketika Ball tetap tinggal di kamp di akhir pekan. Tak ada seorang pun yang bisa diajak bicara, sehingga ia hampir gila. Ia berkata bahwa ia tak akan melakukannya lagi. Ia tak bisa tinggal diam. Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sensitif dan temperamental. Namun menjelang akhir masa pelatihan ia selalu tinggal di kamp untuk belajar agar ia yakin dapat lulus ujian akhirnya.

Pada tanggal 26 januari 1916, ia mendapatkan wing penerbang. Selama beberapa waktu ia menjadi instruktur di pangkalan udara Gosport. Pada tanggal 17 Februari ia menyeberangi Selat Inggris menuju Boulogne untuk bergabung dengan skadron No. 13. Ia kemudian menerbangkan pesawat B.E.2C untuk pengintaian artileri dan kadang pemboman posisi lawan. Ia merasa kurang beruntung karena pesawatnya kurang memiliki perlengkapan ofensif. Namun dalam suratnya ke rumah ia menggambarkan pekerjaannya sebagai “olahraga hebat.”

Tanggal 1 Maret ia terlihat berada lima mil dari daerah musuh, mengawasi sebuah stasiun kereta api diantara senjata anti-pesawat. Saat terbang untuk kembali ia diserang oleh pesawat Fokker yang berada di atas parit pertahanan Jerman. Senapan mesin pesawat Ball langsung menembak, namun ketika baru dua tembakan senapan macet. Ball lalu mengambil revolvernya, membidik pesawat lawan dan menarik pelatuknya. Namun pistolnya juga macet. Sementara itu pesawat Fokker tersebut juga mengalami kesulitan, terbukti ia tidak bisa menghancurkan pesawat Ball yang sudah tak berdaya, dan pilotnya pun segera berbalik saat sadar telah berada di wilayah Inggris.

Pada sebuah patroli lain, saat terjadi hujan salju, Ball tersesat. Saat keluar dari awan berada di ketinggian 500 kaki di atas wilayah Jerman. Ia mencoba pulang dengan dihujani peluru dari darat. Perwira komandannya bertanya apa yang ia lakukan di dalam garis pertahanan Jerman (yang terlarang) dan apa untungnya melakukan itu? Ball menjawab: “Tak ada untungnya Pak, namun kita telah membuat Jerman marah, dan menghabiskan sekitar seratus pon peluru mereka.” Jawaban yang tak disangka-sangka ini membuat komandannya tertawa. Ball tidak jadi mendapat hukuman atas kelalaiannya.

Akhir bulan itu pesawatnya sempat tertembak oleh senjata dari darat. Beruntung pesawat jatuh di dalam wilayah sendiri. Ball dan pendampingnya terjebak dalam puing pesawat, namun tidak terluka. Pada akhir bulan Maret, didampingi oleh dua orang penembak bersenjata mesin, pesawat B.E.-nya berhasil memaksa dua pesawat lawan untuk mendarat, namun Ball tidak yakin kalau keduanya rusak.
Sementara itu, ia selalu memanfaatkan bakat bisnisnya — dengan mewakili ayahnya dalam jual-beli tanah dengan rekan-rekan sesama pilot di skadronnya. Ia menyurati ayahnya agar tidak menjual tembaga mereka karena perang akan berlangsung lama sehingga tembaga akan semakin langka dan bernilai tinggi. Ia juga membuat gambar desain pesawat terbang baru yang dikirimkan kepada ayahnya.

Pada tanggal 3 Mei ia dan pendampingnya berhasil menembak jatuh lima pesawat musuh. Tiba-tiba sebuah pesawat Albatross kursi ganda menyerang. Ball melihat pesawat tersebut menuju ke arahnya hinga berada pada jarak beberapa kaki saja. Masing-masing kru dapat melihat wajah lawannya. Penembak lawan sempat menembak lima kali sebelum akhirnya tewas oleh tembakan pendamping Ball. Pilot Albatross kemudian pergi, namun Ball tak yakin kalau ia terluka.


R.F.C. mulai melengkapi skadronnya dengan sejumlah pesawat tempur kursi tunggal untuk melindungi pesawat kurasi ganda yang banyak mengalami kekalahan. Ball terpilih sebagai pilot tempur pertama di skadron No. 13, dan ditempatkan di depot pesawat untuk menerbangkan pesawat Morane Scout. Ia menembakkan senapan mesinnya pertama kali saat menerbangkan pesawat Scout di sekitar garis perbatasan. Gir pengatur senapan belum disesuaikan sehingga peluru mengenai baling-baling pesawat. Ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke pangkalan dengan kondisi pesawat yang bergetar hebat. Tak lama kemudian skadron menerima tambahan dua pesawat Scout, satu pesawat Nieuport dan sebuah Bristol. Ia menggunakan kedua pesawat ini pertama kali saat dua pesawat musuh terbang hingga mendekati pangkalannya. Pertama-tama ia menggunakan pesawat Nieuport. Namun kabel senapannya putus. Ia langsung mendarat, pindah ke pesawat satunya, dan tinggal landas lagi, namun pesawat Bristol kalah cepat dibandingkan dengan pesawat musuh yang telah mundur.

Pada awal bulan Mei 1916 ia dipindahkan ke skadron No. 11. Segera setelah bergabung dengan skadron barunya Ball yang menggunakan pesawat Bristol Scout melakukan serangan terhadap sebuah pesawat Albatross dengan menukik dari ketinggian 12.000 kaki ke 5.000 kaki, dan berhasil menghancurkannya 20 mil di dalam wilayah musuh. Namun kemampuan seorang pilot sangat terbatas. Pada akhir bulan Mei kekalahan pesawat B.E. semakin besar. Kebutuhan untuk melindungi skadron dengan tambahan pesawat tempur semakin mendesak. Dalam waktu seminggu semua penerbang kelas B di skadron No. 13 harus diisi oleh pilot baru dari Inggris, dan dalam sehari skadron No. 11 kehilangan enam pesawat.
Ball meminta salah seorang bawahannya untuk membuat pagar seluas 40 yar persegi di sekitar tenda yang ia dirikan di pangkalan udara. Di sini ia menggali tanah untuk sebuah taman, dan menyurati rumahnya untuk mengirim benih yang ingin ia tanam. Ia menemukan pelepasan dari beratnya tugas penerbangan dengan menanam bunga dan sayuran. Ia tinggal di tenda atas kemauannya sendiri, agar selalu siap setiap saat untuk terbang jika diperlukan. Ia kemudian membangun sebuah gubuk kayu dari kayu-kayu sisa. Mess berjarak sekitar dua atau tiga mil, namun ia tak keberatan berjalan kaki untuk mencari makanan.

Seringkali ia harus berlari dari tamannya menuju ke pesawat saat terdengar alarm tanda adanya serangan. Kadang ia harus bangun saat tidur dan bergegas mengenakan pakaian terbang. Ia terbang tanpa menggunakan kacamata debu atau helm, rambutnya yang hitam tebal tertiup angin, sedangkan matanya yang coklat tajam mampu menangkap gerakan lawan sebelum ia sendiri terlihat. Perawakannya tinggi, berhidung panjang, dan rahang yang kuat sesuai dengan jiwa muda seorang petarung. Ia melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat, dan merupakan kesenangan atau seperti olahraga. Ia selalu bertindak dengan sepenuh hati.
Pada tanggal 29 Mei ia terlibat empat kali pertempuran dalam satu kali patroli. Tiga kali ia menyerang pesawat Albatross sayap ganda, dan selanjutnya ia sendiri diserang oleh empat pesawat Fokker dan sebuah pesawat L.V.G. kursi ganda 12 mil di daerah lawan. Ia memaksa pesawat L.V.G. untuk mendarat kemudian mendekati pesawat Fokker. Namun mereka melarikan diri dari pesawat Nieuport-nya. Ball mendapati delapan peluru bersarang di pesawatnya, dan saat pulang sebuah “Archie” membuat ekornya sedikit berlubang.
Archie adalah singkatan dari anti-aircraft shellfire atau meriam anti pesawat, sebutan yang digunakan oleh para pilot Inggris. Ini sudah ada sejak awal perang, saat seorang pilot Inggris mendengar ledakan di bawah pesawatnya dari sebuah meriam anti pesawat. Pada Perang Dunia II para pilot sekutu menggunakan istilah Jerman “Flak”, singkatan dari Flakartillerie, atau senjata anti-pesawat.
Ball tidak hanya tinggal diam menunggu alarm tanda serangan. Ia melakukan patroli rutin, seperti elang di atas pangkalan pesawat musuh, dan mengamati setiap pesawatnya yang tinggal landas. Saat mereka mencapai ketinggian 10.000 kaki ia menyerangnya. Sampai tanggal 7 Juni ia merupakan satu-satunya pilot di skadronnya yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh. Dan ia merasa beruntung karena terlibat lebih dari dua belas kali pertempuran selama tiga bulan pertama dibandingkan dengan pilot lain di skadron No. 4 dan 13.

Tiga kali ia harus menunda kepergiannya karena ia tidak dapat digantikan oleh pilot tempur lainnya. Namun antara tanggal 10 dan 22 Juni ia harus terbaring sakit di rumah. Empat hari setelah ia kembali disusun sebuah rencana besar untuk menyerang balon pengintai musuh sebagai pembukaan untuk pertempuran Somme. Sekitar 100 pesawat tempur Inggris dikirim untuk menyerang balon-balon udara yang terbang di daerah perbatasan untuk mengamati gerakan pasukan Inggris. Keseluruhannya hanya lima balon yang berhasil ditembak jatuh. Ball dan beberapa pilot lain yang mengincar sebuah balon gagal. Ball lalu pulang dan minta ijin untuk kembali menyerang. Setelah dipersenjatai dengan lebih banyak bom, ia langsung terbang untuk menyerang kembali musuh yang sekarang telah siaga. Terbang perlahan di atas balon dan senjata anti-pesawat musuh, ia menjatuhkan bom dengan tepat. Balon pun terbakar hebat dan jatuh. Atas keberanian ini, ia dianugerahi Lencana Militer.

Sehari kemudian ia melihat konsentrasi kendaraan angkutan musuh di sebuah hutan. Ia turun untuk melihat lebih dekat, dan dihujani tembakan dari darat. Tiba-tiba satu peluru mengenai silinder mesinnya. Baling-baling pesawatnya berhenti berputar, namun pesawatnya masih dapat melayang, dan ia pun melayang turun di daerah pertahanan Inggris lalu mendarat jauh di luar jangkauan senjata musuh. Berdasarkan laporannya sebuah serangan artileri dilancarkan terhadap sasaran yang telah diamatinya.
Hanya empat pilot yang tersisa dari delapan orang. Ball termasuk diantaranya yang terus siaga 19 jam sehari. Di hari-hari awal pertempuran ia telah melakukan 12 kali penerbangan. Ia bersyukur memiliki taman yang aman dari kejaran musuh. Untuk sementara ia bisa lepas dari ketegangan.
Pada tanggal 2 juli dua pesawat Albatross menyerangnya. Salah satunya menukik seperti hendak menabrak pesawatnya, namun Ball berhasil menghindarinya. Dalam waktu lima menit kedua pesawat Albatross itu berhasil dirontokkan dengan senapan pesawat Nieuport. Sampai hari itu ia telah berhasil menembak jatuh enam pesawat musuh dan satu balon. Para pilot lain di kesatuannya masing-masing hanya memiliki satu skor kemenangan. Ia menerima ucapan selamat untuk kedua kalinya dari komandan Angkatan Bersenjata. Mayor-Jenderal H. M. Trenchard, yang mengepalai markas Korps Terbang Kerajaan Inggris mengirim telegraph ucapan selamat, lalu datang sendiri ke pangkalan mereka.

Pertempuran udara telah banyak memakan korban jiwa. Pada tanggal 3 Juli tiga orang rekan Ball tidak kembali, tanggal 9 Juli empat orang hilang, dan sehari kemudian seorang hilang. Pada tanggal 16 Juli terdapat perintah untuk melakukan operasi udara, dan malamnya Ball menyelesaikannya. Ia menyurati ayahnya : “Sebenarnya saya tidak bisa bertahan terus-terusan, dan malam ini saya menemui komandan untuk meminta istirahat dan cuti selama beberapa hari. Ia bilang ia akan mengusahakannya.”
Ball kemudian ditugaskan di skadron No. 8 dan kembali menerbangkan pesawat B.E.2C. Ini merupakan “istirahat” baginya. Pada saat itu pergiliran tugas operasi terbang tidak didasarkan pada jumlah penerbangan yang dilakukan, namun berdasarkan waktu yang dihabiskan. Sepuluh bulan di Perancis merupakan syarat untuk penempatan di Pemerintah Lokal agar dapat beristirahat dari sejumlah tugas lain, seperti menjadi instruktur. Ball baru menyelesaikan setengahnya, meskipun mungkin melakukan tugas dua kali lipat dibandingkan dengan pilot lain. Yang ia inginkan hanyalah istirahat beberapa hari dari kegiatan terbang. Namun ia kecewa karena disarankan untuk bersabar sementara waktu.
Ada maksud dibalik penugasan Ball. Jika ia diijinkan untuk berhenti terbang maka ia akan kehilangan stabilitas syaraf. Ini sama seperti siswa pilot yang langsung diperintahkan terbang dengan pesawat lain setelah mengalami kecelakaan ringan. Dengan demikian ia tak akan sempat memikirkan resiko terbang.
Kembalinya ia dengan pesawat B.E.2C membuat Albert senang. Ini berarti bahwa ia akan terbang lebih sedikit dibandingkan jika ia menggunakan pesawat yang lebih baik. Pesawat ini tidak terlalu diandalkan karena sudah agak tertinggal untuk menghadapi pesawat lawan yang lebih canggih. Dengan demikian ini akan mengurangi ketegangannya. Setelah kepergian Albert orang-orang di skadron No. 11 merawat kebunnya dan mengiriminya bunga dari kebun tersebut.

Ia mendapatkan pengalaman baru dalam penggunaan artileri untuk membidik sasaran lawan dan ikut ambil bagian dalam suatu operasi penyerangan yang melibatkan lebih dari tiga puluh pesawat. Semangatnya tak pernah padam. Jauh hari sebelumnya ia pernah mendaftarkan diri sebagai mata-mata di belakang garis pertahanan musuh, dan melakukan tugas berbahaya ini. Bersama seorang penembak jitu di pesawat B.E. ia menyerang sebuah balon dan memaksa pengendaranya melompat keluar, meskipun penyangga sayapnya rusak terkena senjata anti-pesawat. Di hari lain ia terbang sendirian menyerang sebuah pesawat Albatross dan memaksanya mendarat.
Pada tanggal 15 Agustus ia kembali ke skadron No. 11 dan ditempatkan di pesawat Nieuport terbaru. Untuk menambah kebahagiaannya ia dipromosikan sebagai letnan. Hanya dengan inilah ia dapat terus berkonsentrasi. Sehari kemudian ia bertemu dengan 5 pesawat musuh, menembak jatuh 1 pesawat dan memaksa dua lainnya mendarat dengan semua amunisinya.

Di hari terakhirnya di skadron No. 11 ia bertemu dengan 12 pesawat Hun (pesawat Jerman ini pada Perang Dunia II dijuluki dengan Jerries). Ia menyerang ke arah mereka, merontokkan dua pesawat dan menembak pesawat ketiga hingga jatuh terbakar. Setelah kembali ke pangkalan terdekat untuk mengisi amunisi ia langsung berangkat lagi. Kali ini 14 pesawat Hun menyerangnya pada posisi 15 mil di wilayah Jerman. Peluru mereka menghancurkan kaca depannya, menembus penyangga sayap kiri, dan mematahkan pipa bahan bakar sehingga ia kehabisan bahan bakar. Ia terpaksa mendarat satu mil dari perbatasan dan tidur di dekat pesawatnya. Malamnya ia memperbaiki pesawat. Telah enam kali ia dipaksa mendarat seperti ini dengan mesin yang rusak, namun ia selalu berhasil mendarat dengan baik.

Seluruh pilot tempur kemudian disatukan dengan beberapa skadron tempur. Pada tanggal 23 Agustus 1916, Ball bertugas di skadron No. 60, dimana ia segera menjadi komandan terbang dan kapten. Dua hari kemudian ia merontokkan sebuah pesawat Hun dan memaksa satu pesawat lainnya untuk mendarat. Seorang mayor Perancis mengucapkan selamat kepadanya, dan mengatakan bahwa ia telah merontokkan pesawat musuh lebih banyak dibandingkan dengan para pilot Perancis. Mayor Perancis tersebut menghitung skornya dari 84 kali pertempuran, 16 pesawat musuh dirontokkan dan 1 balon hancur. Namun Ball mencatat hanya 12 pesawat rontok. Pada tanggal 31 Agustus ia menembak jatuh 2 pesawat dari 12 pesawat Hun, dan kemudian diberi penghargaan Bintang Jasa Kehormatan.

Sebuah piringan aluminium besar dipasang pada poros baling-baling pesawat Nieuport Scout untuk menambah dorongan angin. Ini disebut “spinner” karena ikut berputar saat mesin hidup. Meskipun para pilot R.F.C tidak diijinkan untuk mengganti warna standar pesawat mereka, Ball tetap mencat spinner pesawatnya dengan warna merah terang untuk memudahkan pilot Inggris lainnya membedakan pesawat Nieuport-nya. Ini juga untuk menakuti musuhnya, sebagaimana para ksatria kejam mencat wajahnya dengan warna yang buas.
Tekad dan semangat merupakan kunci keberhasilan Ball, disertai dengan keberanian yang mengesampingkan segala hambatan. Ia berkata bahwa sebagian besar lawannya tampaknya tidak berani mengambil resiko dan tidak pernah berani bertarung dari jarak dekat apabila keadaan memungkinkan. “Tantangan langsung di depan lawan akan menciutkan nyali mereka,” katanya. “Pesawat Hun selalu menghindari benturan lebih dulu.” Ball memiliki kemampuan berpikir dan bertindak cepat, ia mampu menentukan taktik untuk menghadapi situasi secepat kilat. Namun suatu ketika ia menemukan lawan yang sebanding. Ia dan seorang pilot Jerman yang tak dikenal terlibat pertempuran satu lawan satu. Masing-masing saling mengejar. Masing-masing mencoba trik untuk mengelabui lawannya. Mereka saling tembak dari berbagai sudut yang berbeda. Keduanya berusaha untuk mengincar ekor lawannya, namun tak berhasil mendapatkan posisi yang tepat untuk melepaskan tembakan. Masing-masing berusaha untuk menghindari sergapan musuhnya. Ini bisa berakibat fatal bagi keduanya karena menemui pertarungan sejati. Akhirnya keduanya saling menembakkan amunisinya sampai habis. Mereka tampaknya menyadari apa yang telah terjadi. Kemudian mereka saling menatap sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka pun lalu terbang berdampingan, saling melambaikan tangan dan kemudian berpisah pulang ke pangkalan masing-masing. Ball menganggap pesawat Hun tersebut “sebuah pertarungan sejati.”

Ball mempunyai selera humor. Ia tahu resiko yang ia hadapi, namun ia yakin bahwa tugasnya adalah untuk bertahan demi pertempuran selanjutnya. Suatu ketika dua orang pemuda berkata padanya bahwa mereka ingin sekali bergabung dengan Korps Terbang, dan menyatakan siap untuk mati demi tanah airnya. Ball tertawa dan mengatakan bahwa mereka tak berguna, karena yang dicari adalah orang yang berusaha keras untuk hidup demi negaranya, bukan untuk mati.

Ketika ia telah menghancurkan 32 pesawat lawan Ball dikirim pulang untuk melatih para pilot lain dengan metodenya. Ia kemudian diberi penghargaan gelar D.S.O. dan Bintang Rusia kelas empat St. George. Selama perjalanan bertugas saya bertemu Ball saat menjalani pelatihan sebagai seorang pilot. Perawakannya agak pendek, sekitar 5 kaki 6 inchi, namun terlihat proporsional dan tegap dengan pakaian seragam R.F.C. Ia tidak terlihat menyolok namun sorot matanya yang tajam menunjukkan kepercayaan dirinya. Kepergiannya disambut dengan meriah oleh segenap kota Nottingham, bersama sejumlah jenderal dan Perdana Menteri Lloyd George. Ia telah menjadi penerbang besar dunia, namun kehormatan itu tidak direspon secara berlebihan karena ia adalah orang yang rendah hati. Ia menikah dengan gadis yang mungkin tidak ditakdirkan untuk menjadi istrinya.

Selama beberapa waktu ia tetap menjadi instruktur di Inggris, namun sebenarnya ia lebih senang maju ke medan pertempuran. Ia kemudian dipindahkan ke skadron No. 56, selanjutnya melakukan persiapan untuk menjadi penerbang S.E.5 kursi tunggal. Ia menjadi komandan terbang kelas “A”, dan skadronnya bertugas ke luar negeri pada tanggal 7 April 1917. Sebelum mendarat di pangkalan udara Perancis, Ball sempat menyeberangi perbatasan dan merontokkan satu pesawat Jerman dan memaksa sebuah pesawat lainnya untuk mendarat. “Tak ada waktu untuk kalah!” katanya saat mendarat.

Ia mencat bagian atas pesawat S.E.-nya dengan warna merah, namun ia lebih suka dan terbiasa dengan pesawat Nieuport. Ia kemudian diberi tambahan pesawat S.E.5. biasanya ia memimpin penerbangan untuk melakukan patroli dua atau tiga kali sehari. Sisa waktunya digunakan untuk menerbangkan pesawat Nieuport sendirian di garis depan antara daerah Lens dan Arras, di dekat pangkalan skadronnya. Ia berusaha keras untuk memecahkan rekor Perancis, yang berhasil mengunggulinya saat ia istirahat di Inggris. Guynemer, seorang pilot Perancis terkemuka, meraih 36 kali kemenangan, sedangkan Boelcke dari Jerman mencatat 40 kemenangan sebelum ia meninggal. Di akhir minggu pertama operasinya Ball telah menembak jatuh 5 pesawat lawan. Minggu berikutnya ia berhasil merontokkan 5 pesawat lagi. Di suatu malam tanggal 26 April, sendirian ia berhasil menyerang empat formasi pesawat Hun yang masing-masing terdiri dari lima pesawat, dan menembak jatuh 2 diantaranya. Namun ia kehabisan amunisi. Ia harus menunggu sampai gelap untuk dapat kembali dengan aman ke pangkalannya. Suatu kali ia diserang oleh 5 pesawat tempur Jerman. Ia berhasil mengunggulinya. Dua pesawat berhasil ia rontokkan, kemudian ia menukik turun secara vertikal, diikuti oleh tiga pesawat lawan yang tersisa. Ia terbang sangat rendah sehingga pesawat Hun lawannya hampir terhempas ke tanah. Ball naik dan menembak korban ke empatnya. Pesawat ke lima langsung melarikan diri. Saya ingat pengumuman harian R.F.C. yang dipasang di mess kami saat saya menerbangkan pesawat Sopwith kursi-ganda. Nama Ball sering sekali dicantumkan di sana. Semua orang berkeinginan agar namanya tertulis dalam pengumuman tersebut.

Seringkali pesawatnya tertembak dan rusak parah. Setelah itu maka Albert kembali berladang, dimana ia bisa bekerja sambil menyanyi. Namun mekipun ia bersantai sebenarnya ia amat lelah. Semangat tempurnya selalu mendorong ia untuk kembali. tak lama kemudian ia telah berhasil melampaui skor Guynemer dua angka. Di malam yang sama skadron No. 56 mengadakan konser. Mendadak alarm tanda kebakaran berbunyi. Saat Ball memeriksanya ternyata gubugnya terbakar.

Staf jenderal R.F.C. menganggap Ball sebagai bintang pilot Inggris. Saat ia mengalami masalah dengan pesawat S.E.5 miliknya ia segera mendapat ganti dua pesawat, untuk memastikan bahwa ia tidak kehilangan kesempatan. Kepercayaan diri para staf semakin kuat. Pada awal Mei Ball kembali menembak jatuh pesawat lawan dalam jangka waktu sekitar dua hari.
Malam tanggal 5 Mei ia bertemu dengan dua pesawat Albatross Scout. Ia langsung menyerang yang terdekat, masuk ke bawahnya, dan menembakkan senapan mesin Lewis ke arahnya. Pilotnya tewas dan pesawatnya jatuh. Ia sekarang siap menghadapi pesawat kedua. Tiba-tiba pesawat tersebut menuju ke arahnya seolah-olah hendak menabraknya. Ia pun menghadapinya sehingga sekarang pesawat saling berhadapan dan saling tembak. Saat pesawat hampir bertabrakan mesin pesawat Ball terkena peluru. Oli panas menyembur mengenai wajah dan matanya. Selama beberapa saat ia tak bisa melihat apa pun. Saat ia bisa melihat kembali, ia mendapati pesawat Hun sedang menukik jatuh tak terkendali seperempat mil dari perbatasannya. Ball sempat menyerang lagi saat pulang, namun ia kehabisan amunisi dan terpaksa mendarat sebelum mesinnya rusak.

Dengan total 42 kemenangan Ball sekarang melampaui skor Guynemer. Jenderal Trenchard menelponnya dan memberitahu bahwa ia akan dihadapkan dengan Marsekal Lapangan Sir Douglas Haig, panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Inggris. Namun itu tak pernah dilaksanakan. Pada tanggal 5 Mei Ball menyurati tunangannya : “… akan lebih baik jika perlombaan saling bunuh ini berakhir, dan kita bisa menikmati hidup tanpa melukai orang lain. Aku benci permainan ini, namun ini satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang.” Di hari yang sama ia menyurati ayahnya: “Sungguh saya dilindungi oleh Tuhan, namun ah! Saya capek terus-terusan hidup untuk membunuh, dan merasa menjadi seorang pembunuh.”
Malam hari merupakan saat favoritnya untuk melakukan patroli. Seringkali ia harus pulang saat hari gelap dan menjadi orang yang teralkhir pulang ke mess. Menjelang gelap tanggal 6 Mei ia terlibat pertempuran dengan empat pesawat Albatross dan merontokkan satu diantaranya.

Suatu malam tanggal 7 Mei 1917, Ball keluar berpatroli bersama sepuluh pilot lain di skadronnya. Udara saat itu mendung disertai hujan gerimis. Pandangan sangat terbatas dan kabur, sehingga pesawat mereka terpisah. Banyak pesawat musuh yang terbang saat itu, karena jumlah satuan Albatross baru saja diperbesar. Ball dan dua orang pilot sepakat untuk bertemu di Cambrai. Mereka akhirnya bertemu, namun mendung sangat tebal. Mereka kembali terpisah. Empat pesawat Albatross merah menyerang dari atas. Salah seorang teman Ball diserang dengan gencar. Satu musuh yang telah ia tembak sebelumnya, menembak dengan pistol dan dengan kemudi yang patah ia melarikan diri; turun melewati perbatasan dan mendarat lalu pingsan. Ball menembak pesawat lainnya, namun ia segera terlibat pertempuran dengan pesawat-pesawat tempur Jerman yang jumlahnya sangat banyak, karena terus berdatangan. Pesawat S.E. yang tersisa harus menghadapi serangan dari 12 pesawat Albatross.

Salah seorang pilot Inggris melaporkan telah terjadi pertempuran sengit dimana Ball berada di tengah-tengahnya. Ia melihat dari bawah peluru senapan pesawat Hun dimuntahkan ke arah Ball, sedangkan bom dijatuhkan dari atasnya.
Ball pun jatuh, seperti biasa ketika ia bertempur sendirian. Siapa yang menembaknya tidak pernah diketahui. Lothar von Richthofen diyakini sebagai pelakunya, namun tampaknya sebelum itu ia telah terluka dalam pertempuran tersebut. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan, dimana peluru nyasar mengenai kepala Ball, atau orang lain yang menembaknya juga tewas dalam pertempuran. Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas kematian Ball baik dari pihak Inggris maupun Jerman. Dan Jerman salah mengira ia terbang dengan pesawat sayap tiga, meskipun pesawatnya jatuh di daerah mereka.
Di mess skadron No. 56 malam itu para pilot senior menunggu kepulangan Ball, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun malam itu tidak ada suara raungan pesawat dari langit yang diselimuti awan pekat, tanpa bintang. Ball yang belum genap 21 tahun, telah melakukan penerbangan terakhirnya.

Albert Ball adalah seorang anak dan kakak yang penuh kasih sayang. Ia dicintai oleh orang lain karena keberanian dan keramahannya. Namun ia bukan seorang “anak gaul.” Ia tidak pernah bersantai di mess. Ia juga tidak minum ataupun merokok. Ia senang dengan bunga dan musik yang indah. Ia tak banyak berbicara dengan orang lain. Sejak kecil ia selalu diajarkan untuk berdoa oleh orang tuanya, sehingga ia sangat religius. Ia percaya akan kekuatan doa. Ketika ayahnya menulis surat dan menanyakan apakah ia berdoa setiap akan melakukan pekerjaan dan setelah usai, ia menjawab: “Tak perlu diragukan lagi aku selalu melakukannya. Bahkan aku juga melakukannya saat sedang bertempur. Sungguh, aku berserah diri kepada Tuhan, itulah yang membuatku merasa damai, dalam keadaan apa pun.” Dan kepada ibunya ia menulis: “… Janganlah engkau mempertanyakan apakah aku percaya pada Tuhan sebelum percaya pada yang lain. Aku tidak pernah melupakan kewajiban itu.” Setelah menjalankan kewajiban tertinggi tersebut, Albert Ball tak pernah melalaikan kewajiban lainnya.

Tentara Jerman menguburkannya di Annoeullin, sekitar 5 mil di sebelah timur La Bassée, di Makam Kebesaran. Mereka mengalungkan bunga di salib kayunya, bertuliskan: “Ia Telah Mempersembahkan Hidupnya Untuk Tanah Airnya.”
Penghargaan Lencana Victoria diberikan secara anumerta. Raja menyerahkan Lencana tersebut kepada orang tua Albert Ball di Istana Buckingham pada tanggal 22 Juli 1917. Ball sendiri telah mengklaim 44 kemenangan. Raja George V memberitahu ayah Ball bahwa skor kemenangan putranya adalah 47. Selanjutnya, Raja mengirim surat pribadi yang ditandatanganinya kepada ayah Ball, berbunyi:
“Sungguh merupakan penyesalan yang dalam buat saya mendengar kematian Letnan Albert Ball, D.S.O., M.C., dari Resimen Notts and Derby dan Korps Terbang Kerajaan, menghilangkan kebanggaan saya pribadi untuk menganugerahkan penghargaan Lencana Victoria, penghargaan tertinggi untuk keberanian dan kesetiaan dalam menjalankan tugas.”
 

BIG BLOG OF HOAX Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez