Tampilkan postingan dengan label DEBAT AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEBAT AGAMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

AGAMA SAYA PALING BENAR! TAPI SAYA TIDAK AKAN MENGATAKANNYA DISINI!

Diposting oleh re di 06.26
Saya tidak akan mengatakan, bahwa agama saya yang terbaik kepadamu, walaupun itu adalah agama terbaik bagi saya! Karena ketika aku mengatakan, bahwa agamaku terbaik, kamu pasti akan merasa, saya sedang mengatakan, bahwa agamamu bukan yang terbaik. Padahal engkau yakin, agamamulah yang terbaik!
*Seorang sahabat melalui inbox menanyakan pendapat saya atas tulisan-tulisan yang mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar dan tepat yang kemudian menciptakan perdebatan panjang. Lalu saya tertarik dan ingin bicara langsung dengannya.
Saya katakan, tentu saja tidak ada yang salah bila seorang penganut agama mengklaim dan menulisnya itu sebagai yang paling benar. Itu memang seharusnya! Justruakan terasa  aneh dan menggelikan  kalau ia mengatakan, bahwa agamanya tidak benar.
Tetapi juga tidak tepat kalau harus menuliskannya di ranah umum yang terdiri dari berbagai penganut agama lainnya. Kompasiana misalnya.
Karena pasti akan menimbulkan perdebatan. Lain halnya kalau tulisan itu diterbitkan di komunitas khusus penganut agama tersebut untuk menambah keimanan penganutnya.
Tentu hal itu tidak masalah.
Ketika sudah menjadi perdebatan pasti tidak akan menemukan ujungnya. Karena ketika yang berbicara adalah keegoan maka pasti masing-masing merasa yang paling benar. Merasa terpanggil untuk membela agama dan Tuhannya.
Lalu dikeluarkanlah jurus-jurus maut yang bernama ayat-ayat suci masing-masing. Dikaji dari berbagai sudut dan pemahaman.
Tetapi tetap saja tidak akan ada ujungnya, karena masing-masing pasti merasa yang paling benar.
Seperti kita tahu, ketika salah satu penganut agama mengatakan bahwa agamanyalah yang paling benar, berarti secara tidak langsung juga ia ingin mengatakan agama lain tidak benar.
Nah, tentu saja hal ini menimbulkan ketersinggungan penganut agama lain.
Oleh sebab itu, saya katakan lagi ke sahabat baik ini. Walaupun saya yakin telah menganut kepercayaan sebagai yang paling benar dan telah tepat memilihnya.
Tapi saya tidak akan mengatakannya ke publik umum. Karena itu tak lebih sebagai pertunjukan keegoan saja. Kemudian juga akan memancing keegoan penganut lain lain.
Karena itu saya lebih memilih hati nurani sebagai agama ketika berada di ranah umum. Sebab itu lebih bersifat universal dan setiap orang memilikinya.
Dalam setiap agama juga ada berbicara tentang hati nurani. Roh kebenaran sejati.
Setiap manusia memiliki hati nurani atau roh suci pemberian Sang Pencipta. Itulah yang membuat manusia hidup dan sebagai makhluk yang mulia.
Kalau hati nurani yang selalu menjadi penguasa atas tubuh kita yang fana ini, maka klaim-klaim sebagai yang terbaik dan paling benar akan bisa disingkirkan.
Yang ada adalah semua klaim itu diwujudkan dalam perilakunya untuk berbuat sebagai yang paling benar dan baik kepada semua umat manusia.

Kamis, 23 Desember 2010

KENAPA ISLAM MENCETAK TERORIS ?

Diposting oleh re di 06.20 0 komentar
ATTENTION :
Semua entry di kategori "DEBAT AGAMA" adalah murni 100% copas dari blog nya Erianto anas, tanpa saya minta ijin dulu dari yang punya. Minta ijinnya belakangan ajah, soalnya dah ngebet pengen posting ,,,     ^ ^...copas ini utuh tanpa ada pengurangan dan penambahan, dan juga skalian sama komen-komennya. 
Yah, singkat kata,,siapain es batu buat ngompres kepala dan selamat baca.
 
 
Sudah lazim umumnya umat Islam memahami bahwa ajaran Islam tidak pernah menganjurkan agar umatnya menjadi seorang teroris. Dan ini adalah pendapat yang paling umum. Tapi bisakah fenomena terorisme dalam Islam dipahami dari sudut pandang yang berbeda? Misalnya bahwa memang ajaran Islam berpotensi menjadikan umatnya menjadi seorang teroris, seperti yang banyak dipahami dan dituduh oleh para pengkritik Islam.

Anda boleh saja tidak setuju. Tapi bagaimana anda memhami ayat Alquran di bawah ini, yang sering djadikan rujukan oleh mereka? Meskipun dari sudut pandang umat Islam yang melakukannya diklaim sebagi jihad dalam menegakkan kebenaran.

Pertama:

* Apabila kamu bertemu dengan orag-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka, sehingga manakala kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka (QS. 47:4).

Kedua:

* Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun saja kamu jumpai mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 9:5)

Para pengkritik Islam memahami ayat ini bahwa ajaran Islam memang menyeru umatnya agar menggunakan cara paksa atau ancaman teror agar orang lain mau mengakui dan melaksanakan ajaran Islam. Bukankah kalimat kedua dari ayat di atas, secara tersirat berarti bahwa, ketika orang lain sudah masuk Islam dan melaksanakan ritual ibadahnya, maka barulah mereka dilepaskan sebagai tahanan. Bukankah ini suatu pemaksaan dengan cara teror? Apalagi pada ayat yang pertama di atas, yang jelas-jelas tidak memberi kebebasan pada orang lain untuk memilih keyakinannya sendiri, sehingga diancam akan dipancung lehernya jika mereka belum menganut Islam?

Begitulah para pengkritik Islam memahami kedua ayat di atas.

Nah, sekarang bagaimana menurut anda?


KOMENTAR-KOMENTAR : 
TUHAN mengatakan...
Aku menciptakan banyak ranjau didalam ayat, makanya orang-orang dungu banyak yang ketipu, hahaha... targetKu jelas, klasifikasi manusia secara gamblang.

munculnya fenomena teroris adalah contoh manusia bloon yang menganggap bahwa Aku senang melihat mahluk yang taat dengan otak nol koma nol, padahal kan bisa kalian lihat sendiri, pada akhirnya orang2 itu Aku hinakan hingga tak punya harga diri lagi di mata umat lain, mereka tak punya masa depan, rapuh, dan jadi bahan tertawaan sejagat raya (wahhaahhaha... jgn kaget yah, Tuhan aja punya selera humor yg sehat)

Erianto Anas mengatakan...
Hak hahahaha....! Tuhan bisa bisa aja..hhhhhhh.
Makasi Tuhan sudah mendarat di sini.

Anonim mengatakan...
adakah faham/agama yang tidak menciptakan teroris?
pendustakah org yang berpakaian orang miskin tetapi sebenarnya dia kaya raya?
Apakah analogi sanggup menyampaikan kenyataan?
Bila orang takut menjadi mangsa, bolehkah seseorang menyerahkan diri untuk dimangsa Tuhannya, sehingga dia jadi bagianNya?
Apakah Allah SWT bila dinafikan sebagai judul Dia sesuai dengan isinya?
Kemukakanlah tajrid, sehingga dua ayat itu mengemuka?

Karena bila DIA memberi judul, selalu lurus dengan isinya.. itulah kesempurnaan ciptaan, belajarlah dengan adab Allah SWT.

wass

Bambang mengatakan...
@Anonim
ada mas agama yg tidak menciptakan teroris..." kristen, budha, hindu, islam, konghucu dan banyak lagi yg lainnya.

yg menciptakan teroris itu, sperti comment sy yg dulu2, adl comot sana comot sini,potong ditengah. ambil yg cocok dengan hati, pura2 budeg pada yg tdk sesuai dgn hati.

saya setuju dengan "Karena bila DIA memberi judul, selalu lurus dengan isinya...". Jadi kemana lagi kita harus bertanya? pada pengertian sendiri atau...?

soal adam-siti hawa saja banyak simpang siur apalagi persoalan dua ayat di atas dan banyak ayat2 lain yg isinya sangat-sangat dalam.

makanya jangan manut2 saja ama kyai..... banyak kyai yg bodoh...
TUHAN mengatakan...
ketahuilah hambaKu, kalian masih hidup dialam ego, dualitas, kausalitas sebab-akibat, kalaupun kalian ingin penyerahan total kalian harus terlebih dahulu membersihkan diri dari nafsu-nafsu rendah, pikiran-pikiran terpilin, konsekuensinya kalian meninggalkan kehidupan nyata dan menyatu dalam kezuhudan, termasuk menyingkir dari main-main blogging ini.

Tidak ada zuhud yang berangkat dari pemahaman intelektual, sesuaikan donk dengan zamannya, kalo masih pengen punya anak, istri, rumah, ngeblog, maka cukuplah berbuat baik dialam sebab akibat. jangan bikin repot umat dengan iming2 ilusi negeri nirwana antah berantah, mereka bisa makan aja sekarang udah sukur. makanlah disaat harus makan, tidurlah disaat harus tidur, jangan dibalik, bagiKu itu udah cukup duhai hambaKu
Erianto Anas mengatakan...
Wah.. kok saya klop dengan firmanmu Tuhan?

arifbisri mengatakan...
Pertama:
* Apabila kamu bertemu dengan orag-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka, sehingga manakala kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka (QS. 47:4).

- Apabila kamu bertemu dengan orang2 (4 komponen manusia jazad, akal Jiwa dan nafsu) yang Ingkar, maka pancunglah batang leher mereka (= mati sebelum benar2 mati), maka tawanlah mereka (maka kendalikanlah mereka (4 komponen tersebut).


Kedua:
* Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun saja kamu jumpai mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 9:5)

- hahaha... jika ayat ini di cerminkan ke ayat pertama. Maka yang terjadi adalah Kebebasan HATI.
Anonim mengatakan...
"Apabila kamu bertemu dengan orag-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka, sehingga manakala kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka ... (QS. 47:4) terjemah Depag

"Apabila kamu menemui orang2 kafir(di medan peperangan) maka pukullah leher mereka.... (QS. 47:4) terjemah Prof. Mahmud Yunus

Terjemah ABRI??
Terjemah Syamil Quran??

Dari kamus "fadlorba" kata dasar nya dloroba artinya memukul.

Yang menterjemah tentunya masing2 memiliki penjelasan tersendiri. Untuk mengetahui mana yang benar berarti harus dianalisa atau mencari penjelasan kedalam alQuran sendiri.
Barangkali yang bisa menganalisa ayat ini ulama (ahli) militer.

Salam,
Anonim mengatakan...
inilah ciri2 orang islam yg tersinggung.... atau lebih tepatnya orang2 muslim yg cupat pikir.....
baca kata2nya/tulisannya
pahami maknanya
baru jawab/comment.....

jangan napsong dl yg dikedepankan.........
sy usul blajar lg bahsa indonesia di SMP gih, terutama sastranya....

yg nulis maksdunya apa, dijawab apa......

Anonim mengatakan...
'ada mas agama yg TIDAK menciptakan teroris..." kristen, budha, hindu, ISLAM, konghucu dan banyak lagi yg lainnya.'

Alhamdulillah mas Bambang, jelas sekarang, Islam ternyata tidak termasuk,

berarti cetakan teroris itu, 'sperti comment sy yg dulu2, adl comot sana comot sini,potong ditengah. ambil yg cocok dengan hati, pura2 budeg pada yg tdk sesuai dgn hati'

'saya setuju dengan "Karena bila DIA memberi judul, selalu lurus dengan isinya...". Jadi kemana lagi kita harus bertanya? pada pengertian sendiri atau...?'

Surah Alqiyamah 75 ayat 16 sampai 19, ',,,Dia yang akan menjelaskannya kepadamu..., Dia yang akan menanamkannya didalam dadamu...

@Tuhan,

'Tidak ada zuhud yang berangkat dari pemahaman intelektual..'
bila asketis merupakan pilihan maka pilihan itu pasti dicapai melalui intelek. Mengapa nubuwah datang dalam bentuk kenormalan kemanusiaan, gembira, menangis, berperang, mencari makan, bercanda, beranak pinak. Zuhud selalu seiring dengan zaman, dan berlaku bagi yang memanfaatkan inteleknya, 'penghilangan ego'? mungkinkah? kata Dia muthmainah lebih dari cukup bagiku.


'makanya jangan manut2 saja ama kyai..... banyak kyai yg bodoh...'
Dan jangan terlalu anti sama Kyai.... banyak kyai yang pinter...


wass,
TUHAN mengatakan...
bahwa pikiran manusia tergerak utk berbalas komentar disini adalah bukti bahwa dia masih kuat terikat dimaqam asbab, bukan tajrid yang zuhud. Orang yang berada pada peringkat permulaan bertarekat cenderung memilih jalan bertajrid membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, Sikap tajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, isteri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Saidina Abu Bakar as-Siddik telah berbuat demikian. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan takhta kerajaan, isteri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kumpulan tarekatnya dan kembali kepada kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk daripada keadaannya sebelum bertarekat dahulu karena dia mau menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk bertarekat. Keadaan yang demikian berlaku akibat bertajrid secara melulu. Orang yang baru masuk ke dalam bidang latihan asketis sudah mau beramal seperti aulia yang sudah berpuluh-puluh tahun melatihkan diri. Tindakan mencampak semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan cobaan dan dugaan yang menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah yang telah mencapai makam yang tinggi. Seseorang haruslah melihat kepada dirinya dan mengenalpasti kedudukannya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam makam asbab seseorang haruslah bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya daripada bahaya atau kemusnahan. bukan serampangan menganggap tajrid bisa dicapai kayak nyari gelar sarjana atau ngotot mempertahankan argumen dijagad blogging ini.

wuss
arifbisri mengatakan...
@TUHAN,.. 16 Desember 2010 09.33
=Tidak ada zuhud yang berangkat dari pemahaman intelektual,
=sesuaikan donk dengan zamannya

"Ada suatu masa (nanti), dimana yang disebut WALIyuLLAH itu bukan saja orang yang bersorban, orang yang berpakaian serba putih, tetapi bisa juga orang yang berdasi, orang yang berseragam, orang yang mencangkul dst." ............> termasuk yang ngeblog. :)

------ hati2, SAYA takut ada perasaan minteri...

= kalo masih pengen punya anak, istri, rumah, ngeblog,
= maka cukuplah berbuat baik dialam sebab akibat.
= "jangan bikin repot umat dengan iming2 ilusi negeri nirwana antah berantah"

Nah kalimat tanda petik ini termasuk luapan EGO.

= mereka bisa makan aja sekarang udah sukur. makanlah disaat harus
= makan, tidurlah disaat harus tidur, jangan dibalik, bagiKu itu
= udah cukup duhai hambaKu

Betul, Manusia memang sudah menjadi HAMA, dan sifat ADAMnya sudah sedikit hilang, Akhirnya yang menonjol adalah sifat HEWAN. Dimana HEWAN itu sifatnya
1. Rakus (Tidak peduli dengan tetangga)
2. Penerapan hukum rimba (Yang lemah ditindas yang Kuat)
3. Tidak tahu MALU. (padahal punya keMALUan)
------------------ merujuk pada sifat KAPITALIS.

@bambang
"makanya jangan manut2 saja ama kyai..... banyak kyai yg bodoh..."

Dan jangan lupa banyak kyai yang seperti ANDA. Sedangkan Kyai yang ber"qolbu" jarang tampil di depan.

tahyu mengatakan...
Itulah yang terjadi jika orang-orang hanya memahami ayat-ayat al-quran yang hanya di dengar saja tanpa dipelajari dan dipahami,maka munculah teroris. Mereka hanya menuruti dan mematuhi kata sang kyai tanpa dipikir benar atau salah, padahal toh kyai juga manusia yang tidak luput dari salah....
TUHAN mengatakan...
@arifbisri
duhai hambaKu yang kusayangi, maksudnya janganlah terobsesi jadi waliKu, dan jangan iming2i yang laen jadi waliKu, kalo manusia sekarang bisa mengatasi polusi sampah plus cukup pangan sandang papan aja dibumi ini sudah prestasi hebat dihadapanKu, emangnya wali sanggup kalo Kutugaskan mengurus atmosfir di Pluto, asteroid di andromeda? spiderman ama superman aja gak lulus, hahaha

sebetulnya simpel, makan ketika makan, tidur ketika tidur, tapi kalo dihayati itu sangat dalam maknanya, langka sekali manusia sanggup melakukannya, kebanyakan manusia berpikir ketika makan, blogwalking ketika tidur, tidur ketika berjalan. hayooo, bisa nggak?
arifbisri mengatakan...
Maz @tuhan
SAYA tidak terobsesi maz. SAYA hanya memakai BAJU yang dapat anda lihat dengan PANTAS. Ketika DIRI ini tidak pakai BAJU ada fitnah. dan FITNAH itu bukan salah mereka tetapi salah SAYA juga.

= Sebetulnya simpel, makan ketika makan, tidur ketika tidur, tapi
= kalo dihayati itu sangat dalam maknanya.

Betul itu maz, yang penting cukup, zaman sekarang meskipun 1 termos (nasi) katanya masih lom cukup.....RAKUS..... Semoga anda selalu dalam kecukupan. :)

=kebanyakan manusia berpikir ketika makan, blogwalking ketika tidur,
= tidur ketika berjalan. hayooo, bisa nggak?

Termasuk MAYAT yang bisa berfikir, masuk dimensi kecepatan dibawah 0 km/jam, dst. Semua itu KUN FAYAKUN. dan proses lewat HUKUM Alam, yang susah ditebak oleh daya PIKIR. Tetapi kekuatan Qolbu sang ALIF yang sanggup.
Anonim mengatakan...
@Tuhan,
satu alinea yang panjang, semakin memanjang semakin nyata muatan egonya. Cukup bukti mereka yang ingin mematikan egonya malah tersiksa karenanya. Semoga tassawuf membuat anda lebih membumi dan tidak menjadi pelarian untuk apa anda yang tidak mampu raih, dan bersembunyi menjadi 'Tuhan', misalnya, maka bila diam itu lebih baik, maka diamlah..

Erianto Anas mengatakan...
Wah...seru benar nih dialognya. Saya berdecak kagum atas argumennya masing-masing. Bingung nih saya mau milih yang mana. Argumentasi Tuhan, Anonim dan Tahyu kuat dan sangat realistis. Argumen mas Arif menurut saya sangat sufistik. Argumen mas Bambang layaknya seorang Mufasir.

Lanjut lanjut. Benar-benar seru!

Bambang mengatakan...
nah argumennya baru seru.....
@Anonim awung...
saya setuju harus lihat dr siapa yg terjemahkan, demi kepentingan apa,mungkin perlu ditambahkan pula ayat tsb turun dengan maksud apa, pada masa apa.

@anonim 16 Desember 2010 18.10
mungkin maksud anda
1. Memangnya Mas EA org bodoh sehingga perlu menanyakan arti ke dua ayat tsb?
2. Apakah Mas EA orang yg sedang bimbang, kehilangan arah sehingga bingung oleh ayat tsb?
Saya sependapat dgn anda jika arahnya ke sana.

@anonim 16 Desember 2010 19.38
agama Islam Jelas tidak termasuk.... hanya jika ditemukan semua teroris di indonesia bertindak atas dasar agama dan berlandaskan agama Islam, kemudian umat islamnya bertindak 'seolah-olah' mendukung, itu yg harus diubah.

kalau banyak kyai pinter. umat tdk akan terpecah belah spt ini.
justru jelas banyak kyai bodoh.
@arifbisri
kyai ber"qolbu" adalh contoh kyai bodoh yg membiarkan umat tersesat.
kyai pintar akan berupaya menyadarkan, berpihak pd yg tujuannya menyadarkan, bukan menambah bahan bakar pada masalah. bukan pula kyai yg mencari umat.

arifbisri mengatakan...
@bambang
"kyai ber"qolbu" adalh contoh kyai bodoh yg membiarkan umat tersesat. kyai pintar akan berupaya menyadarkan, berpihak pd yg tujuannya menyadarkan, bukan menambah bahan bakar pada masalah. bukan pula kyai yg mencari umat"

Hem... Dan jangan lupa banyak kyai yang seperti ANDA.

Seorang ulama(sebut saja kyai) yang basicnya adalah Qolbu ALIF, penerapannya adalah Ing Ngarso Sun tulodho (didepan memberi tauladan), Ing Madyo mangun karso (ditengah membuat karya yang bermanfaat), Tut wuri handayani (dibelakang mengendalikan).

Kenapa jarang tampil didepan ? karena yang dipentingkan bagi beliau adalah LAKU. Bukan sekedar "manis"nya bicara. Dari Indahnya LAKU inilah beliau dapat benar2 menghayati Ing Ngarso, Ing Madyo & Tut Wuri handayani. Antara yang diucap dan diLAKU itu selaras. Dan sangat bermanfaat bagi masyarakat disekitar beliau.

Nah apakah para kyia sekarang itu tidak berQolbu ALIF ?
Khusus yang didepan, itu boleh dipertanyakan, SAYA tidak bisa menghakimi.

AL-ISLAM-MODERN mengatakan...
TU....HAN.... QS. 47:4 & 9:5, Penyebab timbulnya TERORIS lho, kejam dong jadinya.

AL...LAH.... emangnya ISLAM mengajarkan KEKEJAMAN, enggak lah yau..

tapi enggak apa2, itukan yg memahaminya si BOdanGO, ya wajar2 saja dong.

Apalagi kalau ayatnya di tulis tidak lengkap alias sepotong, dan dengan terjemahannya tidak pas, ya jadinya KEJAM, TERORIS dll.

Cobalah ayat2 tersebut di terjemahkan dahulu ke bahasa INDONESIA yg benar, saya yakin maksud dari ALLAH tidak demikian, setahu saya Allah memberikan HUKUM & PENGABDIAN (Di'nu) itu TEGAS, tidak mencla mencle.

Bagi yg berfikir, kita harus sadar, bahwa musuh manusia ini adalah Iblis dengan keturunannya (Syaitan). Awalnya Iblis bersama keturunannya ini bekerja keras memerangi manusia untuk di kalahkan.

Nah sekarang ini manusia itu sudah sebagian besar kalah oleh Iblis dan keturunannya.

Manusia yg kalah itu sekarang ini menjadi tawanan Iblis, namanya SYAITAN MANUSIA.

sehingga Iblis dan bala tentaranya sudah tidak bekerja keras lagi untuk memerangi manusia, untuk memerangi manusia itu sekarang ini sudah di tugaskan Iblis kepada syaitan manusia.

Syaitan manusia itu berupa : Jadi Teroris, Koruptor, atau semua manusia yg melakukan perbuatan tidak baik, manusia yg membelakangi ALLAH (mengaku muslim), bahkan manusia yg tidak mau mengakui Agama Islam adalah satu2nya agama dari ALLAH, kesemuanya ini adalah SYAITAN MANUSIA.

Maka dari itu kekacauaan - kekacauab yg saat ini terjadi sudah tidak disebabkan oleh Iblis dan bala tentaranya lagi.

Iblis sesama iblis tidak pernah terjadi bentrokan atau keributan,bahkan iblis tidak pernah berbuat kejam sesamanya, tetapi manusia perbuatannya lebih kejam, dari itulah mereka2 ini dinamai SYAITAN MANUSIA.

Aha..aha...Iblis dan balatentaranya sekarang duduk manis menikmati kemenangan, hore...hore...menang...menang...(Banyaka pengikutnya)
Bambang mengatakan...
@arifbisri
Seorang ulama(sebut saja kyai) yang basicnya adalah Qolbu ALIF, penerapannya adalah Ing Ngarso Sun tulodho (didepan memberi tauladan), Ing Madyo mangun karso (ditengah membuat karya yang bermanfaat), Tut wuri handayani (dibelakang mengendalikan).

Kenapa jarang tampil didepan ? karena yang dipentingkan bagi beliau adalah LAKU. Bukan sekedar "manis"nya bicara.

Saya setuju
Itulah sebabnya Banyak kyai bodoh.....
arifbisri mengatakan...
@Al-ISLAM

"Syaitan manusia itu berupa :
- Jadi Teroris,
- Koruptor, atau
- Semua manusia yg melakukan perbuatan tidak baik,
..... kesemuanya ini adalah SYAITAN MANUSIA."

-- "Syaiton" NGELES mode ON
SAYA sengaja "memukul" tetangga saya karena berbuat zalim.
SAYA sengaja "mengambil" sedikit untuk mendidik agar waspada
SAYA sengaja berbuat tidak baik agar manusia itu tahu apa yang terjadi jika berbuat tidak baik dan mau "iqro" dan berfikir 2 kali
untuk melakukannya.

Itu semua demi mendidik manusia. Kenapa SAYA disebut MUSUH ?
Tugas saya adalah menyayangi, bukan mengasihi ?
Tapi saya tidak berani Musyrik terhadap sang AHAD

NGELES mode OFF

Biuh... Bagaimana menurut anda ?

Anonim mengatakan...
@Bambang
'Kalau banyak kyai pinter. umat tdk akan terpecah belah spt ini.
justru jelas banyak kyai bodoh'

Jelas lebih banyak kyai yang pinter dong, yang mecah belah kan mereka yang paling lantang bilang banyak kyai bodoh, karena jelas dong sifatnya 'resiko bersikap harus konsisten dengan alasan' (namanya bias), maksud saya kalaupun banyak kyai pinter kalo udah bias, dicari2 saja alasan kebodohannya.. Pake kaca mata yg lebih tebel, perbedaan ga selalu berarti perpecahan mas..

gocap + gocap = cepe deh..

MUSLIM FANATIK, SAYA MUAK!!

Diposting oleh re di 06.13 1 komentar
ATTENTION :
Semua entry di kategori "DEBAT AGAMA" adalah murni 100% copas dari blog nya Erianto anas, tanpa saya minta ijin dulu dari yang punya. Minta ijinnya belakangan ajah, soalnya dah ngebet pengen posting ,,,     ^ ^...copas ini utuh tanpa ada pengurangan dan penambahan, dan juga skalian sama komen-komennya. 
Yah, singkat kata,,siapain es batu buat ngompres kepala dan selamat baca.


Hati-hati, jangan terjebak membaca tulisan ini. Ini bukan tulisan ilmiah, bukan hasil penelitian. Tapi hanya sebuah omelan. Dan bagi yang merasa sebagai umat Islam yang fanatik, jangan membaca tulisan ini jika anda tidak siap mental. Saya tidak tanggung jawab jika adrenalin anda melonjak-lonjak dan putus dari salurannya.

Tulisan ini adalah respon emosional saya terhadap tulisan saya sebelumnya:
Umat Islam itu tidak Mulia!

Tulisan itu telah berhasil menjaring beberapa Kompasianer yang tergolong Islam Fanatik, calon yang berbakat menjadi teroris. Minimal teroris wacana di kompasiana.

Kenapa saya emosi?


Pertama:

Dalam tulisan itu saya sudah tegaskan pada para Kompasianer agar hati-hati membacanya, jangan digeneralisir. Tapi tetap saja mereka menuduh saya menggeneralisir kasus yang saya sorot menjadi pernyataan umum. Saya muak!

Kedua:

Mereka menyatakan bahwa umat beragama lain , baik di Indonesia apalagi di Negara lain, juga ada yang tidak mulia. Nah, apa hubungannya dengan agama lain? Wong yang saya tulis tentang umat Islam, kenapa ditarik-tarik ke umat beragama lain? Meskipun fakta akan hal itu ada, tapi itu sudah lain soal. Tidak ada hubungannya dengan tulisan saya. Jadi saya menilai, bisul fanatismeya benar-benar tidak bisa menerima introspeksi ke dalam diri sendiri. Islam memang nilai-nilai ajarannya terpuji. Saya juga mengakuinya. Tapi praktek yang dilakukan umatnya dalam realitas sosial tentu tidak otomatis. Ini yang tidak bisa mereka bedakan. Ngawur. Saya muak!

Ketiga:

Saya dinyatakan mereka tidak tahu tentang Islam, bahkan saya dituduh hanya ngaku-ngaku beragama Islam. Nah, ini lagi. Mereka pikir saya menulis dengan dengkul. Saya minta mereka menulis argumentasinya sehubungan dengan tulisan, agar saya bisa jawab sejauh pengetahuan saya tetang Islam. Tapi tetap saja yang mereka tulis hanya caci maki murahan. Benar-benar saya tidak habis pikir, apakah mereka punya otak atau tidak. Saya muak!

Dan masih ada hal-hal lain lagi dari komentar mereka yang bagi saya menunjukkan bahwa mereka benar-benar seorang muslim fantaik yang sangat memalukan bagi citra Islam itu sendiri. Dangkal dan kekanak-kanakan. Mendustai fakta. Memeluk angan-angan. Membela diri dengan puja-puji akan Islam. Padahal praktek yang tergambar pada dirinya, sama sekali tidak Islami. Saya muak!

Jika mereka masih ngotot seperti itu, dan merasa sudah begitu Islam, sudah begitu benar, sudah begitu suci, saya tidak akan basa-basi. Saya akan mengaminkan siapa saja yang tidak senang terhadap umat Islam seperti itu. Saya lebih tertarik dengan orang yang agamanya tidak jelas. Bahkan terhadap orang Atheis sekalipun. Tapi prilakunya tidak sebuas seperti muslim fanatik. Bagi saya muslim fanatik itu bukan seorang yang Islami. Tapi adalah musuh Islam dalam pengertian yang hakiki. Musuh dalam selimut yang mencoreng nilai-nilai hakiki dari kemuliaan ajaran Islam itu sendiri. Sebuah daerah kantong dalam kawasan nilai-nilai spiritualitas Islam. Mereka sekaligus bagi saya juga musuh semua agama. Musuh yang mencoreng nilai-nilai kegamaan secara umum. Merusak citra agama dimata dunia.

Demikianlah omelan ini saya tulis dengan sekasar-kasarnya.
Jujur saya tidak sendiri dalam menulis postingan ini. Tapi saya juga dibantu oleh setan yang menari-nari dalam diri saya. “Tuan Setan… terima kasih yah bantuannya”

Tanya Bung Erianto Anas,
Apakah dengan marah-marah begini apakah anda tidak termasuk orang yang juga mencoreng nilai-nilai Islam?

Tidak ada urusan. Saya bukan orang beriman. Saya sudah jelas orang sesat.
Calon penghuni neraka.


KOMENTAR-KOMENTAR : 

muntahkan saja pada aku pada ibuku
atau ayahkuuuuuuuuu……
gak nyambung bin ngawur lagi yaaaa ? wkkwkwkw biarin aja deh :D



Hehe… Mas Joko.
Menurut saya Anda termasuk Muslim Fanatik yang masih bisa dijinakan.




hihihi, gpp lah, semua orang pasti fanatik.

walah…. muncul lagi kata-kata PASTI.
Tapi gak apa-apa, Mas Joko kan Muslim Fanatik yang tidak begitu berbahaya.



saya hanya berpikir positif saja kepada orang lain, bahwa mereka punya keyakinan sehingga tidak plin-plan dan bingung dan tahu jalan untuk pulang ke rumah :)



Tulisan ‘Umat Islam Itu Tidak Mulia’ emang FAKTA. Saya salut dengan kritisi mas ernas.
melalui pertanyaan dan pernyataan mas ernas dan temen saya yang kayak mas ernas-lah, saya belajar banyak hal yang gak sekedar ngawang tentang agama. walopun mas ernas ngaku sesat, tapi menurut saya, itulah islam ideal, kritis, mau mencari kebenaran. setidaknya, untuk tulisan yang pernah saya baca.
posting lebih banyak lagi mas, kalo dapet jawaban ttg pertanyaan2 yang pernah mas tulis di tulisan sebelumnya, posting ya. mohon berbagi..
jempol 4 deh buat tulisan2nya (soalnya cuma punya 4). :)

Hahaha….. komentar anda merubah setan dalam dalam diri saya menjadi malaikat. hehe..
Makasi mas Arif!

Marah-marah? Menurut saya nggak apa-apa, lebih baik diungkapkan daripada sudah pingin muntah tapi ditahan… Saya yang cuma baca aja eneg… :mrgreen:

Cerdas… kritis… berani melawan arus… dan sgt elegan…
Tak banyak orang yg mampu menangkap pesannya.
Mksh, mas Anas.



sama-sama mas Mario, makasi juga.
saya nikmati pengakuannya.

haduhhh…..baru kali ini aku baca tulisan seperti ini….aku berani ngomel2 kayak gini hanya di pikiranku saja….SIPP mas…lanjuttttt……..

Tentu mas Andy, setiap orang berhak punya pandangannya sendiri-sendiri. Itulah wujud demokrasi. Tapi yang menggunakan kebebasannya tapi merusak kestabilan publik tentu tdk dibenarkan atas nama HAM. Dan itulah yang menjadi sasaran kritik saya. Agar kebebasan bersama tidak dimonopoli oleh pihak2 dengan atas nama Islam (Tuhan)

biasa aja tho mas, kalo ada yg suka ya ndak nambahin apa2 ke anda, kalo pada jengkel sama tulisanmu ya ndak ngurang2in apa2 tho….yang penting nulis gitu aja, apa baru musim klarifikasi ya? hihi…sorry aku pengen bisa nulis, tapi ternyata bakatku cuma sebatas ngasi komen hehe…keep going…



mohon maaf teman2, tolong tidak perlu ditanggapi tulisan mas erianto ini dan tulisan dia lainnya, terus terang kita tidak tahu apa sebenarnya isi hati dan otak dia dari makna yang terkandung segala tulisan beliau, apakah itu bersifat kritik atau menjelek-jelekkan kayax makin menjadi-jadi nih mirip api yang disiram bensin, apinya makin membesar (setannya makin gembira tuh). Terus terang saya masih baru jadi member kompasianer tapi perasaan klo ada posting macam ini saya rasa kompasianer kurang sehat, untuk diketahui kita berlatar belakang pendidikan dan pemahaman agama yang berbeda, sekali lagi klo menulis yang bersifat sensitif apapun niatx harus lebih berhati2..

Mas Randi, saran saja dari “teman” baru, coba baca tulisan mas EA pelan-pelan dan tenang. Abaikan judulnya yang bikin mata merah……. Nanti bisa kelihatan apa yang hendak disampaikan.
Peace, salam kenal.

Wuih….perang artikel sudah mulai….. diawali dengan pukulan “jab” ke muka masing-masing….. he..he…
Dosis obat ketinggian kali, jadi pada pusing :)




Alex : tak perlu saya baca semua satu saja saya sudah mengerti maksud tulisan si EA, sekali lagi kita berasal dari tingkat pendidikan dan pemahaman agama yang berbeda, ok lah kalo ada sebagian yang merasa mengerti ini sebuah kritik mungkin karena tingkat pemahamannya sudah baik klo yang lain gimana? sekali lagi saya tidak mau berdebat ubtuk hal agama percuma karena kita pasti menyakini bahwa agama kita masing-masing yang benar, tapi berdiskusi dengan sesama pemeluk agama yang sama itu yang diinginkan oleh agama yang saya anut (muslim) alasannya… karena kita dari awal sudah berbeda toh.. pasti tidak akan ketemu titik temunya wong “bukunya” berbeda… buat saudaraku erianto anas apapun tulisan anda saya masi menerka-nerka isi hati dan tingkat kecerdasan anda….

Yo jelas namanya aja alex.. pasti suka dengan banyolan kaya gini… kan yang diomongin bukan agamanya…



kecenderungan orang yg fanatik dengan agama/kepercayaannya akan berkata bahwa agama dan kepercayaannyalah yang benar dengan sikap mudah menghakimi orang lain yang berbeda agama/kepercayaan bahkan dengan orang yang pendapatnya berseberangan dalam suatu kelompok internal.
yang aneh, adalah orang2 yang fanatik ini kadang tak tahu apa dasar mereka untuk memiliki sifat fanatik ini, entah kenapa semangat mereka sangat membara meski pemahamannya hanya dipermukaan saja.
Satu hal lagi, kecenderungan orang fanatik ini adalah ingin orang lain diluar agama/kepercayaan mereka mengikuti agama/kepercayaan mereka.

Tapi bagaimana orang lain mau mengikut mereka, perilaku mereka saja kadang tidak sesuai dengan kebenaran yang mereka percayai, ini bisa dilihat dari sikap, perkataan, kesaksian hidup, perilaku yang mereka jalani.

Bahkan, ilmu (pengetahuan) mereka tentang agama yang mereka percayai tidak sesuai dengan sikap hidup sehari-hari. Praktek keagamaannya mereka pun hanya dipermukaan saja, hanya sekitar ritual-ritual ibadah atau konsep-konsep agama yang hanya mampir di otak tapi tak menyentuh ke hati.
Fanatik, tapi tak sesuai dengan ajaran yang dianutnya, yang akhirnya adalah MUNAFIK.

Betul2 cerdas bang EA. Baripada debat kusir di artikel sebelumnya lebih baik buat artikel untuk menjelaskan dan ketahuan yang pada ngamuk2 nggak bisa bales komen lagi.
pandangan saya kekisruhan di artikel sebelumnya mencerminkan ternyata orang Indonesia belum siap berDEMOKRASI, tapi apakah kita harus menyerah? tentu tidak. dengan artikel2 seperti bang EA sebenarnyalah kita bisa belajar berdemokrasi.



Andy : mengenai urusan fanatik tidak cuma berlaku satu agama tapi semuanya… kebetulan saja anda berada di negara mayoritas penduduk muslim. Saya belum bisa menjamin seandainya anda tinggal di negara yang mayoritas penduduk agama yang anda anut (misalnya : keyakinan anda berbeda dengan saya) memiliki tolerasi yang tinggi. Pointnya adalah sebenarnya tugas kita masing2 mengingatkan teman2 yang berkeyakinan yang sama untuk meluruskan hal yang berlebihan tersebut (fanatik), diusahakan jangan menyinggung umat lainnya. OK…

Randi, emang siapa yang bilang fanatik itu berlaku di satu agama? anda malah tak membaca link yang saya berikan..
saya menangkap kalau anda orang yang cepat tersinggung dan menilai sesuatu tanpa membaca baik2……
anda juga seorang “pembela” yang baik padahal anda belum dalam memaknai sebuah tulisan….
harusnya, kita bisa mencoba sedikit merendahkan hati untuk bisa berbagi tanpa harus dimulai dengan sikap curiga terlebih dahulu.
Yang dibahas kan masalh fanatik, bukan masalah mayoritas dan minoritas bro…



@andy
mungkin tujuan anda baik, tetapi tempatnya kurang tepat..:)



mungkin agak menyimpang.. tapi umumnya fanatik di kalangan mayoritas yang sering bermasalah toh klo minoritas mah pasti adem2 saja kan?… saya tidak mencoba “membela diri” tapi meluruskan saja… plisss jangan menjelek2kan keyakinan lain…. marilah kita saling bertenggang rasa klo ada kesalahan mohon dimaafkan… kita berdiskusi dalam tataran berbangsa bukan dalam hal keyakinan masing2…. buatlah suasana yang damai ditengah kesusahan bangsa ini. OK…


“plisss jangan menjelek2kan keyakinan lain…”
—————
mas, siapa yang menjelek-jelekan agama orang lain?
kenapa anda menyimpulkan begitu?
maaf, anda mengaku baru masuk di Kompasiana meski selama ini mengamati, tapi pernahkah anda mengamati seluruh tulisan tentang agama di Kompasiana ini? mas Iqbal diatas menjadi saksi..
maksudku, pesan anda bagus untuk saling bertenggang ras…karena itulah maka aku bawa pesan tengang rasa…
tapi anda selalu langsung memberi “kesimpulan” tentang sesuatu….
kita memang harus saling menghormati….kita wujudkan itu…..



“plisss jangan menjelek2kan keyakinan lain…”
—————
mas, siapa yang menjelek-jelekan agama orang lain?
kenapa anda menyimpulkan begitu?
maaf, anda mengaku baru masuk di Kompasiana meski selama ini mengamati, tapi pernahkah anda mengamati seluruh tulisan tentang agama di Kompasiana ini? mas Iqbal diatas menjadi saksi..
maksudku, pesan anda bagus untuk saling bertenggang ras…karena itulah maka aku bawa pesan tengang rasa…
tapi anda selalu langsung memberi “kesimpulan” tentang sesuatu….
kita memang harus saling menghormati….kita wujudkan itu…..

Randi: saya kok bingung yang sensitif itu yang mana? lalu menurut anda tulisan mas EA yang menyinggung perasaan umat islam bagian yang mana?
agama saya islam tapi kok saya tidak tersinggung? apa saya salah?,



wuri:sori ternyata anda muslim yah… dari tadi saya ungkapkan tulisan mas EA ini memiliki makna yang terirat khusunya kritikan bagi yang fanatik (nabi juga g setuju yang fanatik loh) tapi dalam penulisannya diperlukan kehati2an… kan IQ dan EQ masing2 kita berbeda… begitu loh mbak….



hmmm…. saya paham maksud anda, berarti menurut anda masyarakat kita belum siap berdemokrasi karena tingkat kecerdasannya berbeda-beda, Betul begitu?
salam kenal tapi jangan panggil mbak ya..heheheh



@ wuri
maaf OOT, iya..karena demokrasinya gontok-gontokan

bukannya blom siap tapi masi butuh proses…. teman… salam kenal jg.

Kalau mas EA yg seiman saja muak apalagi saya yg tidak seiman, wuahhhh muak sekali. Makanya saya berharap otokritik mas EA ini bisa bikin si islam fanatik cooling down, eh ternyata malah nambah temperatur, hehehe.. Tapi saya yakin bahwa yg temperaturnya nambah ini hanya segelintir, yg sadar jauh lebih-lebih banyak. So, teruskan, menyadarkan teman adalah ibadah.

yaaa…ketahuan…


hehehe… ketahuan “belang” saya ya ? Nggak pernah lihat sebelumnya sih. Tapi masak rasa muak mau ditelan sih mas iqbal? Yg satu “saliro bagindo” saja dimnuntahkan kok, apalagi yg punya “saliro gudeg’ kaya saya ini.



hehehe…, aduh…aduh…
maaf…, bukan bermaksud menyinggung siapapun, tapi tulisan ini aja udah ditinggalin sama mas EA karena saking muaknya dia g balas komen2 yg ada lg di tulisan ini….
eh…, tulisannya malah tetep rame sama yang lainnya yg bales2an ngomen….
aduh…, mas EA terlalu sadis ni membuat tulisan karena mampu memikat byk orang…
saya bukan siapa2…, tp hanya ingin berbagi bahwa akan lebih baik bila kita ngeintropeksi diri sendiri sblum mengeintropeksi org lain…
mari sama2 bersikap lebih tenang dan dewasa….dalam menyikapi apapun….tetaplah menulis selama kita meyakini yang kita tulis itu bermanfaat bg orang lain….
sekali lg mohon maaf tidak ada sedikitpun maksud menyinggung siapapun…., hanya hati ini tergerak untuk ikut memberikan komentar…
semoga bermanfaat


Moga-moga ga bunuh diri… masih ada kesempatan taubat…Muslim fanatik justru lebih baik dari pada sesat fanatik
Yang tidak boleh itu sempit fanatik




Wuri: ok lah kita berdiskusi sehat demokrasi dalam hubungannya demokrasi beragama asal jangan menyinggung masalah sensitif toh khususnya mengenai akidah agama masing2… sekali lagi tingkat pemahaman kita berbeda-beda… masalah kecerdasan itu subyektif…

AGAMA SAYA ISLAM KOMUNIS

Diposting oleh re di 06.06 0 komentar
ATTENTION :
Semua entry di kategori "DEBAT AGAMA" adalah murni 100% copas dari blog nya Erianto anas, tanpa saya minta ijin dulu dari yang punya. Minta ijinnya belakangan ajah, soalnya dah ngebet pengen posting ,,,     ^ ^...copas ini utuh tanpa ada pengurangan dan penambahan, dan juga skalian sama komen-komennya. 
Yah, singkat kata,,siapain es batu buat ngompres kepala dan selamat baca.
 

Satu lagi saya luncurkan agama baru. Agama yang saya ciptakan sendiri untuk diri saya sendiri. Tanpa wahyu tanpa umat. Apakah boleh? Apa ada yang melarang?

Komunis, sejauh yang saya pahami adalah turunan dari kata komunal, yang artinya berkelompok. Berkomunitas. Karena itu bagi saya, komunis tidak selalu identik dengan Atheis. Seorang komunis bisa Atheis bisa juga tidak. Artinya seorang komunis adalah seorang yang berpaham hidup berkelompok. Hidup bersosial kemasyarakatan. Kebetulan dalam konteks Marxisme, Komunismenya Marxis adalah kelompok orang-orang yang menganut paham Atheis.

Kemudian aplikasi dari Komunisme Marxisme dalam kehidupan bernegara atau Pemerintahannya menerapkan sistem Sosialis. Dimana gagasan dasar Karlx Marx pada mulanya adalah untuk melawan kaum Kapitalis. Dimana hak milik dikuasai oleh kaum Kapital atau orang-orang yang bermodal. Marx melihat fenomena ini sangat tidak manusiawi. Kaum pemodal hanya menjadikan kaum miskin sebagai ladang untuk pengembangan modalnya. Kaum miskin ibaratnya hanya menjadi mesin produksi untuk melipatgandakan kekayaannya.

Karena itu Marx berpendapat, agar tercipta kesejahteraan bagi semua manusia secara merata, dan tidak terjadi lagi pertentangan antar kelas, antar kaum pemodal dengan kaum buruh, agar tidak terjadi lagikesenjangan sosial, maka ia meluncurkann gagasan sosialisnya. Dimana tidak ada individu yang berhak atas kekayaan yang diperolehnya secara mutlak. Setiap kekayaan adalah milik bersama untuk dikelola bersama. Untuk pada akhirnya juga bagi kesejahteraan bersama.

Hanya saja, begitu gagasan Marx ini diadopsi oleh Lenin, Marxisme dalam prakteknya berubah menjadi paham politik yang menindas rakyat. Sosialisme dalam prakteknya dalam sistem pemerintahan Lenin justru menjadi kedok untuk menguasai dan menghisap kekayaan rakyat. Dengan kata lain Sosialismenya Lenin ibarat ganti baju lama menjadi baju baru yang bernama Kapitalisme yang justru lebih kejam. Semua kekayaan rakyat dirampas menjadi milik penguasa, walaupun dalihnya adalah untuk kesejahteraan bersama.

Nah, inilah tafsir saya atas Komunis dan Sosialis.

Lalu kenapa saya menyatakan agama saya Islam Komunis?

Karena Islam, sejauh yang saya pahami juga menganut nilai-nilai hidup berkelompok. Nilai-nilai hidup bersama. Bukan hidup sendiri-sendiri. Bukan hidup seorang asketis. Bukan hidupnya seorang petapa. Yang melarikan diri dari keramaian. Dan itu dibuktikan oleh Nabi Muhammad sendiri. Muhamad di gua Hira bukan untuk menjalani hidup selamanya. Bukan untuk menghabisi hdupnya sebagi seorang petapa. Gua hira hanya sebagai tempat khalwat atau semedinya. Tapi begitu dia menerima Kebenaran (wahyu) dari Tuhan, dia turun gunung. Dia melebur dalam kehidupan sosial bersama umatnya.

Nah inilah yang saya maksudkan sebagai kunci nilai-nilai komunal dalam Islam. Nilai-nilai sosialis dalam Islam. Dimana konsep Islam secara sosial, hablum minannas, adalah kesejahteraan untuk seluruh umat manusia. Bahkan untuk sekalian alam. Artinya seorang Muslim sangat dikutuk jika menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri. Sehubungan dengan ini, Asghar Ali Enginer, seorang pemikir Islam Kontemporer Pakistan pernah menyatakan bahwa belumlah Islam seseorang jika ia bisa hidup tenang sementara tetangganya menderita kelaparan. Sementara orang disekitarnya tertindas. Sementara orang disekitarnya menderita kemiskinan.

Ini mengingatkan saya akan sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa jika seroang muslim membuat sebuah masakan, maka perbanyaklah kuahnya, sehingga minimal, kuanya itu juga bisa dibagi-bagikan untuk tetangganya. Secara simbolis itulah wujud kepedulian seorang Muslim secara sosial.

Dan secara formal, penubuhan dari nilai-nilai sosial seperti ini, terangkum dalam konsep ibadah zakat. Dimana melalui zakat itu terkandung makna bahwa Islam mengutuk seorang Muslim menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri. Karena secara Teologis, manusia tidak mempunyai hak milik atas apa saja. Segalanya hanyalah milik Tuhan semata. Termasuk dalam konteks ini soal kekayaan, dimana kekayaan itu adalah rezeki titipan Tuhan pada setiap manusia. Karena itu, sebagai titipan Tuhan, seorang muslim hanyalah sebagai agen penyalur atas setiap harta yang diperolehnya, untuk kemudian disalurkannya, untuk kemudian distribusikannya bagi kesejahteraan bersama seluruh umat manusia.

Sehubungan dengan ini saya teringat sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa kemiskinan bisa menyebabkan kekufuran. Kenapa? Karena kemiskinan, secara umum bisa membuat seseorang menjadi kalap. Lupa dan kilaf. Bisa menyebabkan seseorang menjadi gelap mata. Sangat rentan untuk berbuat kejahatan karena desakan kemiskinan yang menimpanya.

Nah, disinilah urgensinya konsep zakat sebagai pilar pemerataan kekayaan. Pemerataan hak milik. Pemerataan kesejahteraan.

Lebih kurang inilah penghayatan saya pribadi akan Islam Sosialis.
Islam Komunis.

Salam Islam Komunis!

 KOMENTAR-KOMENTAR

arifbisri mengatakan...
Waduh, Goyahnya sang IMAM... Kemarin bilang A (krislam) sekarang B (Islam komunis). Tatkala yang ditonjolkan adalah AKAL, maka hal demikian itu adalah PANTAS (WAJAR)... maka hati2 dengan "Tasydid" (setiap perbuatan/ucapan akan kembali pada PELAKU). Tetapi jika yang ditampilkan adalah HATI dan AKAL, akan berbeda ceritanya, antara statement satu dan yang lainya saling mendukung.

Untuk masalah keterangan (isi) yang disampaikan, tidak dapat dibantah. Dari situ pula, ajaran NERIMO ing PANDUM (menerima apapun yang diberi) oleh TUHAN diperbesar. Agar senantiasa dapat mengendalikan nafsu yang dipengaruhi AKAL.


AL-ISLAM-MODERN mengatakan...
TU...HAN.... kalau saya sendirian ber agamanya gimana ? Agama saya apa ya.. bisa enggak diberi nama ISLAM INDIVIDU, tapi kitabnya tetap AL QUR'AN.

AL...LAH.... mau ISLAM apa-apa saja terserah............yang penting yakin ISLAM SATU-SATUNYA AGAMA DARI ALLAH, Hukum & Pengabdiannya sesuai dengan Al Qur'an selesai.

Mau diberi nama Islam Gombal, Islam Abangan, Islam Liberal, Islam Sekuler, Islam Fanatik, Islam bang ernas, Islam modern, Islam Kampungan, dllnya...... oke-oke saja, semua hanya penamaan dari manusia, apalah artinya sebuah nama, cihui...suuuit...suiiit...

Bahasa kerennya ZAKATU nya hanya terpusat ke Sang pencipta (ALLAH SWT).

TUHAN SAYA ADALAH HANTU

Diposting oleh re di 06.00 0 komentar
ATTENTION :
Semua entry di kategori "DEBAT AGAMA" adalah murni 100% copas dari blog nya Erianto anas, tanpa saya minta ijin dulu dari yang punya. Minta ijinnya belakangan ajah, soalnya dah ngebet pengen posting ,,,     ^ ^...copas ini utuh tanpa ada pengurangan dan penambahan, dan juga skalian sama komen-komennya. 
Yah, singkat kata,,siapain es batu buat ngompres kepala dan selamat baca.
 
 

Pada mulanya Hantu dengan Tuhan hanya satu wujud dua nama. Tapi gara-gara pelajaran bahasa Indonesia, kedua kata ini diceraikan begitu saja secara sewenang-wenang.

Dalam kajian Semiotika, bahasa hanya sebuah penanda dari apa yang ingin ditandai. Ketika saya lahir, orang tua saya bebas memilih nama untuk menunjuk diri saya. Apapun nama yang dipilih, yang dimaksud tetap diri saya. Nama itu hanya sebagai penanda. Simbol. Lambang. Begitu saya diberi nama Erianto Anas, maka nama itu adalah untuk membedakan saya dari orang lain. Untuk menunjuk kedirian saya. Maka selain nama itu akan dianggap bukan saya. Itu artinya, tanpa disadari nama saya sekaligus juga berubah fungsi dari penanda menjadi yang ditandai. Dari simbol menjadi substansi. Dari bayang-bayang menjadi wujud asli. Seoalah-olah nama itu adalah diri saya sendiri. Padahal kenyataannya tidak.

Sebagai contoh apa yang terjadi di sini?

Saya dan anda memberontak. Selain mal praktek penyimpangan fungsi bahasa terjadi, di sisi lain kita sama-sama juga mengoyak konvensi bahasa yang tidak disadari secara bersama-sama seperti itu. Sebagian anda dan termasuk saya, juga menyebut saya dengan Ernas, EA, Setan Erianto Anas, si Penghina Islam, si Penjual Agama, si Penebar ajaran sesat, Si ayat-ayat setan, dan seterusnya. Semua nama ini juga merujuk pada diri saya.

Itu artinya kita sama-sama membentuk nama-nama baru untuk saya. simbol-simbol baru. Penanda-penanda baru. Tapi yang dimaksud tetaplah objek yang sama. Sosok yang sama. Orang yang sama.Yaitu saya. Inilah yang diistilahkan bahwa bahasa, atau kata, bersifat artbitrer. Bersifat sewenang-wenang. Seandainya nama Erianto Anas diberikan untuk kucing, untuk sebuah daerah, untuk nama jalan, juga bisa. Seandainya nama untuk merujuk diri saya digunakan Anas Erianto, Munir, Abas, Kucing, Setan, Iblis, juga bisa. Toh yang dimaksud tetaplah diri saya. Apapun namanya tidak menjadi masalah.

Itulah yang dikatakan bahasa atau nama-nama bersifat sewenang-wenang (arbitrer).

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, nama itu berselingkuh dengan yang dinamai. Antara nama saya dengan diri saya menjadi identik. Seolah-olah sudah menyatu. Dalam satu wujud yang tak terpisahkan. Dan proses itu terjadi melalui konvensi. Melalui kesepakatan sosial. Baik secara resmi maupun tidak. Baik secara tertulis maupun secara tersirat.

Inilah yang disebut oleh para Antropolog bahwa manusia adalah subjek pembentuk simbol-simbol (nama-nama). Dan ia bebas memilih simbol apa saja yang mereka inginkan.

Tapi di sisi lain, manusia sekaligus juga rentan terjebak ulah kreativitasnya sendiri dalam menciptakan simbol-simbol. Fungsi simbol itu bisa melampaui batasnya. Dari penanda menjadi petanda. Dari perujuk menjadi yang dirujuk itu sendiri. Dari nama menjadi yang dinamai itu sendiri. Dengan kata lain, terjadilah pemberhalaan terhadap nama. Pemberhalaan terhadap simbol. Manusia berhenti pada nama. Berhenti pada symbol. Padahal, pada mulanya nama atau simbol itu hanya sebagai jembatan untuk memahami apa yang hendak ditujunya. Untuk memahami substansi dari objek yang ditujunya.

Nah, kemana landasan berpikir ini akan kita bawa?
Bisa kemana saja. Dalam konteks tulisan ini, bisa dicontohkan pada Tuhan. Kata Tuhan adalah sebuah nama, sebuah simbol yang merujuk pada Sang Ada. Pada Being. Pada Causa Prima. Pada Misteri Jagat Raya. Pada sesuatu dibalik segala yang ada. Pada Sang Pencipta dan seterusnya.

Manusia, adalah makhluk yang berbahasa. Apapun bahasanya. Baik verbal, oral, tulisan, isyarat, gerak-gerik, suara hati. Semua itu pada hakikatnya adalah bahasa dalam arti luas. Sebuah media komunikasi manusia dengan diri sendiri dan alam. Sebuah media kontak relasional.

Manusia adalah mahkluk yang menciptakan bahasa. Meminjam istilah Heidegger, bahasa adalah rumah manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa. Tapi di sisi lain sekaligus manusia juga rawan tergelincir oleh bahasa yang mereka ciptakan sendiri. Yaitu memberhalakan bahasa itu sendiri. Memberhalakan simbol, memberhalakan lambang, memberhalakan kata-kata, dan memberhalakan nama-nama itu sendiri.

Lebih kurang itulah bahasa dalam kajian Semiotika sejauh yang saya pahami.

Apa itu Semiotika?
Maaf, bagi anda yang lapar definisi silahkan cari sendiri.

Lalu kenapa Tuhan sama dengan Hantu?
Anda bebas berpikir dengan menggunakan prinsip Semiotika ini.
Jangan lagi terjebak oleh bahasa. Oleh nama, oleh istilah dan sejenisnya.

Secara metaforis, hantu adalah sesuatu yang selalu mengusik kesadaran manusia. Sesuatu yang tidak jelas. Tidak berwujud. Tapi dalam imajinasi manusia ia Ada. Dan mesin majinasi manusia secara refleks akan bekerja membentuk lambang-lambang, simbol-simbol untuk menggambarkan Sang Hantu.

Nah bagaimana dengan Tuhan?
Apakah manusia pernah menemukan sosok Tuhan.
Apakah manusia pernah menemukan Wujud Tuhan?

Secara metaforis, Tuhan juga sesuatu yang selalu mengusik kesadaran manusia sepanjang sejarah peradaban manusia. Tuhan, diasumsikan sebagai sesuatu yang tak pernah terlihat. Sesuatu yang tak pernah diindra. Tapi dalam imajinasi manusia, ia Ada. Dan mesin majinasi manusia secara refleks juga bekerja membentuk lambang-lambang, smbol-simbol dan nama-nama untuk merujuk dan menggambarkan Sang Ada. Walau apapun nama yang digunakan manusia untuk melabeli Sang Ada tersebut.

Hati-hati. Jangan merujuk pada dogma kepercayaan.
Ini Filsafat bahasa. Kajian Semiotika.

Salam Tuhan-Hantu! 

KOMENTAR-KOMENTAR

xmaLcom mengatakan...
Onany berarti Syukur, Sabar, Tawakkal, dan Bahagia

Membebaskan Kata dari Makna Mungkinkah???

Ketika anda mendengar orang menyebut kata “onani”, apa yang terbayang dikepala anda. Pasti anda berfikir, itu berkaitan dengan hasrat birahi. Anda tidak salah. Memang, onany diartikan seperti itu oleh banyak orang. Masturbasy, sama saja. bedanya yang satu buat cowok kesepian dan yang satunya lagi buat cewek yang gak bisa menahan nafsu seksualnya. Akhirnya, dia melayani dirinya sendiri (selfservice).
Tetapi, disini beda. Di sini, onani yang dimaksud bukan soal seks atau semacamnya. Kok bisa. Ya, bisa. Kalau nggak percaya, tanya saja sama Sutarji Chazoum Bachri. Siapa tuh Sutarji. Memang, kalau anda tidak tertarik dengan puisi atau sastra, wajar anda tidak kenal Sutarji. Sutarji, dialah yang berjuluk “Presiden Penyair Indonesia. Apa kata Sutarji. “BEBASKAN KATA DARI MAKNA,” itulah maklumat Sutarji melalui puisi-puisi karyanya. Karena itu, nggak salahkan kalau ada yang mencoba membebaskan kata “ONANI” dari beban pengertian yang selama ini memberatkannya. “ONANI” selama ini telah divonis tidak bermoral, tidak pantas, bahkan kurang ajar. Kalau saja, kata “ONANY” bisa berbicara, dia pasti protes, kok gue dikatain seperti itu, kok gue dituduh ‘pemuas haram birahi’. “Gue malu, tau gak. Kejam banget sih lho,” mungkin “ONANY” akan protes seperti itu kalau andaikata sekiranya dia bisa ngomong. So, sekarang mari kita bebaskan “ONANY” dari beban berat “pengertian buruk” yang telah menghimpitnya selama ini. Lalu, Lho mau buat “ONANY” itu pengertiannya apa???!!! Naaaaaaaaah, di sini “ONANY” ama pacarnya itu yang namanya “MASTURBASY”, pengertiannya jadi laen sama sekali. Malah bertolak belakang. ONANY disini pengertiannya adalah suatu bentuk sikap mental seseorang dalam menghayati dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Maksudnya? Ilustrasinya, begini saja. Anda pasti pernah mendengar, membaca atau mungkin melihat lansung, ada orang yang sudah diberi oleh Tuhan banyak rezeki, kelebihan, ketenaran, kekayaan, tapi masih merasa kurang dan tidak pernah puas. Naaaaah, orang seperti itu tu, yang harus “ONANY.” Orang seperti itu, mestinya bisa membahagiakan dirinya sendiri dengan segala kekayaan dan kelebihan yang dimilikinya. Jangan suka ngiri, udah punya mobil tiga, tapi maaaasih aja ngegerutu liat tetangga bisa beli mobil satu aja. Atau yang seperti ini, mampunya cuma beli motor, tetapi dalam hati dan pikirannya selalu bilang, coba kalau gue bisa beli mobil, ngak bakalan gue kepanasan kayak gini. Sekali lagi, orang seperti itulah yang harus “ONANY.” OnaNy itu artinya : “Syukuri, nikmati dan berbahagialah dengan apa yang kita miliki”. Itulah pengertian “ONANY” yang gue maksud. Jadi OnaNy disini sama sekali nggak ada kaitannya dengan seks atau birahi. Nah, tu. Jelaskan bedanya dengan pikiran yang tadinya ada di benak you. thank’s

Anonim mengatakan...
semiotika itu filsafat semi-semi pake otak biar ngelitik. hehe
Tuhan bukan hantu dong om EA,

HANTU EMANG GA BISA DILIHAT???? bener....ga bisa...? lah film horor, majalah misteri ngambil modelnya dari mana, seabrek2 orang ngaku sudah lihat hantu..

hati2 dong ngambil komparasi ya om ya.. ayo bikin lebih bagus lagi tulisannya, nanti segera dikumpulkan setelah bel bunyi..


TUHAN TELAH MATI OLEH AL-QUR'AN

Diposting oleh re di 05.48 0 komentar
ATTENTION :
Semua entry di kategori "DEBAT AGAMA" adalah murni 100% copas dari blog nya Erianto anas, tanpa saya minta ijin dulu dari yang punya. Minta ijinnya belakangan ajah, soalnya dah ngebet pengen posting ,,,     ^ ^...copas ini utuh tanpa ada pengurangan dan penambahan, dan juga skalian sama komen-komennya. 
Yah, singkat kata,,siapain es batu buat ngompres kepala dan selamat baca.
 
 
Anda boleh bingung oleh judul tulisan ini. Boleh juga marah dalam hati. Tapi sebaiknya jangan sampai mengamuk (obat sakit jantung sekarang sudah mahal lho). Walaupun anda adalah seorang umat Islam pemuja Alquran. Walaupun anda seorang penjaga gawang atau satpam Alquran.

Tulisan ini tidak ada isinya. Kecuali hanya menjelaskan apa yang dimaksud oleh judul aneh ini. Atau mungkin oleh judul yang kurang ajar ini.

Okey, mari kita mulai.

Bukankah umat Islam gemar menyatakan bahwa Alquran tidak bisa dipahami secara serampangan? Tidak bisa dipahami secara harfiah. Ayat demi ayat dalam Alquran banyak mengandung hikmah tersembunyi. Banyak perumpamaan. Banyak simbol-simbol. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa untuk bisa memahami Alquran harus menguasai tata bahasa Arab. Harus menguasai ilmu tafsir. Harus dilengkapi oleh ilmu ini itu dan seterusnya. Singkat kata untuk memahami Alquran dibutuhkan waktu yang sangat lama. Sampai-sampai saya sendiri pernah dihardik oleh seseroang ketika disksusi tenang Alquran: “Hey…. Sampai habis umurmu, tidak akan tuntas kamu memahami Alquran”.

Lalu dengan siapa umat Islam bisa belajar mempelajari Alquran? Para sahabat bertanya pada Nabi. Para Tabiin bertanya pada para sahabat. Para tabi tabiin bertanya pada para tabiin. Begitulah seterusnya secara estafet sampai akhirnya pada generasi yang sudah menuliskan tafsirnya dalam bentuk buku. Mulai dari para Ulama, Mutakalimin, Teolog dan Cendikiawan Islam yang tersebar dalam sepanjang sejarah Islam.

Singkat cerita, dari dulu hingga sekarang, Alquran telah menyiksa umat Islam untuk bersusah payah memahami apa kenapa ada apa dan apa maksudnya dari ayat demi ayat dalam Alquran. Bahkan hingga hari ini tafsir demi tafsir atas Alquran terus saja ditulis oleh umat Islam.

Itu artinya apa?

Alquran bagaikan sebuah sisi berlian. Setiap sisi memantulkan banyak cahaya dan warna. Begitulah pancaran dari makna yang terkandung dalam ayat demi ayat Alquran. Sehingga lain Mufassir (penafsir Alquran) akan berbeda makna yang ditangkapnya. Meskipun sumbernya tetap sama.

Lalu mana penafsiran yang paling tepat atas Alquran? Tafsiran ulama mana? Buku tafsir karangan siapa? Dan apa pula ukurannya? Lagi-lagi umat Islam disiksa urat syaraf otaknya oleh Alquran.

Maka disusunlah berbagai metode tafsir. Bahwa tafsir yang benar adalah dengan menggunakan metode begini begitu. Sehingga muncullah beragam metode penafsiran terhadap Alquran. Ada tafsir bil ma’tsur, ada tafsir mawdhu’iy. Kemudian dikenal lagi istilah ada tafsir bercorak Sastra, tafsir bercorak Filsafat/Teologi, tafsir bercorak fiqh (hukum), tafsir bercorak tasawwuf. Belakangan juga ada istilah tafsir kontekstual, tafsir feminis, dan seterusnya.

Singkat kata, wacana tafsir Alquran tidak pernah henti sepanjang zaman. Sehingga Qurais Shihab, dalam bukunya Mukjizat Alquran, pernah menulis bahwa Alquran adalah kitab (buku) yang paling banyak dibaca manusia di dunia. Paling banyak dipuji, dikritik bahkan dihujat. Tapi pernahkah turun Hakim Tertinggi yang menghakimi semua penafsiran atas Alquran? Pernahkah Tuhan, yang mewahyukan Alquran turun tangan mengadili semua tafsir tersebut bahwa ini atau itulah tafsir yang benar?

Sang Pengarang telah Mati!

Inilah ucapan dari seorang Strukturalis Perancis, Rolland Barthes.

Ketika saya membaca sebuah tulisan, sebuah buku, saya akan memahaminya sesuai dengan kapasitas saya sendiri. Saya akan menangkap maknanya sesuai dengan kemampuan saya, dengan segala metode penafsiran yang saya kuasai. Dan setiap orang akan memahaminya dengan cara yang berbeda dan makna yang berbeda. Walaupun yang dibaca adalah tulisan dan buku yang sama. Tapi benarkah itu yang dimaksudkan oleh penulisnya? Hanya penulisnya yang tahu.

Jika penulisnya masih hidup, saya bisa bertanya langsung apa yang ia maksudkan dengan apa yang ia tulis. Tapi setiap penjelasannya tetap saja akan saya pahami dengan cara dan kapasitas yang saya miliki. Itu sebabnya dihadapan seorang dosen yang menjelaskan sesuatu akan berbeda pemahaman para mahasiswanya. Itu sebabnya dihadapan seorang orator, para pengkotbah dan para penceramah, akan berbeda pemahaman hadirin yang mendengarkannya. Padahal sumbernya sama.

Itu artinya apa?

Antara Si Penutur, Sang Pengarang, terjadi proses gravitasi makna. Saling tarik menarik makna. Saling membangun makna. Dalam hal ini, sebuah tulisan, sebuah tuturan, ibarat sebuah rumah yang terbengkalai. Dan pembacalah yang menyelesaikan bangunannya. Dan masing-masing pembaca akan melanjutkan bangunanya dengan bentuk yang berbeda. Dalam hal ini, sebuah tulisan, sebuah tuturan, ibaratnya hanya sebuah stimulus. Sebagai sumber inspirasi. Sebagai percikan bunga api kecil yang akan membakar pengembangan makna yang lebih berkembang bagi para pembacanya.

Nah, bagaimana dengan Alquran?
Pernahkah Tuhan menjelaskan apa makna ayat demi ayatnya pasca Kenabian Muhammad? Pernahkan Tuhan turun ke bumi menjelaskan apa makna Alquran setelah zaman Kewahyuan berakhir?

Sang Pengarang telah mati!

Tuhan telah mati dalam Alquran.
Jejak Tuhan yang tersisa di situ adalah huruf-huruf mati.
Dan pembacalah yang menghidupkannya kembali
Para penafsirlah yang menghidupkannya kembali.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan bahwa Alquran itu bisu (tidak bicara).
Tapi mausialah yang membuatnya bicara. Artinya manusialah yang membangun makna dan menghidupkannya. Dalam hati, dalam pikiran, dalam tingkah lakunya. Dalam operasinal hidup nyatanya sehari-hari.

Selesai.
Sebagai penulis tulisan ini sayapun telah mati!



Anonim mengatakan...
Dalam Kristen juga Tuhan membuat umat-Nya harus bekerja keras untuk memahami makna Tri-Tunggal. Konsep ini tidak ada secara eksplisit, sehingga harus disimpulkan secara implisit lewat ayat-ayat pendukung. Akhirnya, sikap yang dibuat orang Kristen, termasuk saya adalah: Tuhan tidak mungkin dipahami 100%. Kita terima konsep itu karena percaya, bukan karena tahu. Nah, setelah percaya, apa saya menjadi orang yang lebih baik bagi semua mahluk? Itu tantangannya. Saya kira pertanyaannya juga sama untuk orang Islam. Apakah tanpa memahami Alquran 100% bisa membuat mereka menjadi rahmat untuk semua mahluk? Saya pikir bisa, sehingga bumi ini menjadi lebih baik

Erianto Anas mengatakan...
Ya saya kira hikmah tulisan ini memang bisa dijadikan untuk semua agama sebenarnya, walaupun saya contohkan pada Alquran.

Apakah tanpa memahami Alquran 100% bisa membuat mereka menjadi rahmat untuk semua mahluk? Saya pikir bisa, sehingga bumi ini menjadi lebih baik

Ya memang bisa. Tapi semua umat bergama bahkan yang tidak beragama pun juga bisa menurut saya. Tergantung pribadi orangnya juga. Tidak tergantung pada agamanya apa.
TUHAN mengatakan...
Sebenarnya Aku gak perlu kalian cari, ngapain kalian repot belajar dari kitab suci? sampe berasap pun kalian baca kitab-kitab itu, dunia ini tak akan jadi lebih baik, percayalah pada kata-kataKu ini

mending kalian urus kerjaan, anak, istri, sawah, dst, dan Aku pun tak repot oleh ocehan kalian yang saban hari bertengkar soal siapa Aku, emangnya yg mau Aku urus kalian doang? mikir donk, galaksi aja yg segede gaban gak reseh kayak kalian. Apa perlu Aku kentutin planet kalian? hah?

Erianto Anas mengatakan...
Wuakakakakakaa........ komentar Tuhan benar-benar membuat tawa segar saya meledak hhhhhh.......!

Anonim mengatakan...
Wah lama gak mampir dah berjibun tulisan anda.

Ya benar tuhan yang anda tulis sudah mati dibunuh oleh para ulama. Ulama yang berlindung dibalik alQuran untuk membuat segala sesuatu terlihat rumit hanya untuk menunjukkan bahwa mereka punya kelebihan dibandingkan umatnya (su’udzon mode on). Pameo yang berlaku adalah kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.

Tapi kita tidak boleh berhenti pada protes atau mengeluh karena kita sudah mendirikan shalat, ingat salah satu indikator keberhasilan shalat adalah tidak mengeluh (alMaa’rij 70:19~22).

Mari kita buat perubahan. Kita posisikan alQuran sebagai petunjuk/instruction manual. Sebuah instruction manual harus betul2 difahami oleh setiap orang sesuai dengan kepentingannya. Contoh: Sebuah sepeda motor dibuat oleh pabrikan dilengkapi dengan petunjuk/instruction manual. Petunjuk itu terdiri dari bagian pengoperasian, perawatan, perbaikan dan sebagainya. Yang mengendarai (pengguna) harus memahami cara mengendarai sesuai dengan petunjuk yang dibuat. Yang memperbaiki (bengkel) harus memahami petunjuk perbaikan termasuk symptom nya agar bisa mengembalikan performa kendaraan seperti yang di design oleh pabrikan.

Begitu halnya alQuran sebagai petunjuk hidup harus difahami sesuai dengan peran yang dipilih oleh masing2 orang. Apakah mau memilih peran sebagai ummat biasa, orang yang berilmu (ulama), yang berilmu tinggi dan spesifik (ulul albab). Sebagai umat biasa perlu memahamai alQuran sesuai dengan kebutuhan standar hidupnya. Sebagai ulama agama perlu memahami alQuran yang lebih dari umat biasa dalam hal berkaitan dengan hukum tuhan dan kemasyarakatan. Sebagai ulama kedokteran perlu memahami alQuran lebih dari umat biasa berkaitan dengan bidang kesehatan. Begitu juga ulama2 lain seperti ulama fisika, biologi, ekonomi, astronomi, geologi dll.

Untuk memahaminya perlu belajar. Bagaimana cara belajarnya? Perhatikan bagaimana cara anak kecil belajar bicara. Tidak perlu belajar tata bahasa/grammar/nahu-sharaf, morfologi, phonetik segala macam terlebih dahulu tetapi langsung praktek, dan ditingkatkan sedikit demi sedikit sesuai dengan perkembangannya disesuaikan juga dengan kebutuhan. Orang yang mau jadi olahragawan pemahaman tentang bahasa ya sekedar cukup bisa berkomunikasi, tetapi dia akan mempelajari dan berlatih lebih tentang bidang oleh raga yang digelutinya demikian juga dengan pilihan2 yang lain.

Akan halnya alQuran bagi yang belum mampu ya gak usah pake nahu sharaf cukup buka alQuran, kamus bahasa Arab, kumpulkan terjemahan untuk membandingkan satu sama yang lain. Hadits dan tafsir digunakan sebagai referensi saja. Carilah petunjuk sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Ini untuk pemahaman sebagai umat biasa dengan persoalan2 umum. Kalau untuk persoalan2 spesifik atau lebih spesifik lagi tentu harus bertanya kepada ulama masing2 seperti masalah kesehatan harus bertanya kepada ulama (sarjana) kedokteran, masalah cuaca bertanya kepada ulama (sarjana) astronomi, masalah ekonomi bertanya kepada ulama (sarjana) ekonomi. Yang lebih spesifik lagi tentu bertanya kepada ulul albab (doktor) di bidang masing2. Tentu saja para ulama dan ulul albab itu sendiri mencari petunjuk dari alQuran sesuai dengan bidang masing2.

Wah kepanjangan ah .....
Maaf kalau tidak berkenan, ini hanya ungkapan fikiran saya saja, menanggapi tulisan anda.

Salam,

Awung

Anonim mengatakan...
Saya sebagai orang awam sama seperti anda bung er, tapi pengungkapan seperti itu perlu pemahaman penghargaan walaupun memang tidak ada larangan untuk itu. tapi saya yakin 1000 % anda dalam keadaan bingung menghadapi kehidupan ini (tanya pada hati anda!) karena saya juga yakin anda belum benar-benar mengenal diri anda lebih dari 100%.


Salam bingung,


Syafarudin Munthe
arifbisri mengatakan...
hehehe..

ALIF adalah ...
Tugas ALIF adalah....

Maz @Awung.

Saya pernah punya keinginan semacam itu, biar anak (masyarakat biasa) tidak berfikir seperti bapak (kepala masyarakat) dan sebaliknya. termasuk dari segi spiritualnya. Intinya tafsir tepat pada kedudukan manusia itu sendiri, tetapi setelah perjalanan waktu, ternyata pada waktu itu saya terlalu banyak keinginan. jika anda bisa, monggo dilanjutkan, nanti saya bisa minta copynya.... kalao boleh. Saya ikut mendukung.

Salam,

@TUHAN
Menjadi Insan kamil bukan berarti tidak boleh ngeblog lho maz.

Anonim mengatakan...
@arifbisri

"Saya pernah punya keinginan semacam itu, biar anak (masyarakat biasa) tidak berfikir seperti bapak (kepala masyarakat) dan sebaliknya. termasuk dari segi spiritualnya. Intinya tafsir tepat pada kedudukan manusia itu sendiri,...."

Saya cenderung untuk menggunakan kata analisa dibandingkan tafsir sebab tafsir sangat subyektif dan dipengaruhi oleh waktu, sedang analisa sifatnya ilmiah dan akan terus bekembang seiring dengan perkembangan ilmu itu sendiri.

"... tetapi setelah perjalanan waktu, ternyata pada waktu itu saya terlalu banyak keinginan. jika anda bisa, monggo dilanjutkan, nanti saya bisa minta copynya.... kalao boleh. Saya ikut mendukung."

Kedudukan alQuran adalah sebagai manual instruction kehidupan, kalau menginginkan kehidupan ini berjalan sesuai dengan design penciptanya ya masing2 harus membaca/mempelajari dengan teliti petunjuk tersebut. Bisa saja gak usah membaca tapi bertanya pada yang sudah pernah mempelajarinya ya akibatnya seperti kondisi sekarang pemahaman alQuran merupakan monopoli ulama tertentu.

Suatu analogi yang mungkin bisa menggambarkan: Untuk mengendarai sepeda motor yang kita beli bisa saja kita tidak membaca manual instruction nya tetapi bertanya kepada montir di bengkel, atau orang tua kita. Mereka akan menjelaskan sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki, yang mereka pelajari berdasarkan problema yang mereka pernah temukan. Ternyata itu tidak semuanya sesuai dengan problema yang kita hadapi apalagi design motor yang kita beli adalah design mutakhir yang belum ada sebelumnya. Keterangan mereka hanya menduga2 akibatnya bisa fatal.
Motor saya analogikan hidup kita, dan ulama/kyai saya analogikan sebagai montir.

Ini berbeda dengan ulama yang dimaksud alQuran (pemahaman saya). Ulama adalah orang yang berilmu tidak terbatas hanya ilmu agama tetapi sesuai dengan bidang masing2, jadi ada ulama agama, ulama matematika, ulama psikologi, ... mungkin ulama blogger juga. Mereka memang ahli dibidangnya dan mencari petunjuk dalam alQuran sesuai dengan keahlian masing2.

Suatu contoh: Yang kita dapat dari ulama agama bahwa semua ayat yang diawali dengan "robbana", "robbi", "allahuma", itu merupakan doa yang bisa dicomot begitu saja dan diamalkan.
Tetapi kajian ulama "para psikologi" ayat 2:286 itu bukan doa yang harus diamalkan karena doa ini negatif membuat orang malas bekerja keras sedangkan kajian ilmu para psikologi mengatakan bahwa doa memiliki energi positif ke arah yang sesuai dengan grand design. Dengan mengkorelasikan dengan ayat 8:53 dan 28:77 disimpulkan bahwa Allah menunjukkan bahwa ada orang yang berdoa seperti itu.

Allah memang memerintahkan untuk bertanya kepada ulama/ahli dzikir (sarjana), ulul albab (doktor) sesuai bidang masing2 bukan melimpahkan semua pertanyaan kepada ulama/kyai dalam pengertian yang berlaku pada umumnya.

Panjang lagi nih....

Salam,


Awung

Erianto Anas mengatakan...
@ Awung:

Wah lama gak muncul mas Awung. Sibuk yah?

-------

Yah saya setuju dengan penjabaran anda mas. Penafsiran anda luas dan relevan dengan kekinian. Ulama tidak lagi klaim pada mereka yang mengerti agama dalam pegertian tradisonal tapi secara kasar adalah orang yg mngerti hidup dengan segala cabang keilmuan. Mantap!

@ Anonim:

Jangan melempar kebingungan anda sendiri kepada saya. Lebih baik akui saja anda bingung menghadapi diskusi ini. Lihat tuh yang lain. Orang pada punya argumen anda cuma ngoceh.

Salam bingung

arifbisri mengatakan...
Maz @awung

"jadi ada ulama agama, ulama matematika, ulama psikologi, ... mungkin ulama blogger juga."

Sip. ULAMA dalam bidangnya masing2. Tapi menurut saya Matematika juga bagian dari agama, psikologi juga bagian dari agama, dokter spesialis juga bagian dari agama.
Anonim mengatakan...
@arifbisri

"... Tapi menurut saya Matematika juga bagian dari agama, psikologi juga bagian dari agama, dokter spesialis juga bagian dari agama."

Karena alQuran berfungsi juga sebagai furqon silahkan benturkan pendapat anda dengan keterangan yang didapat dari alQuran.
alQuran menyebut Islam sebagai DIIN yang padanan dalam bahasa Indonesia nya gak ada. Mungkin suatu keterpaksaan diin diterjemahkan sebagai agama. Konon agama berasal dari bahasa Sansakerta a = anti, gama = kekacauan.

Salam,


Awung


arifbisri mengatakan...
Maz @Awung

"Karena alQuran berfungsi juga sebagai furqon silahkan benturkan pendapat anda dengan keterangan yang didapat dari alQuran."

--hem.. kira2 pendapat saya yang mana yang harus dibenturkan dengan AlQur'an yang berfunsi AlFurqon ?


"AlQuran menyebut Islam sebagai DIIN yang padanan dalam bahasa Indonesia nya gak ada. Mungkin suatu keterpaksaan diin diterjemahkan sebagai agama"

Yups, betul. Dari situlah saya memakai dasar/istilah bahwa Keilmuan-keilmuan tersebut, BAGIAN dari agama.

Salam,
AL-ISLAM-MODERN mengatakan...
TU....HAN.....pada ribut lagi, gimana nih ?

AL......LAH...... biasa itu, yg penting siapa yakin dgn Al Qur'an, ya yakini dan pelajari sendiri sesuai kemampuan masing2, setelah paham ya jalankan (bahasa kerennya IMPLEMENTASIKAN) terhadap diri sendiri. Bagi yg enggak yakin ya silahkan saja, emangnya mau di bunuh atau di usir dari dunia ini ? Begitu juga yg belajar Al Qur'an sendiri emangnya tidak boleh ?. Al Qur'an di debatkan enggak bakalan selesai, selesainya nanti pada saat SA'A dilanjutkan dengan KIAMAT. Tapi kalau di diskusikan, ya kemungkinan mendekati kebenaran itu ada, tapi benar 100% enggak la. (Gitu aja mikirnya panjang banget)

Dien/di'nu di kamus arab - inggris = law and worshipping.

he...he...Islam saya Islam apa ya ? saya belajar Al Qur'an sendiri, ya bisa juga (menurut saya lho)
ah..ah...muji diri sendiri bolehkan, teruskan sobat..cuap...cuapnya...sampai BOsAN.


Anonim mengatakan...
@arifbisri

Pengertian Diin menurut alQuran (hasil analisa bukan penafsiran) adalah shirathal mustaqiim, jalan yang lurus/jalan bebas hambatan/high way, lengkap dengan sarana yang diperlukan untuk menuju kampung akhirat.

Analoginya begini:
Seandainya kita mau berangkat dari Jakarta ke Surabaya, dan kita belum pernah ke Surabaya, quot kita belum pernah ke akhirat juga, kita akan mencari jalan yang mana yang paling sesuai dengan rencana kita (shirathal mustaqiim). Kendaraan apa yang akan dipakai (teknologi transportasi). Peraturan/rambu2 apa yang harus diketahui dan dipatuhi (agama), peralatan komunikasi apa yang dibutuhkan (gadget), pengetahuan tentang daerah yang dilalui (geografi dan sosiologi), makanan apa yang harus dipersiapkan (teknologi makanan), obat2an apa yang harus dipersiapkan (kedokteran dan farmakologi), dan seterusnya.
Nah diin itu meliputi semuanya. Dari sini jelas perbedaan antara diin dan agama.

Innadinna i’ndallahi islam, diin di sisi Allah adalah Islam. Artinya Allah mengakui ada diin2 lain hanya yang sesuai dengan grand design adalah Islam.
Salam,

Awung

Anonim mengatakan...
@arifbisri

Dari yang anda tulis " ... Tapi menurut saya Matematika juga bagian dari agama, psikologi juga bagian dari agama, dokter spesialis juga bagian dari agama." Sedangkan yang saya dapat dari taddabur alQuran ternyata diin tidak bisa diterjemahkan sebagai agama seperti yang diartikan dalam kamus atau didefinisikan orang dalam wikipedia. Saya sudah memberikan analogi di atas untuk memberikan gambaran diin dan agama dan kedudukan ilmu dalam diin.

Tapi barangkali kalau berbeda pun tidak perlu dipersoalkan, kita sama2 belajar. Insyaallah kalau Allah sudah membukakan ilmu pengetahuan maka akan berbondong2 orang memasuki diin Islam, seperti yang diterangkan dalam surat 110 anNashr.

Salam,

Awung

Anonim mengatakan...
Sebagai penulis tulisan ini sayapun telah mati!

kok kalo udah mati mas Erianto masih nimpalin komen lagi dong... bohong dong (kata anak gw yg 5 SD)

makanya jangan maen telen aja,
Kalau penulisnya al Qur'an masih bisa jawab, ya masih hidup dong..

berfilsafat itu bikin penyakit (wuits jgn marah dulu -motonya Erianto anas), mendingan dengerin musik, kata L. Van Beethoven, Music is the highest revelation of pholosphy (boleh dong sombong jreng.jreng..jreng..) Yang jago musik jago filsafat, yang dengerin belajarnya bisa seneng.. makanya kalau dengerin orang qiraah, alamak sembuh luka hatiku...

arifbisri mengatakan...
maz @Awung. Khusus untuk anda, seumpama saya ganti, kalimatnya bahwa "Matematika bagian dari DIIN ISLAM, biologi bagian dari DIIN ISLAM dst". Bagaimana ?

Beberapa waktu yg lalu saya diajak temen yang lagi mensosialisasikan hal itu di pondok2 pesantren agar pelajaran tersebut tidak dianggap sebagai pelajaran UMUM, melainkan pelajaran (Bagian dari) ISLAM.

Sebagai salah satu contoh, santriwati yang lagi haid, harus bertanya pada sang ustadah, lebih cocoknya bertanya pada dokter spesialis kandungan = ulama dibidang kedokteran spesialis kandungan. dst.

Tapi seumpaman berbeda juga gpp, it's ok. Saya sangat menghargai. bila perlu dan diizinkan saya ikut belajar dg anda.


Anonim mengatakan...
@arifbisri

"...Khusus untuk anda, seumpama saya ganti, kalimatnya bahwa "Matematika bagian dari DIIN ISLAM, biologi bagian dari DIIN ISLAM dst". Bagaimana ?..." Yup, karena diin tidak identik dengan agama, diin melingkupi semuanya dan belum ada padanan yang pas dalam bahasa Indonesia.

Dari komentar2 anda saya menilai (maaf), pendalaman anda terhadap alQuran tidak bisa diremehkan karena itu saya berharap bahwa anda juga mensosialisasikan (minimal menggunakannya sendiri) istilah2 yang benar terutama bagi orang2 yang juga mempercayai dan menggunakan alQuran sebagai petunjuk/manual instruction.

Mari kita sama2 mencari atau lebih praktisnya menjadikan diri kita sendiri orang yang dikehendaki sebagaimana yang dimaksud pada ayat alBaqoroh 269: "Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

Salam,


Awung

arifbisri mengatakan...
Maz@awung, Alhamdulillah.

Semoga tetap Sabar dan Istiqomah dalam menjalankan Al-Qur'an. Amiin. Dengan tanpa melupakan HUKUM ALLAH (Bismillahi) yang bertujuan untuk mengasihi dan menyayangi(irrohmaan irrohiimi).

salam,.

Anonim mengatakan...
wuich ..takutku kalo mas anas mati
keuntungan muncul lg dilaman bwh
berarti msh hdp he he
mas... jgn mati dulu... bentar lg natalan
kemana nih rencana ?
 

BIG BLOG OF HOAX Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez