Tampilkan postingan dengan label CROP CUT PASTE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CROP CUT PASTE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2011

HARI GINI MIKIRIN PERASAAN ORANG LAIN..

Diposting oleh re di 10.26
Seorang sohib dalam status fbnya mengatakan,”hari gini masih mikirkan perasaan orang lain sementara orang lain tidak ada yang memikirkan perasaan kita … woalah…
Saya langsung timpali,”baru ngeh ya…he he he“.

Eh rupanya langsung di respon lagi dengan cepat,”iya nih mas, lagi kesel, orang tuh cuma bisa mengkoreksi  orang lain tapi rupanya lupa bagaimana mengkoreksi diri sendiri
Nah ini yang tepat, timpal saya dalam hati, tanpa menuliskannya di bawah status teman saya yang lagi kesal tersebut, khawatir akan berkepanjangan - dan sepertinya jawabannya terakhir itu bisa menjadi status tersendiri dalam jejaring sosial facebook itu.

Perasaan itu abstrak bentuknya, tidak bisa diraba tapi hanya bisa dirasakan. Kadang-kadang, karena bentuknya yang abstrak ini, perasaan mengemuka dalam wujud wadag atau kerangka yang menyelimutinya, seperti kalau perasaan berkata sedih, contoh wujud fisiknya adalah keluarnya air mata. Demikian pula kalau perasaan marah yang muncul, mungkin penampilan yang timbul adalah muka merah, nada suara menjadi tinggi dan lain sebagainya.
Karena bentuknya yang abstrak, perasaan seseorang menjadi sulit di terjemahkan oleh orang lain selain dirinya.
Contoh yang mudah adalah teman.
Kita sering menemukan teman yang tutur katanya baik, sopan, ramah, padahal di belakang kita, ia tidak segan-segan untuk menjelek-jelekkan kita bahkan sampai memfitnah. Dalam hal ini, perasaan yang ada dalam diri teman itu yang memang sebenarnya mengatakan tidak baik tetapi dapat dibungkus dengan rapih menggunakan perilaku dan kata-katanya yang baik.
Sementara yang kita harapkan adalah sebenarnya jika seseorang menjadi teman kita, tentu akan berkata serta berperilaku sesuai dengan ‘penampakannya’.
Untuk orang yang tidak pandai ‘membungkus’ perasaannya, perasaannya berkata baik, yang ditampilkannyapun akan baik. Sementara jika perasaannya berkata tidak baik, yang ditampilkannyapun akan sejalan dengan perasaannya itu.
Jadi, jika kita ingin menakar perasaan orang lain jika kita akan bertindak sesuatu, takaran manakah yang akan kita gunakan? Menganggap bahwa semua orang baik luar dalam? Menganggap bahwa semua orang itu adalah setengah baik dan setengah tidak baik? Atau menganggap semua orang tidak bisa menampilkan luar dalam yang sama?

Ada bentuk abstrak lain di dalam diri manusia, seperti nilai intelegensia dan nilai spriritual. Bentuk-bentuk abstrak di atas ini dikenal dengan istilah nilai-nilai ataupun faktor-faktor intelegensia, emosional dan spiritual. (IQ - EQ dan SQ). Tautan ketiga faktor ini yang akan menimbulkan tampilan secara keseluruhan pada diri seseorang yang akan membentuk nilai-nilai yang sangat mempengaruhi pandangan maupun perilakunya. Sinkronisasi ketiga nilai tersebut dapat menentukan kualitas seseorang.
Banyak contoh di sekitar kita yang memperlihatkan bagaimana orang yang berpendidikan tinggi misalnya, tetapi tidak menunjukkan penguasaan nilai EQ dan SQ-nya. Karena memang sebetulnya tautan IQ - EQ dan SQ tidak akan muncul jika yang orang tersebut tidak berusaha mentautkannya kedalam suatu suasana yang menyebabkan terjadinya sinkronisasi.
Jadi, memang betul, tidak perlu kita memikirkan perasaan orang lain (untuk orang yang hanya mengandalkan perasaannya saja - tanpa menggabungkan dengan baik IQ - EQ dan SQnya) jika kita sudah berusaha menggabungkan IQ - EQ dan SQ dengan baik. Tautan nilai-nilai  tersebut jika disublimasikan kedalam perilaku seseorang, dijamin tidak akan berpotensi menyakiti orang lain. Kalaupun sampai terjadi menyakiti orang lain, nilai-nilai yang dimilikinya tadi akan memberikan solusi bagaimana mengatasinya - dengan meminta maaf misalnya.

Sinkronisasi nilai IQ - EQ dan SQ dalam diri seseorang akan memberikan petunjuk ataupun arahan kemana melangkah. Namun hal ini perlu banyak mendapat latihan agar semakin hari semakin terampil kita menggunakannya (baca: mensinkronkannya). Latihan mengintrospeksi diri adalah salah satunya.
Sehingga secara umum, justru orang yang hanya mengandalkan perasaannya sajalah yang harus menyesuaikan diri, bukan sebaliknya, bukan begitu?

Jumat, 28 Januari 2011

JIKA BEGITU SULIT MENJADI LAKI-LAKI, JANGAN DI PAKSA!!

Diposting oleh re di 03.38
Tuhan telah menciptakan dua jenis manusia saja untuk berselancar di dunia. Lelaki dan perempuan.
Secara fisik perbedaan mereka sangat besar dan pula hormonalnya yang mendukung emosi dan habitual.
Seorang lelaki terpasang dengan perempuannya tak melulu karena cinta. Banyak yang dijodohkan orang tua, terpaksa menikahi perempuan karena hanya dia satu-satunya yang jatuh cinta dan macam-macam alasan lainnya. Termasuk juga karena harus mempertanggungjawabkan ‘kenakalan’ organ intimnya.
Kebanyakan dari kaum perempuan melakukan kegiatan seksual atas dasar cinta, “aku tak mampu menolaknya”, atau di bawah ancaman. Namun sangat sedikit lelaki yang having this delicious job dengan alasan yang sama. Bukan berarti mereka tak mencintai pasangan seksualnya atau melulu karena nafsu saja, tetapi perasaan bukan hal yang banyak bicara.
Namun aneh saja bila hari gini masih ada lelaki yang ngeles ketauan bercinta dengan bukan pasangannya dengan alasan “aku terpaksa melakukannya”, mulai dari alasan “gak tega”, “gak mau melukai perasaannya”, “gak biasa kasar dengan perempuan bila menolak”, dan alasan-alasan basi lainnya.
Padahal dengan jawaban, “dia sungguh menggairahkan, aku tak mampu menolaknya” saja kan sudah bisa diterima. tak basi dan logically.
Lalu mengulang-ulang kejadian yang sama dengan banyak perempuan, dengan alasan sungguh belum menemukan perempuan yang paling tepat berdasarkan kriteria favorit ibunya.
Ketika diajak bicara baik-baik oleh sang perempuan, dengan wajah berlipat menggumam “tak mudah menjadi lelaki, pahamilah itu!”
Whatt???
Kenapa tak bilang saja, “aku sudah bosan denganmu, pengen tubuh dan aroma baru”. Selesai kan?
Tak perlu menerima teror belasan perempuan. Dan silakan melanjutkan berselancar lagi di dunia. Tinggal pilih, terus mencicip neraka atau berbalik, siapa tau masih bisa mengetuk pintu sorga.
untuk seorang teman.

Kamis, 27 Januari 2011

PROFESIONALISME TUKANG PARKIR

Diposting oleh re di 07.41
Mungkin bagi kebanyakan orang, itu bukan pekerjaan istimewa alias biasa saja. Tapi entah kenapa, saya senang memperhatikan dan mengamati antara tukang parkir di suatu tempat dengan tukang parkir di tempat lain. Dibalik pekerjaan yang biasa itu, tersimpan hal yang menarik untuk direnungkan.
Saya sudah tinggal di Kota Singaraja ini kurang lebih selama 1,5 tahun. Beberapa tempat di kota ini, seperti pasar, warung makan, toko, swalayan, sempat saya kunjungi. Dan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, saya menemukan karakteristik tukang parkir yang berbeda-beda. Saya ceritakan dua diantara mereka sebagai perbandingan yang secara umum cukup mewakili.

Tukang parkir yang pertama, adalah di Toko Kue X, yang kebetulan saya beberapa kali kesana. Toko kue itu hanyalah sebuah tempat yang kecil. Tidak ada halaman, sehingga saya memarkir motor di tepi jalan ketika kesana. Ada seorang tukang parkir yang biasa disana, yaitu seorang Bapak yang sudah lumayan sepuh. Ketika saya ke toko kue tersebut, saya memarkir motor begitu saja di depan toko, kemudian masuk ke dalam untuk memilih-milih kue yang akan saya beli. Begitu selesai, saya pun hendak pulang. Dan ketika melihat motor saya, ternyata posisinya berubah. Motor itu menghadap ke jalan, siap dinaiki, dan saya tidak perlu susah-susah memutarnya.

Setiap kali saya ke toko kue itu, selalu exellent service seperti ini yang saya terima. Diam-diam, dalam hati saya menyimpan kekaguman. Bapak Tua ini mungkin hanya tukang parkir, tapi ia melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. PROFESIONAL! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Suatu hari, kebetulan pernah saya tidak punya uang kecil untuk membayar parkir. Tapi hebatnya, Bapak tukang parkir itu tetap tersenyum tulus dan melayani saya dengan pelayanan primanya. Bapak ini tidak hanya profesional, tapi juga baik hati!

Tukang parkir kedua, adalah tukang parkir yang berada di Pasar Y, tempat saya biasa belanja sayur-sayuran. Untuk tukang parkir yang kedua ini, saya memberi nilai yang sebaliknya. Tukang parkir di tempat ini hanya tau menarik uang saja, atau bahasa lugasnya adalah MAKAN GAJI BUTA. Ketika saya memarkir motor, dia tak peduli. Hanya duduk-duduk santai di tepi pasar. Ada suatu kejadian yang agak membuat saya jengkel. Suatu hari, sore sepulang kerja, saya dan teman kos langsung belanja ke pasar. Kebetulan waktu itu habis hujan, jalanan becek. Termasuk tempat dimana saya memarkir motor juga becek (ya iyalah, kan dari tanah). Sayapun kemudian keliling pasar untuk mencari bahan-bahan masakan yang saya butuhkan. Ketika selesai, sayapun kembali ke tempat parkir untuk memarkir motor. Dan sialnya…. di tanah becek itu motor saya posisinya terjepit di beberapa motor lain.

Dengan susah payah, saya dan teman saya berusaha memindah-mindah motor-motor yang menjepit motor kami. Well, terus terang ini pekerjaan yang susah untuk kami, perempuan-perempuan kecil ini. Apalagi ada di antaranya yang motor gede (motornya laki-laki). Begitu kami sudah berhasil mengeluarkan motor, kamipun menaikinya dan mulai menyalakan mesin. Pada saat motor sudah siap pakai itulah,,, tiba-tiba muncul Si Tukang Parkir di dekat kami. Untuk menunggu kami memberi uang parkir, tentunya. Saya pun berbisik ke teman saya yang di boncengan,”Biarkan saja, Yu. Kita pura-pura gak liat aja. Sama halnya ketika dia tadi pura-pura gak liat saat kita mengeluarkan motor dengan susah payah.”

Mungkin di antara pembaca ada yang berfikir bahwa saya lebay. Hal yang kayak gini aja dipermasalahkan. Saya adalah orang yang menghargai kesungguhan dan kebaikan, sekecil apapun itu. Karena di setiap hal yang kita lakukan, Tuhan menilainya. Dan saya yakin, Tuhan memberi nilai tinggi terhadap Bapak Tukang Parkir di Toko Kue itu. Ya, nilai yang jauh lebih tinggi daripada Wakil Rakyat yang tidur ketika sedang rapat.

SAPI TIDAK PERLU PINTAR

Diposting oleh re di 07.21
Haryo keluar dari bilik ATM dengan senyum lebar. Sebagai sales susu bayi ia meraup untung yang lumayan beberapa bulan terakhir ini. Dahsyatnya iklan susu bayi produksi di berbagai media mampu meyakinkan ibu-ibu bahwa kualitas susu kemasan sama, bahkan lebih lengkap dari ASI. Tidak perlu repot-repot memikirkan ASI. Asal ada uang bisa membeli susu dengan kandungan DHA dan Omega 3 yang bisa mencerdaskan otak bayi mereka.
Mungkin karena saking senangnya menerima banyak uang dari bisnisnya, Haryo baru sadar bahwa kartu ATMnya lupa dia ambil, ternyata di bilik ATM kartunya tidak ada. Iapun harus kembali masuk ke bank dan antre di customer service untuk melaporkan kehilangan kartunya.
Ternyata antrean cukup panjang, apa boleh buat, harus tetap antre. Di sebelahnya ada ibu muda yang membawa tas plastik, samar-samar dilihat isinya ternyata susu bayi yang dipasarkan Haryo. Beberapa saat kemudian ibu muda tadi terlibat pembicaraan dengan wanita separuh baya yang ternyata adalah mertuanya. Inti pembicaraan mereka tentang kualitas susu bayi. Menarik buat Haryo untuk menguping pembicaraan tersebut karena berkaitan dengan bisnisnya.
Ibu muda: kemajuan bioengineering telah dapat menghasilkan susu bayi yang kandungannya sama atau lebih baik daripada ASI, lebih praktis.
 Mertua: Apa iya?

Ibu Muda: betul, karena ini diproduksi di USA dan telah memperoleh sertifikat FDA, jadi kita tidak perlu ragu tentang kandungan nutrisi yang tertulis di nutrition fact-nya. Tuh kan lengkap.

Mertua: memang aman buat bayi, tapi apakah benar-benar bisa menggantikan fungsi ASI? Ibu kok meragukan, karena susu sapi didesain komposisinya untuk anak sapi, bukan untuk anak manusia. Susu untuk anak sapi harus bisa memberikan efek pertumbuhan yang cepat agar bayi sapi cepat tumbuh dan kuat tulangnya, bisa segera dipakai tenaganya untuk membajak sawah misalnya.

Filosofi ini sangat berbeda dengan manusia yang pertumbuhan fisiknya tidak secepat sapi tapi lebih mengutamakan perkembangan kecerdasan.
Wah ternyata penjelasan ibu mertua ini sangat menarik. Tiba-tiba Haryo merasa betah mengantre karena ingin terus menguping penjelasan dari wanita tersebut.
Mertua: ASI jauh lebih banyak mengandung protein whey, di mana di dalamnya terkandung protein alpha. Protein alpha adalah asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi tubuh. Harus didapat dari sumber makanan. Protein alpha banyak mengandung asam amino jenis triptofan, yang merupakan bahan baku pembuat neurotransmiter, zat kimia penghubung antarserabut saraf. Sangat mempengaruhi pertumbuhan otak, kecerdasan, perkembangan perilaku serta pola tidur bayi. Lha pada susu sapi kandungan ini minim sekali, nak. Kalau susu sapi kaya akan proten esensial semacam protein alpha dan triptofan ini, maka otak sapi akan berkembang pesat dan sapi akan pandai. Wah ini terjadi bisa makin merepotkan, karena mereka akan sering minggat dari kandangnya…”
“Hahahaha……”, pecah tawa yang hangat di antara keduanya.
Haryo pun sadar bahwa produk susunya hanya membantu ibu-ibu yang produksi ASInya kurang, tidak akan bisa menggantikan ASI.

FACEBOOK DAN TWITTER PENYEBAB SAKIT JIWA

Diposting oleh re di 07.18
Yang dimaksud dengan situs jejaring sosial adalah sebuah fenomena internet yang mewakili generasi muda. Situs-situs ini sering digunakan untuk mencari jodoh dan pada perkembangannya, modus yang sama juga digunakan untuk mencari teman (sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Komunitas_maya). Salah satu yang populer dan sedang marak saat ini adalah Facebook dan Twitter. Namun, semarak-marak apapun dua situs ini, saya menjadi amat sangat salut dengan orang-orang yang tidak mau sedikitpun bersinggungan dengan situs-situs jejaring sosial namun tetap mampu menjaga keseimbangan kehidupan sosial nyata dan maya mereka dengan baik (karena tentu saja sesuatu yang berkaitan dengan dunia maya tidak semata tentang situs jejaring sosial).

Mari sedikit berbagi tentang fenomena situs jejaring sosial ini.
Dua tahun yang lalu, saya punya masalah dengan seorang lesbian yang jatuh cinta pada saya gara-gara terlalu serius membaca tulisan-tulisan saya yang tersebar di dunia maya lalu perempuan ini membuat kurang lebih lima akun facebook berbeda untuk terus mempertahankan komunikasinya dengan saya. Perempuan ini mungkin cukup mengenal bahwa saya seorang yang enak diajak bicara bila berkaitan dengan hal-perihal diskusi dan mosi. Awal mulanya dia sekedar menegur saya dan berbicara tentang tema-tema perempuan dan saya menjadi sangat tertarik karenanya. Ketika pada akhirnya kami cukup dekat di ruang maya, somehow dia mengatakan bahwa dia menyukai saya dengan cara berbeda dan terang-terangan mengakui bahwa dia menggunakan saya dalam fantasi sex-nya dan ingin menjalin hubungan yang lebih “akrab” dengan saya. Akhirnya dengan sopan, saya mundur teratur dan menjaga jarak. Tapi entah kenapa perempuan itu menjadi beringas, dia kemudian membuat beberapa akun-akun berbeda yang rutin mengikuti ke mana jejak saya mengomentari status orang lain dan mengirimi saya pesan-pesan aneh dengan pola serupa. Saya menjadi paranoid. Ya, tentu saja.

Lalu salah satu teman diskusi saya juga ketiban nasib sial akibat fenomena situs jejaring sosial. Dari sekedar berbicara rutin di ruang-ruang chat dan saling berkomentar, si teman saya ini ujung-ujungnya terlibat affair dengan seorang menikah yang akhirnya diketahui oleh pasangan si orang menikah tersebut yang mana akhirnya si pasangan membuat akun facebook berbeda dan meng-add seluruh teman-teman si teman lalu menulis note sumpah serapah yang isinya juga menyingkap begitu banyak keburukan si teman (*tolong jangan ditiru).

Nah kurang lebih delapan bulan yang lalu, saya juga mengenal seseorang yang membuat delapan-puluh-enam akun twitter palsu (dan berniat membuatnya hingga dua-ratus-lima-puluh) demi eksistensi jumlah follower (pengikut) di twitter. Sebagaimana yang kita tahu, sekalipun basis antara twitter dan facebook adalah sama-sama situs jejaring sosial, pola penerimaan teman dan pertemanan dalam twitter berbeda dari facebook. Bila di facebook kita tidak bisa mengetahui sesiapa yang meng-add dan di-add, maka di twitter akan jelas-jelas sekali kelihatan siapa si eksis; orang yang punya begitu banyak pengikut atau orang-orang yang mengikutinya (semacam menambahkannya sebagai teman di facebook) dan—siapa si narsis; orang yang suka pede-pedenya nambahin orang sebagai teman hanya karena takut dibilang tidak eksis.
Baiklah, saya sedang tidak berniat menjadi begitu plain menuding hidung siapa yang hitam dan siapa yang mancung, karena tentu saja setiap orang punya kepentingan dan alasan kenapa mereka bergabung dengan salah satu situs jejaring sosial. Mencari teman dan mengenal orang-orang dengan kehidupan berbeda tentu tidak ada salahnya dan ini bisa menjadi dampak positif dari keberadaan situs jejaring sosial, kita bisa saling berbagi informasi, atau berbicara hal-hal simple yang menghibur diri, bertukar pikiran dan sekaligus memperpanjang tali silaturahmi. Tapi bila penggunaannya sudah mulai menjurus pada hal-hal yang bersifat kamuflatif dan mengarah pada hal-hal negatif, situs jejaring sosial entah itu facebook atau twitter bisa membuat siapapun penggunanya menjadi sakit jiwa tentu saja tanpa mereka sadari.

Ini bukan pekara main-main. Contohnya saja pada beberapa orang tertentu, mereka bisa sangat merasa stress dan cemas bila sebentar saja tidak menjenguk situs jejaring sosial mereka. Bahkan dari saat akan menutup mata hingga pagi membuka mata, lalu kembali akan menutup mata lagi, mereka seringkali menjenguk akun situs jejaring sosial mereka lebih dulu daripada berdoa atau bahkan sama sekali lupa berdoa (syukur-syukur pun kalau ingat berdoa di status :-p, *ceritanya sambil berdoa sambil ngeksis). Nah, karena saya seringkali juga melakukan hal seperti itu, maka, well, saya mengertilah keadaannya (jadi kesannya saya gak sok tahu atau sok bijak aja menggunakan facebook :-p)

Di lain kesempatan, saya juga mengenal orang-orang yang seringkali membuat akun berbeda untuk mengintip-intip orang-orang masa lalu atau mengikuti kehidupan orang-orang tertentu yang mana pada akun facebook dengan jati diri mereka mempunyai masalah tertentu (*tolong lagi-lagi jangan ditiru). Saya sangat tidak menyarankan ini, karena lagi-lagi hal ini menimbulkan kecemasan dan iri hati dan perasaan was-was yang mengundang stress tak berujung dari sekedar hal remeh temeh sehubung situs jaringan sosial. Itu akan terdengar sangat konyol sekali.
Jadi karena itu, pada bagaimanapun para pengguna menggunakan akun-akun situs jejaring sosial, mereka seharusnya juga menempatkan kebijaksanaan mereka sebenar-benarnya. Situs jejaring sosial telah menjadi fenonema luar biasa di awal abad dua-puluh satu, karena tentu saja dalam fenomena itu tidak hanya dampak positif saja yang ada, melainkan dampak negatif turut menyertainya, manusia yang tentu saja telah diberikan akal untuk berpikir, seharusnya menjadi pintar untuk menempatkan mana sesuatu yang baik untuk akal mereka dan mana yang bisa merusak akal pikiran, sekali lagi pada berkaitan pada bagaimanapun sebuah akun berlaku—karena akun-akun tersebut penggunaan dan fungsinya hanya dimengerti oleh (tentu saja) orang-orang yang menggunakan akun itu secara pribadi.

Saya menulis ini karena saya merasa telah beberapa kali menemui kasus-kasus ganjil sehubungan dengan situs jejaring sosial ini, dan sangat prihatin pada orang-orang yang telah sengaja atau tidak sengaja melakukan sesuatu yang berakibat buruk bagi kesehatan jiwa mereka dalam inter-aksi-fungsi penggunaan situs jejaring sosial oleh pengguna situs jejaring sosial itu sendiri dengan atau tanpa mereka sadari.
Kalau saja dapat dipahami bahwa memiliki kelainan jiwa itu tidak enak adanya, orang-orang seharusnya menghindari tindakan sekecil apapun yang bisa merusak kesehatan jiwa mereka. Karena sebaik-baiknya sesuatu yang ada di antara kewarasan dan ketidakwarasan tidak lebih tebal dari sehelai benang kapas yang amat sangat tipis. Dan dalam kondisi ini, adalah lebih baik orang-orang yang mengakui memiliki kelainan jiwa yang jelas dan berusaha semampu mungkin untuk memperbaiki diri dan mempertahankan kewarasan, daripada sepanjang-panjangnya seseorang terlalu malu untuk mengakui bahwa dirinya ‘sakit’ dan berujung melakukan penipuan terhadap dirinya sendiri atau justru melakukan sesuatu yang malah membuat mental, jiwa, dan pikirannya ‘sakit’ sekalipun diri itu berpikir ia waras adanya.

Salam

Rabu, 26 Januari 2011

LEONID SAKLITINOV, ASLI LOKAL

Diposting oleh re di 07.25
“Namaku Leonid Saklitinov” katanya sambil menepuk dada. Ya benar, temanku itu namanya Leonid Saklitinov. Bila dilihat orang banyak mengira ia orang Rusia atau kalau zaman dulu Uni Soviet. Sikapnya sok cool, seperti orang kaukasia.
Kalau bertemu langsung, orang yakin bahwa dia produk lokal, nggak mungkin orang Rusia atau Soviet. Lihat saja badannya yang kekar dan berkulit “sawo busuk” alias hitam, yakinlah bahwa dia orang lokal. Dia temanku yang membawaku ke kota Bandung ini. Kami memang sekampung, Pantura Jawa. Benar Kami “anak Pantai” maka tidak heran kulit kami terbakar matahari.
Sewaktu di Kampung, orang-orang meledek namanya yang unik. Sebenarnya nama dia adalah gabungan nama orangtuanya dan hari kelahirannya. Bapak bernama Legiman dan Ibu Ponidjah, digabungkan secara akronim menjadi “Leonid”. Dia dilahirkan Sabtu Kliwon Tiga November, disingkat lagi menjadi “Saklitinov”, jadi ia bernama LEONID SAKLITINOV. Aku biasa panggil dia “Boss!” karena sebutan itu yang diinginkannya.
Sementara aku sendiri punya nama keren, Jayadi purnomo. Sayang si Leonid, suka memanggilku “Mono”. Padahal aku ingin dipanggil dengan “Jay” atau “Pram”, kan lebih keren.
“Mon, beliin aku samsu lah!” pintanya padaku setiap tanggal 27, ia minta dibelikan satu bungkus rokok Dji Sam Soe, pas banget selalu setiap aku gajian.Yang paling nyebelin dia panggil aku ‘Mon”, emangnya emon! kenapa sih nggak panggil Jay atau Pram??!!!
Sialan, kerjaannya malakin aku melulu” pikirku dalam hati. Hanya dalam hati, karena aku tak berani ngomong langsung. Selain takut juga nggak enak, dialah yang mengajakku ke kota ini. Wajar aku sebut dia Boss.
Aku tinggal di kosan yang sama, meskipun beda kamar. Pemilik rumah tinggal di lantai bawah sementara kami di atas. Si Leonid kamarnya menghadap ngulon -barat, sementara kamarku ngadap lor -utara. Kos-kosan itu ditengah perkampungan padat. Untuk mengaksesnya saja melalui gang sempit yang disebut gang senggol. Setiap orang yang melaluinya, sulit menghindari senggolan sesama pemakai jalan.
Aku hanyalah buruh kasar di EO (event Organiser) yang tugasnya mencuci piring, masang tenda dan menyusun blocking pelaminan kalau ada kendurian. Gaji tidak seberapa, tetapi pemilik EO sangat baik padaku. Setiap pulang, aku bisa membawa sisa makanan yang tidak habis di kendurian.
Di kosan, si Leonid sering meminta makanan. “Mon, aku minta sepiring ya!” itulah kalimat yang sering kudapati setiap malam sepulang kerja. Mon lagii…mon lagii…
Paling kesel kalau lagi ada cewek gebetan -sesama karyawan katering, datang. Mosok si Leonid masih panggil aku “mon”. Kesel Aku. Jadinya Ceweku memanggilku “Mas Mon” coba kalau manggil “Mas Pram” kan kereeeen.
Si leonid sebenarnya baik, ia kerja serabutan persisnya seorang calo di plaza yang menyediakan layanan service dan penjualan elektronika; TV, Komputer hingga tape dan TV canggih untuk mobil. Ia memberiku kipas angin bekas. Ah.. lumayan untuk ngadem. Maklum kosanku berdinding tripleks beratapkan seng. Kalau siang wuaduuuuh… puanaas!
Tiga hari tak ada acara di EO, uangku sudah habis, cekak nih. Habis dipakai nraktir bakso cewek gebetan plus teman-temannya 20 orang.  Wes pokoke habis-habisan. Order kerjaan sepi. Kata pemilik EO baru ada lagi acara minggu depan.
“Mon, ada nasi?” tanya Leonid
“Gak ada bos. Ini juga baru mau masak nasi, tapi lauknya nggak ada. Di Warung Mbak Sus, ikan asinnya habis. Aku mau ke pasar dulu.” jawabku. Aku sesekali memasak nasi sendiri, untuk menghemat anggaran.
“Waah.. aku ikut ya, Mon!” kata Leonid.
“Tumben Bos, mau ikut ke pasar.” jawabku, “tapi oke lah.”
Kami pergi ke pasar tradisional. Dekat dari kosan, ongkos angkot pun cuma 1000 rupiah. Tapi saat kami turun di pasar itu, tidak bayar. Maklum si Bos Leonid preman yang kenal sama sopir angkotnya.
Di pasar aku langsung menuju penjual ikan asin, beli 4 biji telor dan cabe buat sambal. Leonid ngikutin seperti asistenku saja. Oh ya di pasar itu banyak tukang asongan yang menjual lap, kantong plastik, rokok dan lain-lain.
Ada pula penjual asongan yang menawarkan pete. “Mas petenya mas!” ia menawarkan. Pete itu satu ikatan sekira 10 biji. Aku berniat membelinya. Si Leonid Saklitinov menoleh ke arah tukang pete, tiba-tiba “WAAAAAAAA…!!” ia teriak dan berlari keluar pasar menuju jalan. Semua orang yang ada di situ kaget. Aku pun tak mengerti apa yang terjadi. “Mas mas, nggak jadi saya beli petenya.” kataku sambil berlari menyusul Leonid.
Di pinggir jalan, si Leonid duduk di atas tembok kirmir pembatas jalan. Ditangannya ada sebatang rokok. Rupanya ia ingin menenangkan diri. Tangannya diangkat hendak menyedot asap rokok. Terlihat tangannya gemetar.
“Boss…ada apa bos?” tanyaku heran.
“Aku takut pete tahu!” jawabnya tanpa menghiraukan kedatanganku.
“hua ha ha ha ha ha…” aku tertawa tak tahan mendengar jawaban itu. Ternyata Leonid Saklitinov, berbadan kekar dan sok Cool seperti orang Soviet itu taku sama pete. Ini rupanya yang disebut fobia lachanophobia – ketakutan dengan sayur-sayuran. Tapi pas nggak ya fobia itu, lachanophobia kan ketakutan dengan sayur-sayuran. Si Leo ini takut sama pete: Petephobia kali.
“Awas kalau koe bilang-bilang sama orang!” Ancam dia.
“Hua ha ha ha” aku masih belum bisa menahan ketawa.
“Ini serius!” ucapnya sambil menoleh ke arahku dan matanya terbelalak. Akun berhenti tertawa.
“Okey Bos, aku nggak akan bilang-bilang sama siapa pun. tapi mulai hari ini bos nggak boleh manggil namaku Mono atau Mon lagi, tapi Jay atau pram ya!” kataku sambil menahan tawa.
“Okey, terserah koe lah” ucapnya sambil naik ke dalam angkot untuk kembali ke kosan.
Salam

AKU TAK MAU MENIDURINYA! TUHAN TAK MUNGKIN MENGAMPUNIKU!!

Diposting oleh re di 07.12
Pintu kamar hotel itu terbuka, “malam om!” sapa seorang wanita cantik, usian 20-an, bertubuh semampai, mukanya oval, berkulit putih dan bulu matanya lentik -saya tahu itu bulu mata tambahan alias palsu. Senyumnya menghiasi bibirnya yang tipis berwarna merah muda, nampak mengkilap dengan sapuan lips gloss-nya. Ah ada apa gerangan?
“Malam” jawabku. Malam itu aku menginap di hotel sebagai bagian dari jamuan dari kolega bisnisku.
“kita langsung aja ya om!” ucap wanita itu sambil membuka bajunya, telihat bra berwarna krem membungkus keindahan si “buah’ perhatian kaum lelaki.
“Oh tidak usah mbak! pakai lagi bajunya!” larangku sambil arus darahku seperti listrik kurang spanning.
“Silakan keluar kamar, mari…” ajaku sambil membuka pintu. Wajahnya sontak merengut menunjukkan ketidaksenangan. Ia ngeloyor ke arah lobby, nampak seperti mau meninggalkan hotel. Aku tak peduli.
Aku langsung menuju lobby hotel. Di kursi itu masih ada kolegaku sedang ngobrol ngalor ngidul bersama stafnya yang mengantar saya ke hotel.
“Malam, pak! Mengapa cepat sekali? mugkin bapak terlalu lelah ya?” sapa kolega saya sambil memberondong dengan dua pertanyaan. Maksud hati mau “nyemprot” dia, malah aku jadi mikir kenapa dia bertanya seperti itu. ‘Mengapa cepat sekali? mungkin bapak telalu lelah’ Ah kurang ajar dia, dia pikir aku ini kena EDI alias Ejakulasi Dini. Sontoloyo! gumamku dalam hati.
“Ah cewek itu gak bagus!” akhirnya itulah kata-kata yang terucap. Begitu saja terlintas dalam otak.
“Pak, tolong sini pak!” panggil kolega saya pada seseorang. Lelaki itu berpakaian necis, tetapi tidak nampak seperti karyawan hotel. Sepintas mereka berbisik. Kemudian, lelaki berpakaian necis itu pergi ke arah wanita yang tadi masuk ke kamarku. Ternyata wanita itu berada dekat lorong penghubung antar hotel. Hotel itu memiliki dua bangunan indah yang terhubung melalui lorong koridor antar-gedung.
PLAK PLAK tiba-tiba lelaki itu menampar wanita itu tanpa warning terlebih dahulu.
Astagfirullah aladziim” aku nyebut nama Gusti Allah. Apa yang terjadi.
“Tenang pak, ini akan segera teratasi” kata kolegaku memastikan.
Astagfirullah aladziim, ternyata kata-kataku yang menganggap wanita itu tidak bagus ternyata salah. Aku hanya tak ingin diledek karena ucapan kolegaku tadi . AKu juga tidak bisa mengatakan tidak ingin ditemani wanita di kamar, karena dia -kolegaku itu, akan mencap-ku sebagai orang munafik.
“Begini saja pak, silakan bapak pilih yang mana?” tanya lelaki necis itu yang diamini dengan anggukan kolegaku. Lima buah foto wanita ditunjukkan padaku.
Sontoloyo, masih juga ditawarkan!’ makian ku tak terbendung, tetapi… tetap dalam hati.
“Baiklah pak, maaf bukan saya mempermainkan. Saya minta yang tadi saja!” jawabku. Aku ingin minta maaf padanya.
“Bapak tidak ingin yang lainnya saja?” tanyanya lagi meyakinkan. “Benar, pak. Saya ingin yang tadi saja!”
****
Akhirnya aku masuk terlebih dahulu ke dalam kamar. Wanita yang tadi kuminta kembali pun memasuki kamar sekira 1 menit kemudian. Kini ia tidak lagi tersenyum.
Seperti awal dia masuk tadi, ia langsung akan membuka baju. “Ooops… nggak usah mbak!” larangku.
“Terus mau ngapain!?” tanyanya dengan nada tinggi. “Saya mohon maaf, atas kejadian tadi. sekali lagi saya mohon maaf” pintaku dengan suasana hati yang nggak menentu. Ini salahku..ini salahku. Aku terus meyakinkan tamparan yang ia terima dari lelaki necis yang ternyata germo itu, karena salahku.
“Terus ngapain?” tanyanya lagi tanpa menghiraukan permohonan maafku.
“Begini saja, kita ngobrol-ngobrol saja di kamar ini , ya. barang satu atau dua jam gitu
“Oke, masih pakai baju?”
“Oh tentu mbak, silakan mbak duduk di kursi itu saya dikursi ini”
Ia pun duduk, obrolan dimulai dengan saling bertanya tentang nama masing-masing. Aku jawab saja namaku sejujurnya, entahlah kalau dia. Sampai obrolan ngalor-ngidul yang penting suasana “perang’ berakhir. Akhirnya, aku mulai berani memasuki arah pembicaraan seputar moral dan agama.
“Maaf mbak, sudah berapa lama kerja seperti ini” tanyaku mulai agak sok menjunjung moral.
“baru dua bulan” jawabnya disusul dengan air matanya berlinang. Ia menjelaskan mengapa sampai melakukan hal itu. Pacarnya lah yang ia tuding penyebab segala perbuatan yang dinilai nista oleh masyarakat. Kini pacarnya itu pergi entah kemana, sementara ia ditinggalkan dalam keadaan hamil. Ah ternyata alasan klasik, pikirku.
“Ini demi anak saya yang baru empat bulan, dari mana saya bisa memberikan susu dan makanan bayi dan juga bagaimana makan saya sehari-hari sementara ibuku sudah renta..” linangan air mata berurai menjadi tangisan tersedu-sedu.
“Memangnya mbak tidak bisa keluar dari kondisi ini?” tanyaku…
Ia tidak langsung menjawab. Diraihnya tisu yang disediakan hotel di atas meja. Air matanya diusap. Riasan make-up yang tipis ia kenakan pada wajahnya itu tak banyak berpengaruh. Ia tetap cantik alami. “Bisa pak, karen si Bapak tidak memaksa dan melarang saya kalau ingin berhenti” jawabnya sambil menunduk. “Tapi nggak mungkin Gusti Allah akan mengampuni saya” tambahnya putus asa.
Lho tidak begitu mbak. Gusti Allah itu maha pengampun. Luasnya lautan tidak seluas ampunan Tuhan” aku mencoba meyakinkan.
“Tetapi bagaimana caranya?”
“Lihatlah mbak, itu kan mesjid. Datanglah ke sana, duduk-duduk saja di sana, yakinkan dalam hati untuk kembali kepada masyarakat seperti seharusnya mbak berada.” Aku menunjuk arah mesjid dekat hotel yang terlewati ketika menuju hotal. Aku hanya mengira-ngira arahnya dari kamar itu dengan menunjuk kea arah kiriku.
“Saya harus mengaku dosa kepada siapa?” tanyanya, mulai tertarik.
“Mbak tidak perlu mengakui dosa pada manusia siapapun di mesjid itu, bahkan mbak kembali saja ke rumah dan shalatlah di rumah, akui dosa hanya kepada Tuhan. Mohonkanlah ampunannya.”
“Mas, bolehkah saya panggil mas bukan Bapak!” pintanya.
“Baiklah, panggil saja mas” ucapku senang, rupanya is mulai tertarik arahanku.
“Akankah ada lelaki sebaik mas, kita sudah berdua di kamar ini, malah mas hanya mengajak mengobrol sama saya. Mas saya akan berubah. Saya akan kembali bermasyarakat seperti dulu, jikalau mas mau menjadi suami saya” pintanya sambil matanya menatap tajam mataku.
Wea alakadalaaah. Kipiye iki, kok jadi aku yang kena ya?
“Terima kasih mbak, pujian mbak yang baik. Saya telah beristri dan punya anak. Yakinlah bahwa lelaki baik itu banyak. Apalah saya ini, yang lebih baik dari saya masih banyak di luar sana. Bukanya saya nggak mau menikahi mbak yang bekerja seperti ini, tetapi saya tidak ingin menghianati istri saya.” Begitu penjelasanku panjang lebar.
“Baiklah Mas, 2 jamnya sudah habis ya!” jawabnya sambil meraih tas diatas kursi sofa, tanpa menunggu jawabanku ia ngeloyor menuju pintu kamar.
“Selamat malam!” ucapnya sambil menutup pintu dari arah luar kamar.
Aku hanya terbengong-bengong. Waduh, apa aku salah ngomong lagi ya….?????

1/2 GELAS YANG TAK BIASA

Diposting oleh re di 06.52

Aku disini tidak mau membahas apakah kamu melihat gelas itu setengah penuh atau setengah kosong. Sudah terlalu banyak yang membahas tentang hal itu bukan ?
Tinggal search en browsing, tentu kamu dah menemukan banyak artikel tentang hal itu.
Yang mau aku bahas adalah tentang bagaimana memandangnya dalam situasi tertentu.
Ada saatnya kita menjadi seperti gelas itu, merasa setengah dalam hidup, dalam perasaan dan sebagainya. Dan ada baiknya kalau yang dibahas adalah kejadian diawal yang mengawali bagaimana gelas itu bisa terisi setengah.
Kejadian yang mengawali? ya kejadian yang mengawalinya.
Apakah diawalnya gelas itu kosong lalu menjadi setengah atau gelas itu yang awalnya penuh lalu menjadi setengah.
kalau kita tahu kejadian awalnya, tentu kita bisa menentukan kalimat yang tepat tuk menunjuk ke gelas tersebut.
Saat kejadian awalnya gelas itu kosong dan menjadi terisi air setengahnya, tentunya kita bisa bilang itu gelas setengah penuh… sebentar lagi penuh.
Kalau ini diterapkan dalam hidup kita, yang awalnya kita kosong, gak tau apa2 lalu belajar dan menjadi gelas itu setengah penuh, tentunya itu baik. Karena kita sudah belajar tuk mengisi hidup kita menjadi lebih baik.
Atau awalnya merasa kosong dalam hidup lalu menjadi setengah penuh atau menjadi lebih berwarna dan menarik hidupmu, itu tentunya akan menjadi lebih baik. Karena saat itu berarti kamu sudah tau bagaimana cara untuk mengisi kekosongan dalam hidupmu.
Namun kalau awalnya gelas itu penuh lalu menjadi setengah gelas, alias menjadi hampa.
Tentunya ada yang perlu dipertanyakan, mengapa bisa menghilang setengahnya.
Apakah ada kebosanan? ada rutinitas yang menyebabkan kebosanan atau ada masalah sehingga dirimu menjadi setengah kosong?
Ini menjadi sebuah alert dalam hidup… dan sebaiknya saat dirimu menyadari kalau dirimu sudah menjadi setengah kosong, jangan biarkan hal itu menjadi berlarut2 dan akhirnya mengosongkan gelas yang ada dalam dirimu.
Well, memang hidup itu naik turun, seperti roda katanya.
Saat naik memang enak, namun saat turun? sebaiknya jangan berlama2 di titik terendah.
begitu pula dengan gelasmu, saat dia menjadi setengah kosong, sebaiknya dicari sebabnya dan berusaha menjadikan gelas di dirimu itu menjadi setengah penuh atau penuh kembali.
Have a nice day ^_^

GAYUSLISTA!!

Diposting oleh re di 06.20
Gayus dimana-mana, mulai dari warung kopi hingga warung politik. Mulai dari tukang becak hingga pejabat, Gayus menjadi topik pembicaraan hangat. Saya menyebutnya masyarakat kita sedang demam Gayus. Ada apa di balik fenomena ini?

Nama Gayus Halomoan Tambunan, anak muda mantan staf Kantor Perpajakan mendadak memiliki rating tinggi. Dan fantastis, Gayus ternyata memiliki daya keterkenalan luar biasa mengalahkan Ariel Peterpan atau tokoh politik kontroversi yang sering mengundang kemarahan publik. Ketika media massa –cetak, elektronik, maupun online—menghadirkan kabar tentang Gayus, mendadak indeks rating naik tajam.

Ya! Gayus memang sedang laris dan menjadi buah bibir masyarakat Indonesia bahkan dunia karena keberaniannya ‘memutar-alur’ dana pajak hinga miliaran rupiah. Tidak hanya itu, dalam menjalankan aksinya, ada indikasi Gayus melibatkan banyak pihak sehingga modusnya disebut kejahatan korporasi.
Terlepas dari modus aksi Gayus, ada perkembangan menarik seputar Gayus apabila dilihat dari perspektif psikososial. Ketika masyarakat menghujat, mencibir, memaki, atau bahkan menyanjung secara satir, secara tidak sadar, sebenarnya sedang ‘mengagumi’ Gayus Tambunan. Menurut saya, mengagumi seseorang tidak harus karena suka tetapi kebencian dan kejengkelan justru menghadirkan perasaan yang beda. 

Fenomena demam Gayus berimplikasi kepada sikap unik (baca: spontan) masyarakat secara umum. Ambil contoh, ketika ke Solo, di depan pintu masuk Terminal Tirtonadi, saya melihat banyak para penjual kaos oblong bergambar Gayus dengan tulisan; Gayus for Indonesia. Sebuah satir yang menarik karena dengan hadirnya Gayus maka sindikat mafia pajak –meski belum semuanya—terungkap. Lain cerita ketika saya ke Surabaya yang menemukan cafe kecil bernama Gayuslista. Cafe tenda ini berada di seputar kawasan Universitas Airlangga. Sepertinya, cafe didesain tidak permanen dan mirip pedagang kaki lima.
Tetapi apapun itu, Gayus telah menginspirasi banyak kalangan. Jika saya boleh berpikir nakal, Gayus membuat Indonesia lebih cerdas dan berani. Nah! Dengan momentum tertangkapnya Gayus maka sindikat mafia pajak perlahan terkuak. Sisi cerdasnya, aparat menjadi sigap mengamankan –dalam makna sebenarnya—tokoh pejabat yang disinyalir terlibat. Sisi cerdas yang lain, para mafioso di ranah hukum menjadikan Gayus sebagai ‘media eksperimen’ untuk mengelabuhi publik. Dengan mempermainkan opini publik, maka Gayus dengan nyaman melenggang keman saja meski statusnya adalah terdakwa. 

Diakui atau tidak, gara-gara Gayus, para tukang becak, penjual kopi, dan ‘pengangguran’ menjadi cerdas dadakan. Setiap kesempatan mereka membicarakan sosok Gayus dari berbagai perspektif. Dengan logika terbalik, ketika keburukan yang diungkap sejatinya sang pengungkap memiliki kekaguman secara tidak sadar terhadap Gayus. Semestinya kita berterima kasih kepada Gayus karena telah membuka kesadaran kritis masyarakat tanpa memandang tingkat pendidikan. 

Sekali lagi, jika boleh usul nobatkan Gayus sebagai Man of The Year karena laku inspiratifnya. Seandainya tidak ada Gayus, mungkin pejabat atau aparat yang nyambi menjadi mafia pajak tidak akan terungkap. Terlepas silang-sengkarut penanganan kasusnya, bagi saya, Gayus telah membuka kesadaran masyarakat. Nama Gayus pun menjadi topik hangat pembicaraan di mana saja. 

Fenomena Gayuslista!

CROP CIRCLE DAN FPI

Diposting oleh re di 06.02
Apaan sih ini kok crop circle yang menghebohkan di Sleman itu dihubungkan dengan FPI?. Memang tidak ada hubungannya. Lha kalo tidak nyambung kok judulnya heboh kayak gitu mas. Sabar tulisan ini belum selesai, aku masih berusaha menautkannya. Sebaiknya istilah crop circle tidak perlu lagi diperjelas apalagi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan  benar, walaupun itu adalah istilah asing. Soalnya semua pembaca akhir-akhir ini pasti sudah sangat familiar dengan istilah itu. Kalau FPI yang saya maksudkan, barangkali masih banyak yang belum tahu. Soalnya kepanjangan singkatan itu bermacam-macam. Bisa kepanjangan dari Front Pembela Islam yang sangat terkenal itu, bisa juga Farm Price Index, yaitu indeks harga memonitor penjualan peternak, atau bisa juga Formal Public Identifier atau Financial Planning Institute miliknya Afrika Selatan. Nah yang mana yang aku maksudkan?.

Agar pembaca tidak bingung dan menduga-duga aku sengaja mempermainkan mereka, maka dengan tegas saja, Front Pembela Islamlah yang aku maksudkan. Nah lalu apa hubungannya dengan crop circle yang menghebohkan itu?. Sabar dulu…. begini, crop circle itukan sebagaimana rumor yang berkembang dimasyarakat adalah tanda-tanda dari kunjungan alien ke bumi kita. Tentu saja isu ini banyak yang membantahnya. Ada juga yang merasa yakin bahwa crop circle itu dibuat oleh orang-orang kreatif yang haus sensasi, sehingga mau berpayah-payah meluangkan waktunya untuk merobohkan padi pak tani menurut pola-pola geomaetris tertentu. Keasyikan bekerja di keheningan malam yang gelap, dengan dihantui oleh perasaan was-was, takut kalau ketahuan yang punya sawah, pasti bakalan digebuk, memar, adalah penggugah adrenalin yang dicari oleh orang-orang kreatif itu.

“Gebuk” dan ”Sensasi”, khusus kata “sensasi” aku tambahkan  agar menjadi kata sifat menjadi “sensasional”,  adalah kata-kata kunci yang ,menjadi penghubung antara crop circle dan FPI. Ketakutan digebuk oleh karena melakukan sesuatu yang dianggap salah versi sang penggebuk kerap menghantui para tergebuk yang hidup di negara yang bernama Indonesia ini. Tapi alih-alih menjadi pemicu adrenalin seperti yang dialami oleh para orang-orang kreatif diatas, ketakutan digebuk oleh FPI malah menjadi pengalaman traumatik yang sangat jarang diulang lagi. Contoh ketika para anggota FPI Kota Cimahi yang menggebuk para penjual bakso yang berjualan di bulan ramadhan dua tahun yang lalu, sejak peristiwa penggebukan itu tidak ada lagi penjual bakso yang dapat ditemukan berjualan di lokasi itu. Kapok, takut digebuk lagi oleh FPI.

Lanjut. Para pembuat crop circle ini, kalaulah kita yakin benar bahwa itu adalah buatan manusia, dapat dipastikan akan beraksi kembali di sawah-sawah yang lain di pulau Jawa. Sekalipun katakanlah mereka kedapatan sedang bergiat merundukan padi-padi, menciptakan pola-pola geometris, dan katakanlah mereka digebuk sampai memar-memar dan biru lebam oleh pak tani yang marah karena sawahnya dikadalin, haqul yakin mereka enggak bakalan kapok, soalnya biarpun sudah digebuk dan dimemarkan tidaklah sebanding dengan kepuasan pribadi ketika melihat hasilnya karyanya menjadi santapan masyarakat yang latah UFO dan tidak kalah media yang haus berita sensasional. Barangkali sensasi UFO akan dapat mengalahkan sensasi yang diciptakan oleh kenaikan harga-harga komoditas vital akhir-akhir ini, mengalahkan kasus gayus yang bikin puyeng karena melingkar kesana kemari bak ular, sampai akhir tidak pernah tahu lagi mana pangkal dan mana ujungnya, mana ekor dan mana kepalanya. Atau barangkali sejenak, sensasi itu sanggup mengalihkan perhatian masyarakat terhadap pemerintah yang sedang ”memble” ini, dihajar eh digebuk kaum oportunis. bayangkan kalau FPI ikutan menggebuk pemerintah ini.
Balik lagi. Setiap tindakan FPI yang menyapu kemaksiatan dan kemungkaran selalu menjadi berita sensasional setidaknya di kurun waktu dua tahun yang lalu. Lagi-lagi media yang haus berita sensasional mengekspos setiap gebukan FPI di mana-mana. Alhasil FPI semakin naik daun, wajah pemimpinnya, termasuk pemimpin strata terendahnya/pemimpin lapangan yang modalnya lebih banyak otot daripada otak,  terpampang di berbagai media, permintaan wawancara, ceramah meluber bak air yang ujung-ujungnya menaikkan posisi tawar “politik” ala Indonesia yang masih amatiran dibandingkan dengan negara-negara maju lain, dan meningkatkan kesejahteraan para anggota-anggotanya. Setidak-tidaknya adalah uang operasi untuk beli makanan/minuman dan seragam putih-putih berserta atributnya, yang biasanya dipegang koordinator lapangannya. Baru setelah aksi dilakukan, uang, minuman, dan makanan dibagi berdasarkan porsi masing-masing. Sehingga bolehlah kita sebut kalau mereka memang spesialis atau profesional dalam urusan gebuk menggebuk tanpa rasa bersalah dan tanpa membahayakan sang pemberi order.

Kesimpulannya. Ada perbedaan yang sangat jauh antara para pembuat crop circle dan FPI. Agen crop circle adalah korban yang bakalan digebuk kalau kerja mereka ketahuan oleh pak tani yang marah. Sementara FPI adalah kumpulan orang-orang kreatif yang hobi menggebuk orang lain dengan dalih mencegah kemungkaran. Agen crop circle adalah orang yang haus kepuasan pribadi, haus denyutan adrenalin di dalam tubuhnya, jadi walaupun digebuk, bakalan enggak kapok, lihat saja  crop circle bakalan terus berlanjut disawah-sawah pak tani yang lain di seantero Indonesia. Persamaan antara agen crop circle dan FPI adalah kedoyanan mereka terhadap sensasi yang bisa menaikan posisi tawar mereka melalui blow-up media massa yang cenderung “lebay”. Dalam banyak kasus utamanya di Inggris, para seniman crop circle sering dibayar mahal oleh perusahaan yang juga haus sensasi, dengan menyewa mereka untuk merundukan batang-batang gandum, untuk menciptakan logo perusahaan mereka dalam skala gigantik, dapat di lihat dari angkasa.

Penutup. Iseng saja. Apa jadinya jika para pembuat crop circle, penebar kemungkaran untuk pak tani yang sudah bersusah payah berbulan-bulan merawat tanaman padi dengan tujuan mulia : untuk menghidupi rakyat Indonesia, digebuki oleh FPI. Kira-kira bakalan kapok enggak ya?

ANEKDOT SAKAMOTO RYOMA

Diposting oleh re di 04.43
Pernahkah anda mendengar nama Sakamoto Ryoma?. Kalau menilik namanya tidak salah pasti orang Jepang. Anda Benar. Tapi siapakah dia?. Sekelumit tentang dia akan aku jelaskan berikut ini sebelum anda , aku bawa ke dalam anekdotnya.

Sakamoto Ryoma memainkan peranan yang vital di  era revolusi menjelang restorasi Meiji di Jepang. Dialah tokoh penting yang menggerakkan revolusi Jepang untuk lepas dari kekuasaan feodal ke-shogun-an, menjadikan Jepang sebagai negara modern dibawah konstitusi kekaisaran. Pemikirannya tergolong progresif untuk ukuran Jepang saat itu. Pada umur 20 tahun dia sangat terinspirasi oleh kebudayaan Eropa dan berpikir bahwa Jepang mesti berada di level yang sama dengan Eropa, melalui pembangunan kekuatan armada lautnya. Dialah yang berperan menyatukan dua klan berpengaruh yaitu Satsuma dan Chosu, dan menjadikan mereka sebagai kekuatan untuk melawan pemerintahan ke-shogun-an yang telah berurat berakar kurang lebih seribu tahun di Jepang. Kiprah Sakamoto Ryoma berlanjut dengan mendirikan sebuah organisasi yang bernama “Kaientai” , merupakan kombinasi perusahaan jasa perkapalan dan armada laut. Organisasi ini, sesuai dengan cita-citanya  bertujuan untuk melatih pemuda handal Jepang dalam bahasa dan navigasi laut. Sakamoto Ryoma menelurkan gagasan-gagasan brilian  untuk kemajuan Jepang di masa modern seperti misalnya, dia mewacanakan pembuatan konstitusi dasar Jepang, perlunya amandemen perjanjian perdagangan dengan negara asing, dan perlunya perbaikan sistim keuangan nasional. Dan terakhir, tindakan Ryoma yang bersifat historis sepanjang masa, adalah penerapan hukum internasional untuk kecelakaan laut untuk pertama kalinya di dalam wilayah Jepang, ketika armada kapalnya bertabrakan dengan armada kapal lain di laut Jepang. Sayang Ryoma tidak berumur panjang dan tidak melihat Jepang menggapai puncak kejayaan nasionalnya di bawah restorasi Meiji. Nyawanya banyak diincar oleh musuh-musuhnya. Setelah melewati beberapa kali usaha pembunuhan yang gagal. Akhirnya dia mati terbunuh oleh lawan-lawannya kaum feodal kelas samurai pendukung shogun,  di sebuah penginapan di Kyoto.

Berikut anekdotnya yang terkenal yang menggambarkan pemikirannya jauh berada di depan.
Suatu ketika dia bertemu dengan seorang kawannya yang membawa pedang panjang di pinggangnya. Dia tertawa terbahak-terbahak. Katanya “kawan, pedang panjang itu tidak berguna lagi sekarang, kalah dibandingkan dengan pedang pendek ini” seraya menunjukan pedang pendek yang tersemat di pinggangnya.  Kawannya itu lalu pulang dengan penasaran. Keesokan harinya kawannya ini menyematkan pedang pendek di pinggangnya, dan sengaja mencari Ryoma untuk menunjukannya. Setelah bertemu, Ryoma kembali tertawa terbahak-bahak, melihat kelakuan temannya. Setelah tawanya reda, Ryoma mencabut pistol kecil dari balik bajunya. Katanya, “Kau lihat ini kawan. Ini senjata yang paling moderen milik orang-orang eropa. Pedang kecilmu itu tidak ada gunanya lagi”. Kawannya ini balik lagi ke rumah dengan penasaran. Esok harinya di kembali mencari Ryoma. Setelah ketemu, tanpa basa-basi langsung dicabutnya pistol dan ditunjukan ke Ryoma. Lagi-lagi Ryoma tertawa terbahak-bahak sampai  keluar air matanya. Setelah reda, dia menepuk-nepuk bahu kawannya. Katanya, “kawanku ketahuilah zaman  konflik bersenjata itu sudah usai, kita tidak perlu senjata lagi untuk melawan musuh kita. Kita hanya perlu ini”. Katanya seraya mengeluarkan kitab undang-undang hukum internasional di tangannya.

Selasa, 25 Januari 2011

PANCASILA, SEBUAH WACANA KOSONG

Diposting oleh re di 20.36
Tanggal 1 Juni 2010, Pancasila tepat merayakan hari jadinya yang ke-65. Di usianya yang terus bertambah, seperti layaknya seorang manusia, Pancasila pun sebagai dasar dari NKRI kini sudah menapaki usia pensiun. Sebuah masa ketika Pancasila seperti seonggok sampah yang tak berguna karena sudah tua.
Namun, Pancasila bukanlah seorang manusia. Ia adalah sebuah dasar dari sebuah negara besar, sebuah negara yang dapat terbebas dari jerat imperialisme dan kolonialisme. Patutkah Pancasila dipensiunkan?
Pancasila kini nampaknya hanyalah sebuah wacana kosong. Begitu juga dengan temannya, Bhinneka Tunggal Ika. Mereka yang terletak dalam satu bingkai seekor burung Garuda yang gagah, hanya menjadi komplementer dan pajangan yang diapit dua foto orang terbesar di Indonesia ini.

Lima Pilar Yang Rapuh
Indonesia, berdiri di atas lima pilar utama. KeTuhanan, peri kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan kesejahteraan rakyat. Lima pilar yang berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika itu harus tetap berdiri berdampingan untuk menopang Indonesia. Satu saja dari mereka jatuh, maka jatuhlah Indonesia. Hal ini terbukti sekarang. Pilar mana yang tidak rapuh?

Adakah orang Indonesia ini berkeTuhanan?
Semakin derasnya kemajuan IPTEK, hanya membuat orang-orang berpaling dari Tuhan menuju IPTEK. Parahnya lagi, ada juga kumpulan-kumpulan orang yang menggunakan Tuhannya untuk berkuasa di kancah politik Indonesia. Apakah Tuhan itu digunakan sebagai alat untuk berkuasa?
Arus globalisai juga turut andil dalam membuat keTuhanan ini menjadi rapuh. Berkembangnya ideologi-ideologi baru, paham agnostik dan ateis, telah membuat agama hanya sebagai sebuah formalitas dan Tuhan semakin ditiadakan.

Adakah peri kemanusiaan di Indonesia?
Membuka mata terhadap penderitaan rakyat kecil saja sangat sulit untuk dilakukan calon pemimpin di Indonesia. Lihat saja. Berapa banyak dari tiga calon pasangan capres-cawapres yang mau menitikberatkan program kerjanya pada masalah lumpur Lapindo, lemahnya penegakkan HAM, atau keadilan yang bisa diperdagangkan? Padahal, ini juga masalah pokok yang sebenarnya patut diselesaikan disamping masalah di bidang ekonomi dan sebagainya.
Para calon pemimpin Indonesia pun juga melakukan hal yang sama. Ketidakberadaban satu dengan yang lainnya. Persaingan terjadi dengan tidak sehat. Saling sindir, saling menjatuhkan dengan eufemisme, saling menyerang. Inikah contoh untuk rakyatnya jika mau berkuasa harus dengan mengimplementasikan cara yang “sedikit” tidak beradab?

Dimana persatuan Indonesia?
Semua orang yang ada kini telah berada dalam kotak-kotak nya masing-masing. Dengan sekat tak tertembus berupa kepentingan pribadi. Berapa banyak usaha yang telah dilakukan sekelompok orang untuk melepaskan diri dari Indonesia? Mulai dari GAM hingga OPM. Dari daerah Sabang hingga ke Merauke.
Persatuan macam apa yang bisa dibangun jika kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh petinggi-petingginya saja juga tidak bisa mereprresentasikan sebuah kepluralitasan? Pantas jika persatuan itu akan rapuh pada akhirnya dan jangan heran jika nanti -bukan tidak mungkin- lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” sudah tidak ada lagi.

Dimana musyawarah?
Musyawarah itu hanya ada di kalangan legislatif pemerintahan Republik Indonesia. Ketika mereka membuat suatu kebijakan, adakah masyarakat juga turut serta dalam pengajakan musyawarah? Minimal, adakah mereka mendengarkan teriakan orang-orang di liar tubuh legislatif? Akhirnya, kebijakan yang dibuat pun hanya menimbulkan kontroversi dimana-mana karena hanya mengedepankan kepentingan golongan tertentu. Padahal, musyawarah itu mutlak dilakukan untuk membentuk suatu kebijakan yang objektif.

Adakah kesejahteraan rakyat?
Jangan melihat kalangan menengah ke atas. Jika melihat mereka, mereka akan tetap saja makmur seperti biasa. Namun, jika kita melihat ke bawah, kenyataannya adalah sebaliknya. Kehidupan serba susah, kemiskinan yang terus merebak dimana-mana, penanggulangan bencana yang tak kunjung usai, dan lain sebagainya.
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa membat kesejahteraan itu merupakan sebuah proses panjang. Namun, hingga kapan proses itu selesai? Dari masa ke masa, belum nampak satu pemimpin pun yang mampu untuk membuat kondisi rakyatnya menjadi lebih baik.
Terlihat jelas bagaimana Pancasila kini sudah mati. Hanya sekedar sejarah yang nihil dalam implementasinya. Masih mampukah pemimpin Indonesia yang berikutnya membuat Pancasila hidup kembali? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya patut juga untuk kita jawab demi melihat apakah Pancasila akan tetap eksis untuk menopang Indonesia atau akan terkubur dan menjadi kenangan.

PANJAT PINANG ALA TURIS JEPANG

Diposting oleh re di 20.32
Dua malam lalu, secara tidak sengaja ketika iseng-iseng memainkan remote control memindah-mindahkan channel TV, tiba-tiba secara sekilas saya melihat bangunan pura khas  Bali. Akhirnya saya berhenti di channel tersebut, dan ternyata memang lokasi shooting acara tersebut di Pulau Bali.

Walaupun tidak sepenuhnya paham karena menggunakan bahasa Jepang, tapi dari  video yang ditayangkan saya bisa menyimak acara tersebut tentang pengalaman seorang Nihon Jin yang berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Bali.
Di Bali dia kaget melihat ada batang Pohon Pinang yang ditanam dan di puncak batang tersebut diletakkan macam-macam barang, mulai dari Jitensa (sepeda), Terebi (TV), Rice  Cooker, DVD Player, kipas angin, ayam hidup hehehe, pakaian, kutang, dll. Lalu setelah dijelaskan itu karena ada yang punya hajat bikin acara, dan barang-barang di puncak  batang tersebut bisa dimiliki oleh yang berhasil memanjat sampai ke puncak tiang tersebut. Lalu ketika dia mencoba memanjat, dia kaget ternyata batangnya licin karena telah dilumuri minyak. Dia merasa yakin, tidak akan ada yang bisa berhasil naik sampai ke puncak batang tersebut.Tidak terpikir olehnya bahwa dengan berkelompok, saling menopang dan membantu sesama anggota kelompok untuk sampai ke puncak, batang itu bisa ditaklukkan.Hal itu baru terpikirkan olehnya setelah dijelaskan oleh salah satu penduduk lokal, dan karena dia tidak tahu bahwa aturan mainnya juga membolehkan untuk berkelompok, tidak harus sendiri-sendiri.
Sampai di sini, saya sempat berpikir, kenapa dalam urusan permainan seperti itu, kita bisa berpikiran untuk mengnadalkan kerja sama, saling membantu, tidak saling menjatuhkan dan melorotin orang lain, tapi dalam kehidupan sehari-hari yang terlihat justru semnagat persaingan dan saling menjatuhkan, menjelekkan sesama calon pemimpin, yang sangat intens terlihat selama masa-masa menjelang PEMILU yang lalu.Semua mengaku ingin memajukan bangsa dan negara, tapi kenapa kalau semua ingin memajukan bangsa dan demi kepentingan bangsa, yang terlihat kok malah kepentingan pribadi, kelompok, partai. Kalau semua ingin memajukan bangsa dan negara, bukankah lebih baik bekerja sama, saling mendukung, bukan merongrong.Tidak harus menjadi presiden atau anggota DPR untuk bisa berkarya demi bangsa dan negara.Yang terlihat justru mental kepiting dalam keranjang. Bila ada satu kepiting yang berada di mulut keranjang dan siap untuk keluar dari keranjang justru kepiting-kepiting di bawahnya menariknya turun lagi ke dasar keranjang. Bukannya membiarkan si kepiting yang paling atas keluar dulu dan membantu kepiting lainnya untuk keluar, dan kepiting-kepiting lain sabar menunggu giliran. Mental TIJI TIBEH…, MATI SIJI MATI KABEH, lebih baik semuanya gagal. Mungkin mental seperti ini juga yang membuat prestasi olah raga kita, khususnya olah raga beregu (sepak bola, dll) tidak pernah lebih baik dari pada olah raga individual (bulu tangkis), karena kita tidak terbiasa bekerja sama.
Sementara, bagi si orang Jepang, justru dalam permainan itu dia tidak sempat berpikir tentang kemungkinan kerjasama untuk bisa mencapai puncak batang itu, padahal dalam kehidupan sehari-hari, orang Jepang terkenal sebagai bangsa yang sangat mengedepankan semangat kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam huruf kanji, orang (hito) disimbolkan dengan dua buah stroke (garis) yang saling menopang. Makna simbol tersebut adalah manusia tidak bisa hidup sendiri, tidak bisa berdiri sendiri, harus saling menopang.
Rahasia sukses orang Jepang salah satunya adalah budaya kerjasama, sehingga ada cerita bahwa 1 orang ilmuwan Jepang bisa dikalahkan oleh 1 orang ilmuwan Amerika. Tapi bila 10 orang ilmuwan Jepang bekerjasama, maka bisa mengalahkan 10 orang ilmuwan Amerika, karena kerjasama mereka menciptakan sinergi.
Lanjut ke cerita tentang si turis Jepang yang sedang berkunjung ke Bali.Setelah mengetahui rahasia untuk bisa mencapai puncak batang tersebut, akhirnya dia bergbung dengan salah satu kelompok. Sebelumnya dia latihan dulu bersama kelompoknya, dan dia diberi kehormatan untuk berada di posisi paling atas, yaitu berdiri di pundak orang yang persisi berada di bawahnya, dan orang yang berada di bawahnya berdiri di pundak orang yang paling bawahnya lagi.
Setelah latihan, dia optimis bisa meraih beberapa hadiah yang ada di puncak batang tersebut. Targetnya adalah TV. Lalu ketika lomba akan dimulai, karena ada 6 kelompok yang ikut, dilakukan pengundian nomor untuk menentukan urutan kelompok mana yang mendapatkan kesempatan pertama, berturut-turut dari pemanjat pertama sampai pemanjat keenam. Oleh kelompoknya, si turis Jepang ini diberi kepercayaan untuk mengambil nomor, ternyata dia mendapat nomor 6, berarti kelompoknya mendapat giliran terakhir.
Yang bikin saya menonton sambil tertawa terbahak-bahak adalah waktu giliran kelompok urutan pertama sampai kedua, TV yang jadi target si turis Jepang belum tersentuh, si turis Jepang masih semangat, tapi begitu kelompok ke tiga sukses meraih TV, si turis Jepang teriak-teriak seperti anak kecil..terebi….terbebi…terebi. Wakakakak. Akhirnya targetnya diturunkan menajdi DVD player. Lalu ketika kelompok berikutnya sukses meraih DVD player, si turis Jepang teriak-teriak lagi DVD…DVD…DVD dengan ekspresi yang kocak banget, sampai saya gak tahan nahan ketawa hahahahaha. Kelompok berikutnya bisa naik sampai ke ujung  batang dan berhasil menurunkan sepeda, yang memang bukan target si turis Jepang. Akhirnya ketika tiba giliran kelompok si turis Jepang, dia berhasil naik ke pundak teman kelompoknya, tapi dia tidak berhasil meraih rice cooker yang tergantung di puncak batang. Tangannya menggapai-gapai tapi rice cooker tetap tak teraih hehehe, sampai akhirnya dia melorot turun tanpa hasil hehehe…
Reality show yang benar-benar menghibur.

YOU ARE NOT MY DOCTOR ANYMORE, BUT..

Diposting oleh re di 20.27
” You are not my doctor anymore, but……”
Ya sebuah kalimat yang mempunyai makna tersendiri buat bathinku yang paling dalam, sangat menyakitkan sekaligus sangat menyedihkan…..

Hari kamis kemarin saat memasuki long weekend minggu ini karena ada hari libur terjepit yaitu hari raya nyepi, aku memutuskan untuk menebus sebuah kesalahan pada buah hatiku si kecil Amar, ada sedikit kelegaan hati ini setelah… aku, buah hatiku dan ibunya Amar pergi ke Hongkong, tepatnya Disneyland adalah tujuan utama putraku, sudah lama dia menginginkan datang kedunia sahabat tidurnya boneka mickey mouse, dan minggu siang ini kami sudah kembali lagi di gubuk kecil nan asri untuk kembali menjalani rutinitas hidup kami, rasa lelah yang aku alami cukup membuat tulang tuaku merasakan pegal yang tidak bisa ku abaikan begitu saja, tapi lain halnya buat buah hatiku Amar yang begitu gembiranya karena telah mendapatkan keinginannya terwujud dengan ditambah bonus boneka barunya, ya sebuah boneka mickey mouse yang besarnya sama dengan besar badan putraku yg berumur 5 tahun, inilah pemandangan terindah yang kulihat dari raut wajah kegembiraan hati putraku Amar,” terima kasih ayah…, Amar sangat menyayangi ayah”, itulah ucapan putraku yang masih jelas hingga kini terngiang di gendang telingaku, sampai sore ini aku tertidur lelap mengobati nyeri tulang tuaku ini karena lelah selama perjalanan yang cukup panjang.
Tiba tiba aku dikejutkan dering HPku yang kuletakkan diatas bantal kepalaku, dan kulihat nomor telepon dari rumah sakit, “selamat sore dokter, ini suster Fatimah dari rumah sakit, apa dokter sudah kembali ke rumah ?”, itu yang kudengar saat kuterima telepon itu, “ya sudah jawabku”, “dokter, ini ada titipan surat dari pasien dokter yang bernama Astrid Gracia, apa perlu kami antar kerumah ?”, “ada apa ya suster ?, kok pakai titip surat, kan besok saya sudah bisa visite ke Astrid seperti biasa “, ” tapi dok…”, percakapan kami terputus karena battery hpku habis.
Penasaran aku dibuatnya, tapi naluriku mengatakan ada sesuatu yang terjadi sepeninggal tour kami ke hongkong, lalu kuputuskan bergegas untuk pergi ke rumah sakit sore ini, setibanya aku dirumah sakit langsung aku menuju ke kamar perawatan pasien gadis kecilku yg sangat istimewa, ya Astrid Gracia 12 tahun dengan diagnosis Osteocarsinoma at regio left elbow, stadium 3, ya pasienku ini menderita sejenis kanker ganas pada tulang di daerah sendi siku tangan kirinya yang sudah kami amputasi guna menyelamatkan nyawanya dari ganasnya jenis kanker tulang ini yang penyebarannya sangat cepat dan mematikan, terutama ke otak dan paru paru, ya sesuai prosedur tetap management kasus ini amputasi, radiasi dan chemotherapy.
Begitu kudapati kamar 9 ruang cempaka kosong, langsung kubertanya, suster mana pasien saya ?, sambil menunduk suster Fatimah mendekatiku dan menyerahkan amplop kecil berwarna biru langit sambil berkata, hari jum’at kemarin tepatnya jam 15.10 setelah chemotherapy cure ke- 3, Astrid menghembuskan nafas terakhirnya dok, maafkan kami dok, kami tidak memberitahu dokter, karena ini permintaan mamanya Astrid yang tidak mau mengganggu acara perjalanan dokter bersama Amar, ya…memang keluarga kami sudah begitu dekat dengan keluarga Astrid, bahkan Astrid sudah aku anggap seperti anakku sendiri, dan Amar putraku juga sangat dekat dengan kakak perempuannya ini, ya kepada Amar kukatakan bahwa kak Astrid ini kakaknya…, Ya Allah, lemas terasa kaki dan lututku mendegar penyampaian susterku, bermacam perasaan berkecamuk dalam bathinku, tak kusadari aku terduduk dilantai putih ruang cempaka ini dan langsung kuterima surat kecil itu dan langsung kubaca, yg isinya :
Buat dokterku yang sangat baik, dr. Anugra di rumah.
” You are not my doctor anymore, but you are my father and my angel…, yes you are my angel like star in the sky and still twingkling for me in the day and the dark of night, forever it will be for me….”.
Dokter, ini puisi khusus buat dokter Anugra, mungkin saat dokter membacanya, Astrid sedang tour juga menuju rumah Astrid yang baru yang dipenuhi bintang bintang yang berkelap kelip, Astrid ingat semua nasehat dan pesan dokter, bahwa Tuhan selalu sayang pada Astrid dengan ditandai bintang bintang yang ada di langit, dan dokter selalu bilang bila Astrid merasakan sakit pada siku ini, ingatlah pada bintang yang berkelap kelip dilagit, tempat para angel bermain melupakan kesedihan dihati, dan itu sudah Astrid lakukan, dan hasilnya memang benar sekali, setiap kali Astrid merasakan sakit yang sangat disiku, atau saat Astrid dichemotherapy, Astrid selalu membayangkan bintang bintang itu dan para angel yang datang menemui Astrid, hasilnya Astrid lupa dengan rasa sakit itu, dan Astrid ingin dokter tahu juga, bahwa tubuh Astrid yang lemah ini hanya rumah kecil buat Astrid tinggal, walau siku Astrid sudah dipotong, tapi Astrid merasa rumah kecil ini semakin lemah, Astrid tahunya mungkin disebabkan penyakit ini, tapi Astrid sudah memiliki rumah yang baru dokter, ya rumah yang lebih indah, dan bisa disebut istana di surga Tuhan, rumah ini lebih abadi dan dihuni para bintang dan angel, makanya dokter…, Astrid menginginkan segera pindah ke rumah yang baru ini, agar Astrid tidak hanya melihat bintang bintang dan angel dari kejauhan, tapi Astrid bisa selalu dekat dengan mereka, terima kasih dokterku yang sangat baik, yang sudah menemani Astrid selama ini, semoga dokter tidak marah setelah dokter membaca surat dari Astrid ini.
Salam tersayang buat bintang, angel dan ayahku, dokter Anugra Martyanto.
—ooo—
Itulah sekelumit surat yang dititipkan kepada suster untukku, dari malaikat kecilku yang sangat cantik dan sangat tabah hingga diakhir hayatnya yang bernama Astrid Gracia.
Selamat jalan malaikat kecilku, selamat menempati istana barumu di rumah Tuhan Surga yang sangat Indah dan abadi, dokter akan selalu mengingatmu dan suratmu ini akan dokter simpan sampai kapanpun, doaku menyertaimu nak…Malaikat kecilku, ASTRID GRACIA.

MARI SERAKAH, KARENA SERAKAH ITU BAIK..

Diposting oleh re di 20.20
Dalam film Wall Street (1987), tokoh Gordon Gekko yang diperankan Michael Douglas mengatakan bahwa serakah itu baik. Ia berkata, “The point is, ladies and gentleman, that greed — for lack of a better word — is good. Greed is right. Greed works. Greed clarifies, cuts through, and captures the essence of the evolutionary spirit. Greed, in all of its forms — greed for life, for money, for love, knowledge — has marked the upward surge of mankind. And greed — you mark my words — will not only save Teldar Paper, but that other malfunctioning corporation called the USA.”

Menurut Gekko, serakah menjadi bensin yang mampu menggerakkan ekonomi. Serakah adalah bahan bakar yang baik dalam perekonomian untuk membuatnya bergerak. Tanpa ada sifat serakah, ekonomi akan berhenti dan lesu. Namun keserakahannya yang berlebihan, justru menjatuhkan. Kini, keserakahan itu berulang lagi di Wall Street. Dampaknya adalah ambruknya keuangan global. Serakah telah menjadi sedemikian buruknya. Padahal, serakah telah menjadi sifat manusia sejak awal penciptaan. Sejak kecilpun anak-anak sudah cenderung serakah. Keinginan untuk memburu kepentingan diri dan hasrat menguasai adalah memang sifat dasar manusia.
Bapak ilmu ekonomi , Adam Smith, diburu oleh pertanyaan itu. Namun baginya, pertanyaannya bukan apakah serakah atau mengejar kepentingan diri itu baik atau buruk. Tapi bagaimana agar sifat-sifat itu bisa tetap ada, namun dapat menghasilkan suatu tatanan yang membawa pada kesejahteraan.
Ilmu politik menjawab itu dengan melahirkan Trias Politika. Hasrat berkuasa dan serakah dibiarkan berkembang. Namun untuk mengendalikannya, kekuasaan harus dibagi sehingga menjadikan nafsu itu lahir sebagai tatanan. Lahirlah istilah trias politik, sebuah pembagian kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Pesta pora politik yang terjadi saat ini adalah juga tentang penyaluran hasrat. Nafsu berkuasa para caleg, partai, dan calon presiden, diberi ruang dalam bentuk kampanye dan pesta politik. Dan dengan penyaluran itu, diharapkan tercipta tatanan masyarakat. Jadi hasrat tidak dimatikan, ia disalurkan untuk sebuah kepentingan dan tata masyarakat.

Apakah hasrat berkuasa, serakah, dan mementingkan kepentingan diri sendiri ini selalu buruk? Jawabnya memang bisa sangat buruk. Tapi bisa juga sangat baik. Tapi bukan itu pertanyaannya.
Dalam ilmu ekonomi, Adam Smith (1725-1790) mengatakan bahwa gerak pengejaran kepentingan diri, serakah, tidak berujung pada keberantakan, melainkan tatanan masyarakat. Hal ini karena ia mengasumsikan adanya SIMPATI sebagai daya tarik antar pelaku ekonomi. Adanya kepedulian akan kehormatan dan reputasi yang hanya bisa diberikan oleh orang lain mensyaratkan dirinya untuk menempatkan diri dalam posisi kepentingan orang lain tatkala berlangsungnya transaksi. Tidak mungkin ia mendapatkan kepentingannya, kalau ia tidak menempatkan diri pada kepentingan orang lain. Ketika kita belanja ke pasar, tujuan kita adalah mendapatkan apa yang kita inginkan. Bukan membantu pedagang di pasar. Tapi dengan kita berbelanja, pedagang itu juga tertolong. Inilah konsep simpati dan kepentingan diri yang saling menguntungkan.
Jadi, konsepsi moral dari Smith terhadap pemahaman kepentingan diri ini adalah sebuah sifat yang bersifat organik, yang memikirkan orang lain, ekspektasi, dan reaksi orang. Bukan dalam arti saat ini, yang melulu hanya melihat dirinya sendiri tanpa memandang orang lain.
Kala krisis ekonomi global terjadi, Merrill Liynch, yang baru mengalami kerugian 15 miliar dollar AS, membayar bonus bagi para CEO nya sebesar 4 milliar dollar AS. Presiden Obama mengatakan ini sebagai sesuatu hal yang memalukan. Lack of sympathy, kurangnya simpati. Itulah akar dari krisis yang membelenggu kita.

Keserakahan memang menjadi ciri dari ekonomi. Namun kesalahan bukan pada keserakahan. Manusia pada dasarnya sudah serakah. Tapi bagaimana regulasi dapat mengendalikan dan menyalurkan hasrat kepentingan diri itu sehingga dapat tercipta sebuah tatanan. Ilmu ekonomi lahir berupaya menjawab itu. Ilmu politik, dan bahkan ilmu agama juga sangat memahami esensi dasar manusia itu. Selama hasrat itu dilakukan secara eksesif, tanpa memikirkan orang lain, tanpa memikirkan lingkungan, maka bisa dipastikan hasrat mengejar kepentingan diri akan berdampak buruk. Namun, bila gerak pengejaran kepentingan diri ini dilakukan dengan dasar simpati, diatur dengan baik, tatanan akan terwujud. Tapi kita tahu, kenyataan tak semudah itu. Salam.

ORANG JEPANG LEBIH ISLAMI?

Diposting oleh re di 20.00
KETIKA beberapa bulan yang lalu datang seorang ulama dari Turki ke mesjid kami di Niigata, beliau bercerita bahwa orang Jepang itu sudah separuh muslim. Alasannya, karena mereka sudah biasa berbungkuk-bungkuk untuk menghormat orang lain. Cara bungkuknya, sudah seperti orang mau rukuk pada saat melakukan sholat. Waktu itu kami yang hadir tersenyum-senyum.
Ucapan ulama tersebut kembali terlintas waktu berada di perpustakaan kampus. Salah seorang pegawai perpustakaan, sepertinya setingkat manajer, menyedot debu di rak-rak buku yang ada di perpustakaan. Tidak seperti di Indonesia, di Jepang, seorang manajer sekalipun tidak canggung untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Sering pada saat kebetulan sedang lewat depan kantor pos samping kampus, sang manager yang berdasi sedang menyapu halaman depan kantor pos. Ini mengingatkan kita terhadap teladan nabi besar kita Muhammad SAW yang tidak sungkan-sungkan untuk melakukan pekerjaan yang sering dianggap remeh dan tidak patut dilakukan oleh seorang yang berkedudukan tinggi. Pada waktu hijrah ke Medinnah, beliau ikut serta menjadi “tukang” membangun mesjid pertama di kota itu. Beliau juga turun tangan langsung ketika harus menggali parit pada saat perang khandaq.
Jepang juga terkenal dengan displin waktunya. Jadwal kereta, kalau tidak ada keadaan darurat, sangat tepat, batas toleransi tidak lebih dari 1-2 menit saja. Masih dari pengalaman di kantor pos yang sama, jadwal kerja mereka yang pukul 10, kira-kira 10-15 menit sebelumnya mereka sudah siap. Walaupun mereka sudah siap dan sudah banyak calon tamu yang menunggu di depan, namun pelayanan baru benar-benar dibuka jam 10 tepat.
Pernah juga waktu mau beli alat elektronik di Akihabara (pusat elektronik di Jepang), waktu itu jam 10 kurang 5 menit. Toko sudah mulai dibuka. Karena ada alat yang hendak dibeli, bertanyalah saya pada penjual. Apa jawabnya? Nanti saja, kami baru buka pelayanan jam 10 tepat. Kalau di Indonesia pasti sudah jadi penglaris.
Orang Jepang juga masih banyak yang tingkat kejujurannya tinggi. Saya pernah kehilangan dompet. Waktu itu pulang dari kampus menuju rumah, tanpa terasa dompet jatuh dan baru sadar begitu sampai di rumah. Terpaksa menyusuri lagi jalan dari rumah – kampus untuk mencari dompet tersebut yang akhirnya tidak ketemu. Pasrah. Kira-kira tiga jam setelah kejadian, ada telpon dari kantor polisi. Mereka bilang kalau dompet ditemukan oleh sesorang dan sekarang ada di kantor polisi. Luar biasa. Jadi teringat pengalaman beberapa orang teman yang mempunyai pengalaman serupa.
Menghormati orang lain atau orang yang lebih senior juga berlaku di Jepang. Di kendaraan umum, pasti disediakan tempat duduk khusus untuk orang-orang tua. Tidak perduli apapun statusnya, melihat orang yang lebih tua, biasanya mereka sangat hormat. Waktu mengikuti study tour di kampus, setelah acara selesai dan hendak keluar dari bus, satu per satu mahasiswa mengucapkan terima kasih kepada sang supir. Pernah juga waktu naik bus umum, ada satu orang ibu-ibu tua yang ketinggalan karena terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan di halte bus. Waktu itu bus sudah separuh jalan dan terpaksa berhenti karena ibu itu sudah berusaha berlari-lari mengejar bus. Begitu masuk ke dalam bus, sang ibu minta maaf di depan bus kepada semua penumpang, sambil membungkukkan badan sampai separuh badan (ini cara bungkuk untuk meminta maaf)
Kota-kota di Jepang juga sangat bersih. Kesadaran masyarakat akan kebersihan sangat tinggi. Buang sampah pada tempatnya sesuai dengan tempat serta jadwal pembuangan yang telah ditentukan. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Sifat-sifat Islami orang Jepang ini sejatinya harus dimiliki oleh kaum muslim.
Ternyata cerita ulama dari Turki di awal tulisan ini banyak benarnya. Selain dari sekedar membungkuk, mereka juga punya banyak nilai-nilai Islami yang sungguh-sungguh dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau saja orang-orang Jepang memeluk agama Islam, maka boleh dibilang mereka akan menjadi contoh yang sangat baik bagi pemeluk Islam di dunia.
Bayangkan:?mereka sudah berbondong-bondong ke mesjid/mushola 5-10 menit sebelum adzhan berkumandang, pembayaran zakat akan sangat dipatuhi, alim ulama akan dihormati, mesjid akan sangat rapi dan bersih
Dengan sifatnya yang universal, mungkin agama Islam akan lebih mudah diterima oleh orang-orang Jepang. Dan pada prakteknya, sifat dan karakter orang Jepang lebih Islami daripada masyarakat muslim di Indonesia.
____________
Frans

TRAGEDI CABE

Diposting oleh re di 19.55
Ikem terduduk lemas di depan tukang sayur. Uang sepuluh ribu dari majikannya hanya bisa untuk membeli beberapa biji cabe, dua ikat kangkung dan sekotak tempe. Terbayang di benaknya, omelan apa yang akan didapat dari majikannya nanti. Harga cabe yang meroket, sayur mayur yang ikut-ikutan mahal ditambah lauk pauk dan bumbu-bumbu yang tak mau kompromi membuat Ikem semakin pusing membelanjakan uang dari majikannya.
Padahal, majikannya ini paling suka sambal dan maunya makan enak. Apa jadinya jika lauknya hanya tempe saja. Lha wong untuk bikin sambal saja, cabenya sudah lima ribu sendiri itupun dihitung jumlah per bijinya. Satu ikat kangkung harganya seribu lima ratus, perlu dua ikat sudah tiga ribu. Sisa dua ribu hanya cukup untuk beli sekotak tempe. Pas sepuluh ribu.
Sebelum harga cabe gila-gilaan, sepuluh ribu bisa buat beli lauk daging ayam seperempat kg, cabe, sayuran dan bumbu. Katakanlah daging ayam enam ribu, kangkung masih seribu seikat dan cabe seribu masih bisa buat sambal yang lumayan pedas, plus masih bisa beli bumbu-bumbu. Sekarang, boro-boro beli daging ayam, lha wong harga cabenya lebih mahal dari daging ayamnya kok. Apalagi kalau bumbunya habis, sepuluh ribu tak akan pernah cukup.
“Ikeeemmmmmm….”
Nah, kan..alamat kena semprot nih..Ikem sudah menyiapkan jawaban jika majikannya tanya macam-macam.
“Lihat, kamu masak apa..sepuluh ribu cuma masak sayur kangkung sama tempe. Sambalnya nggak pedes lagi..kamu korupsi uang belanja ya..”
Ikem mengelus dada. Komentar majikan lebih pedes dari sambal buatannya, dia percaya.
“Nyah..harga cabe sekarang seratus ribu sekilonya, saya beli lima ribu cuma dapat beberapa biji. Harga kangkung seiket seribu lima ratus saya beli dua iket, sisanya dua ribu cuma cukup buat beli tempe..”
“Apa ? Masak harga cabe sekilo lebih mahal dari harga daging sekilo ? Jangan ngarang kamu..”
“Yah..apa nyonyah nggak pernah liat berita di TV..dari kemarin harga cabe naik terus mulai dari 36 ribu, trus 60 ribu sampe sekarang 100 ribu lebih sekilonya..”
“O..jadi sekarang kamu pinter jawab ya..siapa suruh kamu nonton TV kalo saya lagi kerja ? Bukannya beres-beres..pantes tagihan listrik jadi naiiikkkk…!!!”
Ikem tertunduk. Selalu salah dan serba salah. Dasar majikan cerewet dan pelit, dalam hatinya memaki.
“Bener nyah..sekarang harga sayuran, bumbu-bumbu dan lauk pauk juga ikut naik..mestinya anggaran belanjanya juga ikut dinaikkan..”
“Nggak usah ngatur, mulai besok aku belanja sendiri. Kamu tinggal masak, paham ?”
Ikem mengangguk. Silakan saja, biar tahu harga-harga sekalian. Emang enak ngatur duit..dalam hati Ikem membatin.
Besok paginya, tersedia seikat bayam, ayam ¼ kg dan bumbu dapur tanpa cabe. Ikem bertanya-tanya dalam hati, tidak bikin sambal ? Bukankah majikannya selalu suka dengan sambal ?
“Ikem..kamu siapkan kaleng-kaleng bekas kue, tanam biji ini di kaleng pakai tanah di kebun. Trus nanti sore, kamu bikin sambal jahe. Aku masih bisa makan sambal tanpa cabe untuk sementara, tapi aku nggak bisa makan tanpa daging ayam. Ngerti ?”
Ikem mengangguk-angguk. Dirinya mulai mengerti, anggaran belanja tidak akan dinaikkan. Sementara dia punya tugas baru menanam tanaman cabe, menyiramnya dan memanennya untuk majikannya yang gembrot itu beberapa bulan ke depan nanti.
“Nyah..kalau sambal jahe bumbunya apa ya ?”
“Sama saja seperti bikin sambal biasanya, cuma cabenya diganti jahe..ngerti ?”
“Ngerti nyah..”
Keesokan harinya, Ikem melihat berita di televisi kalau harga cabe mulai turun. Ikem sedikit sumringah, terbayang di benaknya jika harga cabe mulai murah, tak perlu repot-repot menanam cabe yang gampang-gampang susah karena cuaca ekstrim. Baru saja Ikem mendapat laporan dari tetangganya yang menanam 10 pot tanaman cabe, mati semua terserang hama ditambah hujan yang terus menerus disertai angin kencang. Oalah..apa memang sesulit itu menanam cabe di jaman sekarang. Padahal pupuk yang diberikan juga tidak sedikit.
Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, suatu hari, Ikem ingin konfirmasi soal harga cabe yang mulai turun di tukang sayur.
“Di TV harga cabe sudah turun ya pak..”
“Kalau begitu, beli cabe di TV saja..”
Ikem ternganga mendengar jawaban tukang sayur. Apa lacur, harga cabe di tukang sayur masih sama seperti kemarin-kemarin. Masih mahal, lima ribu cuma dapat beberapa biji cabe. Tiba-tiba Ikem merasa pusing, bingung menentukan mana yang benar. Berita di TV yang asal atau tukang sayur yang nggak mau nurunin harga, atau memang harga cabe yang   turun itu cuma hoax belaka. Argh…salam hu hah.

SIAPAKAH ARAI? LINTANG? INVESTIGASI ATAS KAWAN-KAWAN IKAL HIRATA

Diposting oleh re di 19.48
Kedua pertanyaan itu dijamin akan menggelitik pembaca tetralogi Laskar Pelangi, khususnya setelah pembaca tersebut tahu bahwa tetralogi tersebut didasarkan–menurut publisis tetralogi tersebut dan Andrea Hirata sendiri–pada kisah nyata dalam hidup penulisnya.
Saya pernah mendengar kabar bahwa salah seorang anggota dari Laskar Pelangi bilang bahwa tokoh yang seperti Lintang itu sebenarnya tidak ada dalam kehidupan masa kecil mereka. Seingat mereka, tokoh yang memiliki kecerdasan serupa Lintang di tetralogi tersebut adalah Andrea Hirata sendiri–dan tentunya si “Lintang” tidak hadiri dalam setiap penampilan bersama para mantan eksponen Laskar Pelangi.
Begitu juga dengan tokoh Arai yang tidak juga pernah muncul, dan kita hanya tahu “keberadaannya” dari pernyataan Andrea Hirata sendiri bahwa tokoh Arai itu saat ini masih ada tapi tidak mau ditunjukkan identitasnya. Pembaca curiga tentang “kebenaradaan” Arai ini karena sedikit pun si Arai ini tidak disinggung dalam cicilan pertama tetralogi ini, dan baru ada–dan langsung menjadi bintang–pada cicilan kedua, yaitu Sang Pemimpi.

Nah, saya mengajak para pembaca budiman sekalian untuk sedikit melupakan kekisahnyataan tetralogi ini–oh ya, ada tokoh penerbitan Indonesia yang menyebut tetralogi ini sebagai literary non-fiction. Saya ingin menawarkan sedikit saja unek-unek terkait tetralogi tersebut sepembacaan saya.
Bagi saya, Arai dan Lintang adalah tokoh yang menonjol dalam sebuah tetralogi yang spesiesnya bisa novel bisa juga creative non-fiction. Kehadiran mereka berdua berfungsi sebagai “tokoh kita” bagi para tokoh lain di kisah tersebut, sekaligus bagi pembaca. Kedua tokoh ini membuat kisah semakin rapat dengan cara menjadi benar merah yang … mengikat. Lintang mengikat cita-cita pendidikan anak-anak SD Muhammadiyah, berjuang mulai dari adegan pendaftaran, kesulitan sekolah karena harus membantu orang tua, hingga akhirnya mewujudkan kemenangan mereka di lomba cerdas cermat.

Sementara itu, Arai adalah tokoh kuat yang selalu menyemangati, membimbing, dan menjaga narator agar terus bertahan hingga akhirnya mimpi mereka terraih. Dia bertugas memberi satu kalimat lecut “Bermimpilah karena Tuhan akan merengkuh mimpi-mimpi kita” dan melindungi si narator dengan segenap kecerdasannya. Dia juga menjadi penyeimbang si narator melalui kegemarannya atas The Doors (yang bisa dibilang berseberangan dengan “Kak Rhoma”), dia menyenangi pengetahuan-pengetahuan biologi mendasar yang terbukti berhasil menyelamatkan Ikal (sementara Ikal dipatok sebagai penyuka sejarah dan sastra), dst.
Terus, terkait dengan ucapan salah seorang mantan eksponen Laskar Pelangi yang bilang bahwa “Lintang” itu sebenarnya ya Andrea Hirata sendiri, saya juga ingin urun ide: Andrea Hirata mengeluarkan sisi-sisi “sempurnanya” untuk dijadikan Lintang, yang membuat kisah ini–kalaupun benar-benar berdasarkan kisah nyata–tidak tampak terlalu mengunggulkan si narator atau penulis, meskipun memang unggul. Dia adalah sisi sempurna Andrea yang dikeluarkan sejenak. Sementara itu, Andrea Hirata cukup puas menampilkan diri dalam sosok Ikal, yang bisa dibilang semi-alter ego-nya.
Karena itulah, setelah Laskar Pelangi usai, dan Andrea Hirata sudah memutuskan “menyisihkan” Lintang dengan cara membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah dan ujung-ujungnya menjadi sopir truk, Andrea Hirata harus menemukan wujud baru untuk sisi “sempurna”nya itu. Di situlah hadir tokoh Arai. (Dan, ehem, “arai” sendiri agak mirip dengan kata “array” dalam bahasa Inggris yang bisa berarti “An orderly arrangement” atau “An impressive display” atau “Especially fine or decorative clothing,” atau kalau masih kurang lagi bisa juga berarti … “An arrangement of aerials spaced to give desired directional characteristics.” Begitulah, saya curiga bahwa si Arai nan cool ini adalah kumpulan sifat yang baik-baik dari si Andrea Hirata :D )

Arai sendiri sebagai seorang tokoh tunggal sangatlah “mencurigakan” menurut saya, karena dia begitu menyerupai Andrea Hirata (bukan Ikal!). Arai adalah seorang mahasiswa ilmu Biologi, begitu menggemari Harun Yahya, dan berhasil menyelamatkan Ikal dengan pengetahuan Biologinya itu. Dan, semoga Anda tidak lupa bahwa Andrea Hirata banyak memamerkan nama-nama Latin tanaman dalam cicilan pertama, Laskar Pelangi, yang saking banyaknya sampai-sampai banyak menukai kritik (mungkin dari orang-orang yang, ehem-ehem, iri karena cintanya kepada Biologi tidak sebesar cintanya Andrea Hirata :D ). Dan hal ini semakin ganjil ketika pada Sang Pemimpi, tebaran nama-nama Latin itu tidak sekerap pada cicilan pertama.
Akhirul investigasi, saya ingin berterima kasih kepada Andrea Hirata yang berhasil menyajikan ke meja saya bacaan yang sangat bisa dinikmati, mengetuk-ngetuk emosi, menyentil-nyentil pengetahuan sejarah saya yang cethek, dan memperkenalkan geografi Eropa (yang tentunya tidak saya akrabi). Mungkin, tanpa keberhasilan Andrea Hirata menyajikan bacaan yang sangat nikmat ini, saya tidak akan sampai tergelitik untuk menginvestigasi secara sok strukturalis (:D)ke hal-hal yang menggelitik saya ini. Dan, ya, saya sendiri tidak tertarik menuntut Andrea Hirata memberikan pernyataan apakah kisah ini fiksa (:fakta) atau fiksi. Mungkin saya sendiri akan memutuskan nanti akan menyebut tetraloginya ini fakta atau fiksi. Sejauh ini sih saya menganggapnya fiksi, dan tunggulah alasannya kenapa saya menyebutnya demikian (sekaligus saya akan menyodorkan hasil investigasi saya atas misteri kata “Edensor”).
P.S. Berita Acara Pemeriksaan Arai dan Lintang ini sudah disampaikan di situs saya http://berbagi-mimpi.info (silakan mampir ke sana kalau ada waktu, cari-cari yang lain lah :D)

BERWUDHU DI DANAU TOBA

Diposting oleh re di 19.43
Judul tulisan ini memang menohok. Wudhu adalah sebuah langkah persiapan untuk menunaikan shalat dalam agama Islam. Sementara Toba adalah sebuah kawasan di sekitar salah satu danau terbesar di dunia yang hampir semua penduduknya memeluk agama Kristen. Toba kerap digunakan sebagai istilah yang merujuk kepada Batak Kristen. Maksudnya, bila seseorang mengaku dirinya sebagai anggota komunitas Batak Toba, serentak dengan itu sang lawan bicara mengambil kesimpulan instan: temanku ini pasti beragama Kristen.
Tapi, kerinduan untuk berwudhu dengan menggunakan air danau Toba sungguh-sungguh hidup dalam diri seorang Muslimin bernama Saparudin Situmorang, tokoh utama dalam cerpen Pulang yang ditulis Suhunan Situmorang dalam buku kumpulan cerpen Dari Sebuah Guci. Sang penulis beragama Kristen, warga jemaat HKBP Jatiwaringin. Suhunan pernah bercerita kepada saya rintihannya tentang beberapa kerabat bermarga Situmorang yang tiba-tiba menarik diri dari kumpulan marga karena berpindah keyakinan, memeluk agama Islam. Tidak ada yang salah dengan berpindah keyakinan, tak ada pula yang keliru dengan berdiam setia kepada agama yang dianut, tetapi kenapa keberbedaan agama membuat kami jadi terpisah seolah jika seseorang beragama Islam dia lantas kehilangan haknya di dalam kumpulan marga Situmorang, tanya Suhunan dengan wajah pilu. Tak ada yang bisa mencabut marga seseorang; tidak pendeta, tak juga seorang mubaligh.
Sudah berbulan-bulan Saparudin menanggung rindu untuk pulang kampung ke Desa Urat di Pulo Samosir. Dia tahu, hampir semua orang-orang di kampung halamannya memeluk agama Kristen. Itu membuatnya mengira bahwa menjadi Situmorang yang Islam adalah sebuah penyimpangan. Jika sampai di bona pasogit, setelah melacak silsilah, pastilah pertanyaan yang kemudian teraju adalah tentang agama yang dianut, pikirnya. Kuatir dengan bayangan penolakan semacam itu, kerinduan Saparudin menguap. Sebab, bahkan Ayahnya pun dahulu tak punya nyali menuntaskan damba menghirup uap air danau biru itu dan hanya bisa menangis berminggu-minggu sebelum ajal menjemput.
Ibu dan ayah Saparudin keluar dari Desa Urat puluhan tahun lalu. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya menetap di Labuhan Ruku, sebuah kawasan yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Pergaulan, kebersamaan, kekerabatan baru membuat mereka memutuskan untuk beralih keyakinan: menjadi mualaf. Selepas itu, mereka tak lagi bersambung dengan dunia Batak Toba. Jiwa dan tubuh Saparudin sejak lahir telah tercebur ke dalam dunia Maya-maya, dunia puak Melayu Asahan.
Uniknya, meski tak lagi hidup sebagai orang Batak, apalagi Batak Toba, orang-orang seperti Saparudin mempertahankan dengan ketat pencantuman marga di belakang namanya dan bersikukuh tak menjalani pernikahan semarga, apa pun alasannya. Mereka berjumlah puluhan ribu. Kaum Batak Toba menyebut mereka sebagai Dalle: Batak yang tak lagi Batak, orang yang sekadar punya marga.
Menurut tuturan ayahnya, mereka yang kemudian dijuluki Dalle itu adalah kumpulan manusia Batak Toba yang dahulu kala meninggalkan bumi Samosir, Toba, Uluan, Humbang, Silindung dan wilayah tano Batak lainnya bersebab getirnya kehidupan. Lahan Tano Toba yang kerap dipuja para penggubah lagu ternyata amat terbatas untuk dijadikan penghasil pangan, sementara jumlah perut yang menuntut makanan terus bertambah.
(Pulang, Suhunan Situmorang, Dari Sebuah Guci, hal. 30)
Namun, kendati pun keberpisahan itu begitu jelas, ada sesuatu yang tak bisa dielakkan manusia Batak Toba, apa pun agama yang dianutnya: sebuah danau nan elok, danau yang menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya kidung, tembang, cerita, novel di seputar puak Batak. Danau itu begitu kuat memanggil semua penghuni dan keturunan mereka untuk pulang menengok dan berbaring di haribaannya. Entah apa yang merasuk sanubari banyak orang. Keluasannyakah, keteduhannyakah, keheningan tak terperi, uap airnya yang berkesan magis?
Entahlah. Tapi kerinduan yang sama mencengkeram dada Saparudin. Tutur cerita sang Ayah tentang danau biru itu begitu kuat membekas. Dia bertekad untuk pulang. Setelah menabung bebulan-bulan, Saparudin melangkahkan kaki. Dan perjalanannya betul-betul sebuah drama. Dia sibuk membayangkan losmen mana yang akan dipilih untuk disinggahi. Pemiliknya yang beragama Kristen, makanan yang tidak halal, serta syak wasangka yang mungkin tumbuh berhadapan dengan pendatang yang tak becus berbahasa Batak adalah beberapa dari banyak kekuatiran yang merambat nadinya.

Saparudin menyeka cairan bening dari bola matanya yang meluncur tanpa ia sadari. Kembali dia menatap Danau Toba yang sudah terbentang di hadapan. Kendati degup jantungnya masih berpacu liar karena bus yang ditumpangi begitu garang melewati jalan berliku di atas jurang Sibaganding, ia tak kuasa menahan takjub melihat danau yang dari kejauhan nampak bagai hamparan kaca raksasa. “Tak kusangka seluas ini,” desisnya dengan pandangan kagum.
Perasaannya mengharu biru tatkala turun dari bus lalu menjejak pasir pantai Tigaraja-Parapat. Ia buru-buru melangkah menuju bibir danau, meletakkan tas jinjing dan peci hitamnya di atas bebatuan, kemudian menarik celananya sampai ke batas lutut. Berkali-kali ia membasuh wajah. “Alhamdulillah. Allahu Akbar,” gumamnya seraya menengadah ke langit.
(Pulang, Suhunan Situmorang, Dari Sebuah Guci, hal. 26)
Saya tak bosan mengulang dan membaca halaman tersebut. Takbir yang dikumandangkan Saparudin menggetarkan seluruh sendi dan tulang, menerbitkan kebebasan sejati, dan membuat saya kian percaya bahwa bumi yang kita diami ini adalah planet untuk semua agama. Takbir Saparudin memecah kebuntuan dan mengingatkan saya untuk mencari saudara-saudara bermarga Panggabean yang selama ini terasing, kehilangan rasa percaya diri hanya karena mereka menganut agama Islam, agama yang bukan menjadi arus utama di kalangan Panggabean.
Maka saya pun terkenang kepada sebuah masa saat Papa, Partogi Panggabean masih hidup. Siang itu kami kedatangan tamu, seorang lelaki Panggabean beragama Islam yang berusaha mencari kerabatnya. Dia tinggal di Kalimantan dan bertahun-tahun tak lelah menyusur silsilah untuk menemukan pucuk. Kesimpulan akhir, keluarga kami adalah Panggabean terdekat, meski sebetulnya tak cukup dekat. Berangkatlah lelaki ini ke Jakarta dengan membawa istri, adik dan kakak, juga anak-anaknya. Mereka tiba di rumah kami dengan kegembiraan yang tak berhasil ditutupi. Para perempuan mengenakan jilbab tapi tak merasa asing. Saya ingat persis betapa bersemangatnya Papa menyambut. Percakapan beberapa jam pada hari itu sudah cukup bagi kami untuk masing-masing menabalkan atribut kudus: kami bersaudara. Tahun berlalu, setiap kali berkunjung ke Jakarta, mereka tak pernah alpa singgah di rumah kami.
Ada beberapa hal, memang, dari keberagamaan yang menghadirkan sekat-sekat pemisah. Setidaknya, saya mencatat satu: makanan. Ini perkara pelik. Di banyak jamuan pesta adat Batak, daging babi kerap jadi menu utama. Meski beberapa keluarga sudah menggantinya dengan sapi atau kerbau, harganya tak terjangkau oleh orang Batak kebanyakan. Dengan santun para Batak Kristen menyediakan sebuah meja yang berisi makanan-makanan halal untuk disantap mereka yang beragama Islam. Tapi, justru di sana keberpisahan itu menjadi jelas: kita tidak duduk semeja perjamuan. Padahal acara makan bersama adalah petanda paling tegas bagi sebuah kesadaran suci: kita berinduk pada satu moyang. Meja par subang, demikian istilah bagi meja yang diperuntukkan kepada non Batak dan non pemakan babi, adalah, sesungguhnya, meja pengasingan.
Belum lagi ketika jambar dibagikan. Ada beberapa hak yang dimiliki lelaki Batak dalam acara adat: hak berbicara dan hak mendapat organ tubuh binatang yang dijadikan santapan pesta. Para Batak Kristen dengan bersukacita dan lapang membawa haknya pulang, apa pun jenis daging yang dibagikan. Tidak demikian dengan lelaki Batak Muslim. Mereka, mau tak mau, menyingkir dan bersikap seolah tak hirau akan hak tersebut. Namun, akibat yang kemudian terjumpa mungkin saja adalah biang masalah: karena merasa tak berhak atas jambar daging, tentu saja lambat laun mereka pun tak merasa perlu berseturut dengan segala kewajiban. Maksud saya, secara psikologik, rasa memiliki itu perlahan memudar.
Ini sekat yang harus segera dirubuhkan. Orang-orang Batak Toba Kristen selayaknya bercermin kepada banyak teman-teman muslimin dan muslimah di negeri ini yang tak putus-putusnya berjuang menegakkan Indonesia bagi semua. Saya mengerti, itu bukan perkara mudah. Selain pilihan-pilihannya terbatas, harganya pun –sekali lagi- tak cukup terjangkau.
Nah, sambil terus berupaya meraih kesempatan untuk duduk semeja dalam jamuan pesta dengan rasa lapang dan nir wasangka, cerpen Pulang Suhunan Situmorang mengajak kita kembali pada sesuatu yang bisa dijadikan pemersatu kuat keberadaan puak Batak Toba: sang danau biru. Suhunan bukan seorang presiden sehingga dia tak biasa berwacana; bersama dengan beberapa teman dia mendirikan kelompok peduli Danau Toba dengan nama Save Lake Toba Community yang berjuang tak henti menjaga kelestarian alam dan lingkungan di sekitarnya.
Danau Toba memanggil saya, memanggil Saparudin Situmorang, memanggil bapauda saya, Munir Panggabean, memanggil Zulaikha Pardosi, memanggil Paulus Simangunsong dan banyak kaum Batak lainnya untuk pulang serta menemukan kembali keIndonesiaan di dalam Batak saat kita menceburkan diri di airnya yang biru. Itu sebabnya dada saya bergelora ketika menulis ode buat Toba dalam sebuah lagu berjudul Darimana Rinduku Bermula, sebagai lagu tema untuk cerpen Pulang yang dibawakan dengan romantik dan jenaka oleh Paruhum Aritonang.
darimana rinduku bermula, kasih
hingga tak sempat ‘ku bernapas lega
dan mengapa panahmu menghujam masih
perih dan ngilu di batas senja
darimana swaramu memancar merdu
hingga jantungku lompat menyambutmu
apa pula yang menjangkitiku s’lalu
membuat mataku tak mau pejam
mungkin biru airmu,
mungkin teduh parasmu,
mungkin jugalah luasmu yang mencengk’ram
memanggilku pulang
namun satu yang pasti
kan kukenang abadi
persaudaraan yang rukun hidup di sekitarmu

www.darisebuahguci.com
 
Ini lagu indah sepanjang 5 menit 27 detik. Jika ingin mendengar sepenggal darinya, silahkan unduh melalui tautan berikut ini: http://www.fileden.com/files/2010/11/28/3026304//DMRB.mp3
 

BIG BLOG OF HOAX Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez